(screenshoot youtube)
JAKARTA - Uji ketangguhan motor listrik kembali dilakukan. Kali ini, Polytron Fox 350 diuji langsung di jalur menantang menuju Puncak, Bogor, dengan beban ekstrem mencapai 180 kilogram. Hasilnya? Motor listrik ini menunjukkan performa yang cukup mengejutkan, terutama di tanjakan panjang dan curam.
Pengujian dimulai dari kondisi baterai penuh 100 persen dengan odometer sekitar 400 km. Rute yang dipilih bukan jalur biasa, melainkan perjalanan sejauh kurang lebih 50 km melewati Tajur hingga Gadog sebelum akhirnya menanjak ke kawasan Puncak. Dalam perjalanan awal sejauh 32 km, baterai tersisa 57 persen. Angka ini menunjukkan konsumsi daya yang cukup besar, dipengaruhi oleh bobot pengendara dan karakter jalan yang didominasi tanjakan.
Performa Tanjakan: Mode S Jadi Andalan
Saat memasuki tanjakan Puncak, perbedaan mode berkendara terasa signifikan. Mode D yang lebih hemat energi ternyata kurang bertenaga saat menghadapi tanjakan panjang. Sebaliknya, mode S memberikan dorongan tenaga lebih besar.
Baca Juga: Review Polytron Fox 350 Setelah 350 Km: Murah, Kencang, Tapi Ada Kekurangan yang Wajib Diketahui!
Pengendara mengakui bahwa saat berpindah ke mode S, tenaga motor terasa “terbuka” dan mampu melibas tanjakan dengan lebih mudah. Namun konsekuensinya, baterai terkuras lebih cepat. Dalam satu sesi tanjakan, penggunaan mode S mampu mengurangi sekitar 4 persen daya baterai.
Meski begitu, motor tetap stabil dan bahkan bisa digunakan dengan fitur cruise control saat menanjak, sesuatu yang jarang ditemui pada kendaraan listrik di kelasnya. Hal ini menjadi nilai tambah bagi Polytron Fox 350 dalam hal kenyamanan berkendara.
Indikator Panas Muncul, Tapi Tetap Stabil
Selama perjalanan menanjak panjang, sempat muncul indikator “M” yang diduga menandakan suhu motor atau controller meningkat. Namun menariknya, indikator tersebut tidak memengaruhi performa kendaraan.
Motor tetap mampu melaju normal tanpa penurunan tenaga. Ini menunjukkan sistem manajemen panas pada Polytron Fox 350 cukup baik, setidaknya dalam kondisi pengujian ini. Pengendara bahkan tetap bisa menyalip kendaraan lain di tanjakan tanpa hambatan berarti.
Konsumsi Baterai dan Strategi Charging
Setelah melakukan pengisian daya di PLN Cipayung hingga 88 persen, perjalanan dilanjutkan menuju Puncak. Saat tiba di Puncak Pas, baterai tersisa sekitar 41 persen. Artinya, perjalanan menanjak dari titik pengisian menghabiskan hampir setengah kapasitas baterai.
Baca Juga: Polytron Fox 350 Resmi Direview, Motor Listrik Ini Disebut “Fox Air yang Sebenarnya”, Ini Bedanya!
Namun saat perjalanan menurun menuju Cipanas, terjadi fenomena regenerative braking yang menambah sekitar 1 persen daya baterai. Meski kecil, fitur ini tetap memberikan efisiensi tambahan.
Pengendara kemudian memutuskan untuk kembali mengisi daya saat baterai berada di kisaran 30 persen. Strategi ini penting mengingat jalur berikutnya masih melibatkan tanjakan yang cukup ekstrem.
Kenyamanan dan Kesimpulan
Dari sisi kenyamanan, Polytron Fox 350 dinilai cukup ergonomis untuk perjalanan jauh. Posisi berkendara nyaman, bahkan untuk pengendara dengan tinggi 179 cm. Bagian dek tengah juga cukup luas untuk membawa barang tambahan.
Baca Juga: Polytron Fox 350 Resmi Diuji, Harga Murah Rp15,5 Juta tapi Performa dan Jarak Tempuh Bikin Kaget!
Secara keseluruhan, motor ini dinilai mampu menangani beban berat hingga 180 kg tanpa kendala berarti. Tenaga cukup untuk tanjakan, terutama jika menggunakan mode S. Meski konsumsi baterai tergolong boros dalam kondisi ekstrem, performanya tetap bisa diandalkan.
Uji coba ini membuktikan bahwa motor listrik seperti Polytron Fox 350 bukan sekadar kendaraan perkotaan, tetapi juga mampu menghadapi medan berat seperti jalur Puncak. Dengan catatan, pengguna harus cermat dalam mengatur mode berkendara dan manajemen baterai.
Editor : Dyah Wulandari