JAKARTA - Uji tanjakan motor listrik kembali menarik perhatian pecinta otomotif Tanah Air. Kali ini tiga motor listrik populer di Indonesia, yakni Polytron Fox R, Gesits, dan Alfa One diuji kemampuan menanjaknya di kawasan Caringin Tilu, Bandung, dengan beban dua penumpang berbobot total sekitar 152 kilogram.
Pengujian tersebut dilakukan dalam format “Ultimate Battle” untuk melihat performa asli motor listrik saat menghadapi tanjakan ekstrem. Jalur yang digunakan memiliki panjang sekitar 290 meter dengan tingkat kemiringan mencapai 30 persen di beberapa titik.
Dalam pengujian ini, seluruh motor menggunakan rider dan pembonceng yang sama agar hasilnya lebih adil. Pengendara memiliki bobot 78 kg dan pembonceng 74 kg. Selain uji time attack atau catatan waktu menuju garis finis, motor juga diuji kemampuan stop and go di tanjakan curam.
Polytron Fox R dan Gesits berhasil menuntaskan tantangan berat tersebut. Sementara Alfa One harus menyerah sebelum mencapai garis finis.
Polytron Fox R dan Gesits Berhasil Taklukkan Tanjakan
Pengujian dimulai dengan tantangan menanjak dari titik start menuju finis yang berada di atas bukit. Motor diuji seberapa cepat mencapai garis akhir dalam kondisi boncengan dua orang.
Hasilnya, Gesits menjadi motor tercepat dengan catatan waktu 48 detik. Sementara Polytron Fox R mencatatkan waktu 49 detik atau hanya terpaut satu detik lebih lambat.
Meski kalah tipis dari Gesits, performa Polytron Fox R dinilai cukup impresif. Terutama karena motor listrik tersebut mampu mempertahankan tenaga saat sudah mulai berjalan di tanjakan.
“Di awal memang terasa berat, tapi setelah rolling tenaganya mulai keluar,” ujar penguji dalam video tersebut.
Sebaliknya, Gesits dinilai lebih responsif sejak awal tarikan. Motor langsung melaju tanpa hambatan berarti meski membawa beban lebih dari 150 kilogram.
Alfa One Gagal Menyelesaikan Tantangan
Berbeda dengan dua rivalnya, Alfa One gagal mencapai garis finis. Motor disebut kehilangan tenaga saat menghadapi tanjakan tajam sebelum tikungan.
Pengendara akhirnya diminta berhenti demi menghindari kerusakan lebih lanjut pada motor. Penguji juga sempat mengingatkan agar rider menghentikan pengujian jika muncul bau gosong atau gejala overheat.
“Kalau sudah tidak kuat jangan dipaksa,” kata penguji sebelum tes dimulai.
Kegagalan Alfa One menjadi perhatian tersendiri karena sebelumnya motor tersebut masih mampu menanjak ketika digunakan sendirian. Namun tambahan bobot pembonceng membuat performanya turun drastis.
Uji Stop and Go Jadi Tantangan Berat
Selain time attack, pengujian juga menghadirkan tantangan stop and go. Dalam simulasi ini, motor harus berhenti di tengah tanjakan lalu kembali melaju dari posisi diam.
Polytron Fox R dan Gesits kembali berhasil melewati tantangan tersebut. Gesits mencatatkan waktu sekitar 1,85 detik untuk kembali melaju setelah berhenti.
Sementara Alfa One kembali gagal bergerak saat posisi berhenti di tanjakan. Motor terlihat kesulitan menghasilkan tenaga awal untuk kembali melaju.
Momen itu bahkan sempat memancing gelak tawa tim penguji karena motor tidak bergerak meski tuas gas sudah diputar penuh.
Motor Listrik Dinilai Cocok untuk Perkotaan
Meski hasil pengujian menunjukkan perbedaan performa, penguji menilai ketiga motor listrik tersebut pada dasarnya dirancang untuk kebutuhan perkotaan, bukan medan ekstrem seperti tanjakan curam Caringin Tilu.
Karena itu, hasil pengujian ini lebih menjadi gambaran kemampuan maksimal motor listrik saat menghadapi kondisi berat.
Selain tiga motor tersebut, sebenarnya ada satu motor lain yang dijadwalkan ikut pengujian, yakni Davigo Dragon. Namun motor batal ikut setelah mengalami kendala teknis saat sesi prakualifikasi sehari sebelumnya.
Menurut pengakuan pemilik, komponen belt motor diduga mengalami kerusakan akibat dipakai menanjak dengan kondisi boncengan.
Hasil uji ini pun memancing diskusi di kalangan pengguna motor listrik. Banyak yang mulai membandingkan kemampuan torsi, akselerasi, hingga daya tahan motor listrik lokal untuk penggunaan harian maupun medan menantang.
Editor : Dyah Wulandari