Radar Tulungagung – Perdebatan soal memilih mobil listrik atau mobil bensin semakin ramai di Indonesia. Di tengah banjir model kendaraan elektrifikasi dari berbagai merek global, pakar otomotif Indonesia Fitra Eri justru mengungkap fakta mengejutkan soal masa depan industri otomotif nasional.
Menurut Fitra Eri, perkembangan mobil listrik ternyata jauh lebih cepat dibanding prediksi banyak pihak, termasuk dirinya sendiri. Pernyataan itu menjadi sorotan karena selama ini transisi kendaraan listrik diperkirakan berlangsung bertahap hingga 2030.
Kini, dominasi merek asal China membuat pabrikan Jepang dan Eropa mulai kelabakan menghadapi perubahan pasar otomotif global. Kondisi tersebut ikut memengaruhi tren mobil listrik di Indonesia yang semakin agresif dalam dua tahun terakhir.
“Mobil China sekarang bukan cuma murah, tapi juga punya fitur melimpah, kualitas bagus, dan teknologi canggih,” ungkap Fitra Eri dalam ulasannya.
Baca Juga: 5 HP Samsung Galaxy A Turun Harga 2026, Galaxy A56 hingga A57 Jadi Incaran Baru Pecinta Smartphone
Pabrikan Jepang dan Eropa Mulai Tertekan
Fitra Eri menjelaskan, sebelumnya produsen otomotif besar dari Jepang dan Eropa merasa transisi menuju mobil listrik masih berjalan santai. Mereka percaya perubahan penuh ke kendaraan listrik baru akan terjadi beberapa tahun mendatang.
Namun situasi berubah drastis ketika merek-merek China masuk dengan strategi agresif. Mereka menawarkan mobil listrik dengan harga kompetitif tetapi memiliki fitur premium yang sebelumnya identik dengan mobil mahal.
Fenomena itu bahkan membuat sejumlah produsen besar melakukan langkah ekstrem. Salah satunya adalah keputusan Porsche yang dikabarkan mengubah strategi elektrifikasi dan kembali fokus pada mesin bensin untuk beberapa model.
Menurut Fitra Eri, kekuatan industri otomotif China berasal dari empat faktor utama. Pertama, persaingan domestik yang sangat ketat sehingga inovasi berkembang cepat. Kedua, dukungan penuh pemerintah melalui berbagai insentif. Ketiga, perekrutan talenta terbaik dunia. Keempat, kapasitas produksi raksasa yang sulit disaingi negara lain.
Baca Juga: HP Samsung Murah 2026 Makin Diburu, Layar 120Hz dan Baterai Jumbo Jadi Andalan
Regulasi Pemerintah Jadi Penentu Masa Depan Mobil Listrik
Di Indonesia, Fitra Eri menilai masa depan mobil listrik bukan hanya ditentukan teknologi, tetapi juga kebijakan pemerintah yang konsisten.
Ia mencontohkan perubahan aturan investasi kendaraan listrik yang dinilai membuat pelaku industri kebingungan. Sebelumnya, produsen diwajibkan membangun pabrik terlebih dahulu sebelum memperoleh insentif.
Namun aturan kemudian berubah. Kini produsen cukup berkomitmen membangun pabrik dalam beberapa tahun ke depan untuk memperoleh fasilitas insentif lebih cepat.
Kondisi itu dinilai memunculkan pertanyaan dari investor lama yang sudah lebih dulu menanamkan modal besar di Indonesia.
“Industri otomotif itu investasi jangka panjang dengan nilai ratusan triliun rupiah. Investor butuh kepastian hukum,” jelasnya.
Infrastruktur Jadi Kendala Besar Mobil Listrik
Meski popularitas mobil listrik terus naik, Fitra Eri menegaskan bahwa penetrasi kendaraan listrik di Indonesia sebenarnya masih kecil. Pangsa pasarnya bahkan disebut belum mencapai 10 persen dari total pasar otomotif nasional.
Penyebab utamanya adalah masalah infrastruktur pengisian daya yang belum merata di seluruh Indonesia.
Di kota besar seperti Jakarta, penggunaan mobil listrik dinilai jauh lebih nyaman karena stasiun pengisian daya mulai banyak tersedia. Pengguna juga mendapat keuntungan bebas aturan ganjil genap.
Namun situasi berbeda dirasakan masyarakat daerah yang masih kesulitan menemukan fasilitas pengisian baterai.
Karena itu, Fitra Eri menilai pembangunan infrastruktur charging station menjadi pekerjaan rumah terbesar pemerintah jika ingin mobil listrik benar-benar diterima seluruh masyarakat Indonesia.
Hybrid Dinilai Jadi Solusi Paling Realistis
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Fitra Eri justru menilai mobil hybrid sebagai pilihan paling ideal untuk kondisi Indonesia saat ini.
Mobil hybrid dianggap mampu menghadirkan efisiensi bahan bakar tanpa membuat pengguna khawatir soal pengisian daya baterai saat bepergian jauh.
“Hybrid itu jalan tengah paling masuk akal. Irit dapat, fleksibel juga dapat,” katanya.
Mobil hybrid juga dinilai cocok untuk masyarakat yang sering bepergian antarkota karena tetap menggunakan mesin bensin sebagai sumber tenaga utama ketika baterai habis.
Sementara itu, mobil listrik murni masih menghadapi tantangan besar soal harga jual kembali atau resale value. Fitra Eri mengingatkan bahwa perkembangan teknologi kendaraan listrik berlangsung sangat cepat sehingga model lama bisa cepat kehilangan nilai.
Ia bahkan menyarankan masyarakat memilih mobil listrik dengan harga di bawah Rp500 juta jika ingin meminimalkan risiko depresiasi.
Perdebatan mobil listrik versus mobil bensin diprediksi masih akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Namun satu hal yang pasti, arah kebijakan pemerintah dan kesiapan infrastruktur akan menjadi penentu utama siapa yang benar-benar menguasai jalanan Indonesia di masa depan.
Editor : M. Helmi Nurhisam