Radar Tulungagung - Tren penggunaan motor listrik terus meningkat di Indonesia, terutama karena harga yang semakin terjangkau. Salah satu yang banyak diminati adalah motor listrik murah di kisaran Rp5 jutaan. Namun, di balik harganya yang ramah kantong, muncul berbagai kekurangan motor listrik murah yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli.
Kekurangan motor listrik murah ini mulai terungkap setelah penggunaan sejauh ratusan kilometer. Pengalaman pengguna menunjukkan bahwa meski hemat biaya operasional, ada sejumlah aspek teknis yang masih menjadi catatan penting.
Kekurangan motor listrik murah paling terasa terletak pada sektor baterai, performa, hingga kualitas material. Hal ini menjadi wajar mengingat harga jualnya jauh di bawah motor konvensional berbahan bakar bensin.
Indikator Baterai Kurang Akurat
Salah satu kekurangan utama motor listrik murah adalah indikator baterai yang tidak akurat. Dalam beberapa kasus, indikator di speedometer masih menunjukkan kondisi penuh, namun motor tiba-tiba kehabisan daya di tengah perjalanan.
Masalah ini cukup krusial karena dapat mengganggu mobilitas pengguna. Solusi yang sering dilakukan adalah memasang voltmeter eksternal untuk memantau kondisi baterai secara lebih real-time dan akurat.
Baca Juga: 7 HP 2 Jutaan Terbaik April 2026 Harga 2,5–2,9 Juta: AMOLED 144 Hz, 5G, Kamera 108 MP!
Umur Baterai Jadi Biaya Tambahan
Meski tidak membutuhkan bensin dan minim perawatan rutin, motor listrik tetap memiliki biaya tersembunyi. Kekurangan motor listrik murah berikutnya adalah umur baterai yang terbatas.
Baterai jenis SLA yang umum digunakan hanya bertahan sekitar 1,5 hingga 2 tahun. Setelah itu, pengguna harus mengganti dengan biaya sekitar Rp1 hingga Rp2 jutaan. Artinya, dalam jangka panjang tetap ada pengeluaran yang perlu disiapkan.
Jika menggunakan baterai lithium, umur pakai memang lebih panjang, tetapi harganya jauh lebih mahal. Ini menjadi pertimbangan penting bagi pengguna yang ingin benar-benar hemat.
Kecepatan Terbatas
Kekurangan motor listrik murah juga terlihat dari sisi performa, khususnya kecepatan. Rata-rata motor listrik di kelas ini hanya mampu melaju hingga 50 km/jam.
Kecepatan tersebut sebenarnya cukup untuk penggunaan di jalan perumahan atau desa. Namun, ketika digunakan di jalan raya, performa ini terasa kurang karena kalah cepat dibanding kendaraan lain.
Beberapa pengguna bahkan merasa tidak nyaman karena sering diklaksoni akibat dianggap menghambat lalu lintas. Untuk mengatasi hal ini, ada yang melakukan modifikasi pada controller, meski membutuhkan biaya tambahan dan keahlian teknis.
Build Quality Seadanya
Dari segi build quality, kekurangan motor listrik murah cukup terlihat jelas. Material yang digunakan umumnya berbahan plastik dengan kualitas standar.
Saat digunakan di jalan tidak rata, sering muncul suara berisik dari bagian bodi atau komponen tertentu. Suspensi juga dinilai kurang optimal, terutama di bagian depan yang terasa keras dan kurang nyaman.
Meski demikian, kondisi ini masih dianggap wajar mengingat harga motor yang sangat terjangkau.
Spare Part Sulit Didapat
Masalah lain yang cukup krusial adalah ketersediaan suku cadang. Kekurangan motor listrik murah ini sering dikeluhkan pengguna karena spare part tidak selalu mudah ditemukan di pasaran.
Banyak komponen yang harus dicari secara online atau bahkan dimodifikasi dari motor lain yang serupa. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri, terutama jika terjadi kerusakan mendadak.
Masih Layak Dibeli?
Meski memiliki berbagai kekurangan, motor listrik murah tetap menjadi pilihan menarik bagi masyarakat. Dengan harga sekitar Rp5–6 jutaan, pengguna sudah mendapatkan kendaraan yang hemat energi dan ramah lingkungan.
Selama digunakan untuk kebutuhan jarak dekat dan dalam kondisi jalan yang tidak terlalu ekstrem, motor ini masih tergolong layak. Apalagi sebagian kekurangan yang ada masih bisa diatasi dengan solusi sederhana.
Pada akhirnya, keputusan membeli kembali bergantung pada kebutuhan dan ekspektasi pengguna. Jika mencari kendaraan murah untuk mobilitas ringan, motor listrik ini masih bisa menjadi opsi menarik di tahun 2026.
Editor : Maylanni Diana Fitri