Radar Tulungagung – Motor listrik kini semakin banyak digunakan sebagai kendaraan harian karena dianggap lebih hemat dan praktis dibanding motor bensin. Salah satu yang cukup populer di kalangan pengguna perkotaan adalah Yadea G6, motor listrik bergaya premium dengan performa yang cukup menarik.
Seorang pengguna Yadea G6 membagikan pengalamannya setelah memakai motor listrik tersebut selama kurang lebih delapan bulan dengan jarak tempuh hampir 4.000 kilometer.
Dalam ulasannya, pengguna mengaku cukup puas dengan performa Yadea G6. Meski ada beberapa kendala yang sempat muncul, motor listrik ini tetap dianggap nyaman dan layak dipakai untuk mobilitas sehari-hari.
“Selama delapan bulan ini keluhannya ada, tapi enggak terlalu banyak,” ujarnya.
Komstir Sempat Berat dan Ban Bawaan Licin
Keluhan pertama yang dirasakan pengguna ada pada bagian komstir yang sempat terasa berat saat dikendarai.
Awalnya ia mengira kondisi tersebut memang bawaan motor. Namun setelah diperiksa dan dilakukan servis, setang motor akhirnya kembali terasa ringan dan nyaman digunakan.
Selain itu, ban bawaan Yadea G6 juga dianggap terlalu licin sehingga pengguna memutuskan menggantinya menggunakan ban Michelin untuk roda depan dan belakang.
Menurutnya, penggantian ban cukup penting demi meningkatkan kenyamanan dan keamanan saat berkendara, terutama di jalan licin.
“Ban bawaannya licin, jadi mau enggak mau harus ganti,” katanya.
Kampas Rem Sudah Diganti Sekali
Selama delapan bulan pemakaian, pengguna juga sudah melakukan penggantian kampas rem depan karena mulai menipis.
Meski demikian, secara keseluruhan biaya perawatan motor listrik ini tetap dianggap jauh lebih hemat dibanding motor bensin karena tidak memerlukan penggantian oli maupun servis rutin mesin.
Baterai Pernah Kembung Karena Kesalahan Pengisian
Salah satu masalah terbesar yang sempat dialami pengguna adalah kondisi baterai yang mengembung.
Namun ia mengakui masalah tersebut terjadi akibat kesalahan penggunaan saat proses charging.
Pengguna mengaku sering melakukan pengisian daya terlalu lama tanpa jeda. Bahkan baterai sempat terus dicas meski indikator sudah menunjukkan penuh.
Akibatnya, baterai mengeluarkan bau panas hingga akhirnya mengalami pembengkakan.
“Pas dicek ternyata sudah mengembung,” ungkapnya.
Setelah itu, motor dibawa ke bengkel resmi di kawasan Pantai Indah Kapuk. Proses klaim baterai memakan waktu sekitar 14 hari hingga akhirnya diganti dengan baterai baru.
Kecepatan Sedikit Turun Setelah Ganti Ban
Setelah menggunakan baterai baru dan mengganti ban, pengguna merasa performa kecepatan motor sedikit berubah.
Sebelumnya Yadea G6 mampu mencapai kecepatan sekitar 70 km/jam di jalan lurus. Namun setelah memakai ban baru yang lebih besar, kecepatan maksimal kini hanya berada di kisaran 65 km/jam.
Meski demikian, angka tersebut masih dianggap wajar karena spesifikasi resmi Yadea G6 memang hanya mengklaim kecepatan maksimal sekitar 60 km/jam.
“Masih oke lah, masih di atas klaim,” ujarnya.
Tarikan Halus dan Nyaman Dipakai Harian
Dalam penggunaan harian, Yadea G6 disebut memiliki karakter tarikan yang halus dan tidak terlalu menyentak.
Pada mode gear pertama, motor masih mampu melaju hingga sekitar 47 km/jam. Sedangkan di mode kedua, kecepatan bisa mencapai sekitar 61 km/jam meski kondisi jalan tidak terlalu mulus.
Pengguna juga menilai kaki-kaki motor masih nyaman digunakan setelah delapan bulan pemakaian. Hanya saja, karakter suspensi depan teleskopik masih terasa sedikit memantul saat melewati jalan bergelombang.
Meski begitu, kondisi tersebut dianggap masih wajar untuk motor listrik di kelasnya.
Dinilai Sangat Worth It
Secara keseluruhan, pengguna menilai Yadea G6 masih sangat layak dipilih sebagai kendaraan harian.
Selain hemat biaya operasional, motor listrik ini juga dianggap praktis karena pengguna tidak perlu membeli bensin, mengganti oli, maupun melakukan servis mesin secara rutin.
“Worth it banget, enak pakai motor listrik enggak usah isi bensin dan ganti oli,” katanya.
Dengan biaya perawatan yang minim serta kenyamanan berkendara yang cukup baik, Yadea G6 dinilai cocok untuk pengguna perkotaan yang ingin beralih ke kendaraan listrik.
Editor : Maylanni Diana Fitri