Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Review E-Bike Rise Alloy dan Carbon di Kamojang Viral, Harga Tembus Rp169 Juta tapi Handling Disebut seperti Sepeda Biasa

Divka Vance Yandriana • Minggu, 17 Mei 2026 | 21:33 WIB
Review e-bike Rise Alloy dan Carbon di Kamojang viral, handling ringan seperti sepeda biasa dengan harga hingga Rp169 juta.
Review e-bike Rise Alloy dan Carbon di Kamojang viral, handling ringan seperti sepeda biasa dengan harga hingga Rp169 juta.

JAKARTA - Review e-bike Rise Alloy dan Carbon di jalur Kamojang mendadak viral setelah menampilkan sensasi riding ekstrem menggunakan sepeda listrik premium dengan handling yang disebut mirip sepeda gunung biasa. Meski dibanderol hingga Rp169 juta, performa dan kenyamanan e-bike ini sukses membuat reviewer terpukau.

Dalam video yang beredar di YouTube, dua rider mencoba langsung sepeda listrik Rise Alloy dan Rise Carbon di trek downhill Kamojang yang terkenal menantang. Awalnya perjalanan tersebut dilakukan secara dadakan karena rencana awal hanya menggunakan sepeda biasa.

Namun suasana berubah ketika mereka justru mencoba e-bike premium dengan teknologi modern dan bobot ringan.

Baca Juga: Harga Alpha Servo Q Rp49,5 Juta Jadi Sorotan di IMOS, Motor Listrik Premium dengan Fast Charging dan ABS

“Pas kita nuruninnya udah kayak bukan e-bike lagi, kayak sepeda biasa,” ujar reviewer dalam video tersebut.

Review e-bike Rise Alloy dan Carbon ini langsung menarik perhatian pecinta sepeda gunung karena membahas detail spesifikasi, performa motor listrik, hingga pengalaman riding di trek hutan dan turunan ekstrem.

Rise Alloy Punya Torsi Besar dan Jarak Tempuh 100 Km

Sepeda pertama yang digunakan adalah Rise Alloy H20. Menurut Ahmad Nurhi selaku narasumber dalam video, tipe H20 sebenarnya memiliki frame, baterai, dan mesin yang sama dengan seri lainnya.

Baca Juga: Era Baru Skutik Premium, MAXi Race Hadir di Kejurnas Motoprix

Perbedaannya hanya terletak pada part yang digunakan.

E-bike ini menggunakan tiga mode berkendara, yakni Eco, Trail, dan Boost Assist Mode. Untuk kapasitas baterai, Rise Alloy dibekali baterai 540 Wh yang diklaim mampu menempuh jarak hingga 100 kilometer dalam mode Eco.

“Kalau baterai full bisa sampai 100 kilometer,” jelas Ahmad.

Motor listriknya memiliki torsi hingga 80 Newton meter sehingga cukup kuat digunakan untuk jalur tanjakan maupun trek hutan.

Baca Juga: 12 HP NFC Murah Harga Rp 1 Jutaan Terbaik 2026, Ada Poco, Vivo, Motorola hingga Tecno 5G

Reviewer juga menyebut handling sepeda terasa sangat natural dan tidak terasa berat meski menggunakan motor listrik.

Handling Disebut Sangat Natural

Salah satu poin yang paling disorot dalam review e-bike Rise Alloy dan Carbon adalah sensasi berkendara yang dianggap sangat mirip sepeda gunung konvensional.

Reviewer mengaku baru pertama kali mencoba e-bike tersebut, namun langsung merasa nyaman sejak awal riding.

“Kayak sudah lama banget riding pakai sepeda ini,” katanya.

Suspensi dan handling disebut sangat responsif saat melewati tikungan maupun jalur menurun berbatu di kawasan Kamojang.

Meski begitu, mereka juga menyoroti minimnya petunjuk arah di trek tersebut. Beberapa tikungan disebut tidak memiliki rambu sehingga cukup membingungkan bagi rider yang baru pertama kali datang.

Bahkan sebelumnya disebut sempat ada peserta yang tersesat ketika menjajal trek tersebut.

Rise Carbon Lebih Ringan dan Premium

Selain tipe alloy, reviewer juga mencoba Rise Carbon M30 yang disebut memiliki bobot jauh lebih ringan.

Ahmad menjelaskan frame carbon membuat sepeda terasa lebih lincah dan nyaman dikendalikan di jalur downhill.

“Yang tipe paling tinggi beratnya bisa sampai 16 kilogram saja,” ungkapnya.

Meski torsinya sedikit lebih kecil dibanding versi alloy, yakni sekitar 60 Newton meter, efisiensi sepeda justru meningkat karena bobot keseluruhan lebih ringan.

Untuk kapasitas baterai, Rise Carbon menggunakan baterai 360 Wh. Namun pengguna bisa menambahkan extender battery tambahan berkapasitas sekitar 240 Wh untuk perjalanan jarak jauh.

Fitur ini memungkinkan rider melakukan long ride hingga tiga sampai empat jam tanpa khawatir kehabisan daya.

Harga Tembus Rp169 Juta

Harga menjadi salah satu hal yang paling menarik perhatian dalam review e-bike Rise Alloy dan Carbon tersebut.

Untuk versi alloy, harga dibanderol mulai Rp89 juta hingga sekitar Rp150 juta tergantung spesifikasi dan part yang digunakan.

Sementara Rise Carbon memiliki harga lebih tinggi. Varian paling rendah dijual sekitar Rp128 jutaan, sedangkan tipe tertinggi MLTD mencapai Rp169 juta.

Harga fantastis tersebut dianggap sepadan dengan teknologi, material ringan, dan performa premium yang ditawarkan.

Bisa Dicoba Sebelum Membeli

Menariknya, calon pembeli juga disebut dapat mencoba langsung e-bike tersebut sebelum membeli. Ahmad menyebut pihaknya siap membantu pengaturan setup sepeda sesuai karakter rider dan berat badan pengguna.

“Boleh dicoba dulu, nanti saya setting sesuai karakter rider,” jelasnya.

Dengan semakin populernya e-bike premium di Indonesia, Rise Alloy dan Rise Carbon menjadi salah satu pilihan menarik bagi pecinta sepeda gunung yang menginginkan sensasi riding ringan, cepat, namun tetap nyaman di berbagai medan ekstrem.

Editor : Divka Vance Yandriana
#e-bike 2026 #review e-bike #e-bike