RADAR TULUNGAGUNG - Tren penggunaan e-bike atau sepeda listrik gunung semakin berkembang di kalangan pecinta mountain bike Indonesia. Salah satu model yang mulai banyak dibicarakan adalah Polygon T7E, e-MTB premium yang disebut menawarkan kombinasi teknologi modern, kenyamanan riding, dan investasi kesehatan dalam satu paket.
Pengalaman seorang pengguna Polygon T7E yang telah memakai sepeda tersebut selama tujuh hari menjadi perhatian komunitas gowes setelah videonya viral di YouTube. Dalam pengakuannya, ia mengungkap alasan memilih Polygon T7E dibanding membeli MTB carbon manual atau merek luar negeri dengan harga serupa.
Polygon T7E dinilai memberikan nilai lebih karena menghadirkan teknologi motor listrik Shimano EP801 terbaru yang dianggap lebih canggih, halus, dan efisien dibanding generasi sebelumnya. Dengan harga di kisaran Rp65 jutaan, pengguna merasa mendapatkan pengalaman berbeda dibanding membeli sepeda manual premium.
Polygon T7E Dinilai Lebih Worth It daripada MTB Carbon
Dalam video tersebut, pengguna menjelaskan bahwa awalnya dirinya sempat mempertimbangkan membeli mountain bike carbon manual dengan harga sekitar Rp50 juta.
Namun setelah membandingkan kebutuhan riding yang lebih banyak digunakan untuk trail, tanjakan, dan jalur pegunungan, ia akhirnya memutuskan memilih e-bike.
“Dengan uang segitu kenapa tidak beli e-bike, kita dapat teknologi,” ujarnya.
Menurutnya, MTB manual tetap memiliki kualitas bagus, baik berbahan alloy maupun carbon. Namun e-bike menawarkan pengalaman berbeda karena rider tetap bisa berolahraga sambil mendapatkan bantuan tenaga saat dibutuhkan.
Ia bahkan menyebut e-bike seperti memiliki “asisten” yang membantu pengendara ketika mulai kelelahan saat menanjak.
Polygon T7E juga dianggap lebih cocok untuk kebutuhan riding jarak jauh dan jalur pegunungan yang didominasi tanjakan serta medan rolling.
Shimano EP801 Jadi Alasan Utama Memilih Polygon T7E
Salah satu faktor terbesar yang membuat pengguna menjatuhkan pilihan pada Polygon T7E adalah penggunaan motor Shimano EP801 terbaru.
Motor tersebut disebut jauh lebih modern dibanding Shimano EP800 generasi sebelumnya yang masih dipakai beberapa model e-bike lama.
Menurut pengguna, Shimano EP801 memiliki karakter tenaga lebih smooth, lebih senyap, dan lebih hemat baterai.
“Sekarang tidak ada suara motor, lebih silence,” katanya.
Polygon T7E sendiri dibekali baterai berkapasitas 630 Wh yang disebut mampu digunakan selama hampir satu minggu untuk riding harian tanpa perlu sering diisi ulang.
Pengguna mengaku rutin memakai sepeda untuk perjalanan 30 hingga 50 kilometer setiap hari, namun baterai tetap awet.
Selain itu, Shimano EP801 juga sudah mendukung fitur perpindahan gigi otomatis yang belum tersedia pada seri EP800 sebelumnya.
Bisa Diatur lewat Smartphone dan Terhubung ke Strava
Keunggulan lain Polygon T7E adalah kemampuan konektivitas dengan smartphone.
Pengguna menjelaskan bahwa motor Shimano EP801 dapat dihubungkan ke aplikasi ponsel untuk mengatur berbagai profil tenaga sesuai kebutuhan riding.
Terdapat dua mode utama yang bisa dipilih. Profil pertama terdiri dari tiga mode standar yakni Eco, Trail, dan Boost.
Sementara profil kedua memungkinkan rider mengatur bantuan tenaga dalam tujuh level berbeda sehingga lebih fleksibel.
“Kalau jalan datar saya pakai profil dua supaya bisa ngimbangin teman-teman yang manual,” ujarnya.
Menurutnya, fitur tersebut sangat berguna karena bobot e-bike mencapai sekitar 25 kilogram, lebih berat dibanding MTB manual yang rata-rata hanya 17 hingga 18 kilogram.
Selain pengaturan tenaga, aplikasi Shimano EP801 juga bisa terhubung dengan Strava dan Garmin sehingga memudahkan rider memantau statistik perjalanan.
E-Bike Disebut Masa Depan Dunia MTB
Dalam pandangannya, perkembangan e-bike akan menjadi masa depan dunia mountain bike.
Ia melihat produsen sepeda global kini berlomba membuat e-bike dengan bobot lebih ringan, desain lebih simpel, dan performa lebih natural.
“Sekarang mereka berlomba-lomba membuat mesin dan baterai seringan mungkin,” katanya.
Meski begitu, ia menilai MTB manual tetap memiliki pasar dan penggemarnya sendiri.
Menurutnya, kelebihan e-bike justru terletak pada fleksibilitas bantuan tenaga. Rider tetap bisa berolahraga normal tanpa bantuan motor, namun dapat mengaktifkan assist ketika mulai kelelahan.
“Kalau capek tinggal minta bantuan satu level,” ujarnya sambil bercanda.
Tetap Perlu Pertimbangan dan Diskusi Sebelum Membeli
Sebelum membeli Polygon T7E, pengguna mengaku sempat berdiskusi dengan banyak teman, mulai dari pengguna MTB manual, rider adventure, hingga pemilik e-bike lain.
Ia juga sempat khawatir akan mendapat cibiran karena menggunakan e-bike yang sering dianggap “sepeda orang tua”.
Namun menurutnya, penggunaan e-bike justru menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan teknologi modern di dunia sepeda.
Polygon T7E sendiri dipilih karena dianggap memiliki value for money yang baik dan mudah dijual kembali jika suatu saat ingin upgrade ke model carbon atau versi terbaru.
“Dengan Rp65 juta kita investasi kesehatan. Kalau sakit belum tentu uang segitu cukup untuk sembuh,” katanya.
Baginya, e-bike bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga sarana olahraga, hiburan, sekaligus cara menikmati alam dengan lebih nyaman.
Editor : Dinar Ananda Putri