RADAR TULUNGAGUNG - Sepeda listrik gunung atau e-bike semakin populer di kalangan pecinta gowes ekstrem. Namun, di balik popularitas itu, muncul sejumlah catatan dari pengguna terkait performa dan kenyamanan berkendara. Salah satunya datang dari pengguna Polygon T7E yang membagikan pengalaman pribadi setelah lebih dari tiga bulan memakai e-bike tersebut.
Dalam video ulasannya, pengguna mengaku menemukan beberapa kekurangan Polygon T7E, terutama pada sektor handling, rem, hingga desain komponen yang dianggap kurang praktis untuk kebutuhan harian maupun traveling.
Pengalaman tersebut langsung menarik perhatian komunitas rider e-bike karena membahas detail teknis yang jarang diungkap secara terbuka oleh pengguna.
Handling Polygon T7E Dinilai Kurang Meyakinkan
Keluhan utama yang paling disorot adalah handling Polygon T7E saat digunakan menikung. Pengguna menyebut karakter sepeda terasa kurang stabil meski sudah memakai suspensi depan diameter 160.
Menurutnya, saat memasuki tikungan, sepeda terasa seperti memiliki lenturan berlebih sehingga mengurangi rasa percaya diri ketika melaju di jalur teknikal.
“Kalau nikung rasanya seperti lari dan tidak bisa dikendalikan penuh,” ungkapnya dalam video tersebut.
Awalnya, ia menduga masalah berasal dari suspensi depan. Namun setelah melakukan beberapa percobaan penggantian ukuran ban, ia mulai menyimpulkan bahwa kombinasi wheelset dan ukuran ban sangat memengaruhi handling.
Polygon T7E bawaan pabrik menggunakan ban ukuran 29 inci dengan lebar 2.60. Setelah dicoba diganti menggunakan kombinasi ban 27,5 inci di depan dan 29 inci di belakang, handling disebut terasa jauh lebih nyaman.
Pengguna akhirnya memutuskan kembali memakai setup 27,5 inci karena dianggap lebih aman dan mudah dikendalikan, terutama untuk rider berusia di atas 40 tahun yang lebih mengutamakan safety dibanding agresivitas saat riding.
Sistem Sensor dan Rotor Jadi Kendala
Masalah berikutnya datang dari sistem sensor roda belakang yang dinilai cukup merepotkan saat melakukan modifikasi wheelset atau rotor.
Pengguna menjelaskan bahwa hub belakang Polygon T7E menggunakan sistem center lock yang terhubung dengan sensor tertentu. Akibatnya, tidak semua rotor aftermarket bisa dipasang dengan mudah.
Saat mencoba mengganti rotor menggunakan merek lain, sensor justru memunculkan indikator error berwarna merah. Setelah dicek, ternyata posisi sensor sulit disesuaikan dengan rotor non-standar.
Kondisi ini membuat proses upgrade komponen menjadi lebih rumit dibanding sepeda gunung biasa.
“Rotor yang cocok untuk sensor ini susah dicari,” ujarnya.
Selain itu, pengguna juga mengeluhkan performa rem dengan rotor besar bawaan pabrik. Saat pengereman mendadak, roda belakang disebut mudah bergeser sehingga kurang nyaman untuk pengendara yang lebih mengutamakan kontrol.
Beberapa rekan sesama rider bahkan menyarankan agar ukuran rotor dikembalikan ke versi standar supaya karakter pengereman lebih stabil.
Muncul Bunyi Mengganggu dan Baut Sering Longgar
Keluhan lain yang muncul adalah bunyi “tek-tek” pada bagian tertentu sepeda ketika melewati jalan berlubang atau medan kasar.
Masalah tersebut sempat hilang setelah dibongkar dan diberi pelumas. Namun beberapa bulan kemudian bunyi serupa kembali muncul.
Pengguna mengaku belum mengetahui sumber pasti masalah tersebut, apakah berasal dari komponen suspensi, headset, atau bagian lain di area cockpit.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti desain remote kontrol yang dianggap kurang ergonomis. Posisi tombol dinilai menyulitkan saat sepeda dibalik atau dimasukkan ke dalam mobil.
Dalam pengalaman pribadinya, baut pada bagian atas remote bahkan sempat copot ketika digunakan riding.
Baut mesin juga disebut pernah hilang saat dipakai bermain di jalur off-road. Beruntung pihak distributor masih memberikan penggantian komponen melalui klaim garansi.
Traveling dengan E-Bike Jadi Tantangan
Satu hal yang dianggap paling merepotkan adalah membawa e-bike saat traveling menggunakan pesawat.
Pengguna mengaku sempat kesulitan ketika hendak membawa Polygon T7E ke Bromo karena baterai berkapasitas besar tidak diizinkan masuk kabin maupun bagasi pesawat.
Solusi yang dilakukan adalah mengirim baterai melalui kapal atau jasa pengiriman terpisah.
Ia berharap ke depan produsen e-bike mulai mempertimbangkan desain baterai modular agar lebih mudah dibawa bepergian menggunakan transportasi udara.
Menurutnya, sistem baterai terpisah dengan kapasitas kecil akan jauh lebih praktis karena masih sesuai batas aturan maskapai penerbangan.
Meski memberikan banyak kritik, pengguna tetap menegaskan bahwa ulasan tersebut murni pengalaman pribadi dan bukan bentuk keberpihakan terhadap ukuran ban tertentu maupun merek tertentu.
Ia juga menilai setiap rider memiliki preferensi berbeda tergantung gaya berkendara dan faktor usia.
Bagi dirinya yang kini sudah berusia 40 tahun lebih, setup ban 27,5 inci dianggap lebih cocok karena memberikan rasa aman dan kontrol lebih baik saat melibas turunan ekstrem.
Editor : Dinar Ananda Putri