Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Blak-blakan Kekurangan Wuling Alves Tipe EX: Benarkah Tarikan Mesin Lemot dan Harga Jual Kembali Jlok?

Natasha Eka Safrina • Minggu, 17 Mei 2026 | 20:37 WIB
Mengulas 4 kekurangan Wuling Alves Tipe EX mulai dari performa mesin hingga resale value. Benarkah SUV 200 jutaan ini tetap layak dibeli? (Screenshot Youtube)
Mengulas 4 kekurangan Wuling Alves Tipe EX mulai dari performa mesin hingga resale value. Benarkah SUV 200 jutaan ini tetap layak dibeli? (Screenshot Youtube)

 

JAKARTA – Kehadiran Wuling Alves di pasar otomotif tanah air memang sempat memicu kehebohan besar. Bagaimana tidak, sebuah compact SUV dengan desain modern dan segudang fitur canggih berani dibanderol mulai harga Rp 200 jutaan saja. Pasar pun langsung merespons dengan antusiasme tinggi. Namun, di balik daya tarik harganya yang merusak pasar, sejumlah kritik mengenai kekurangan SUV ini mulai bermunculan. Apakah kelemahan tersebut benar-benar mengganggu, atau justru masih sangat bisa dimaklumi?

Menjawab rasa penasaran publik, pengujian mendalam dilakukan pada varian tertinggi, yakni Wuling Alves Tipe EX seharga Rp 295 juta OTR Jakarta. Pengujian ini sengaja berfokus untuk menguliti empat poin yang kerap dituding sebagai kelemahan utama dari penantang berat Honda HR-V ini.

Akselerasi Mesin N15: Lemot atau Sekadar Ekonomis?

Catatan kritis pertama yang paling sering dikeluhkan konsumen adalah performa mesin 1.500 cc naturally aspirated (N15) milik Alves yang dinilai kurang responsif. Saat diuji langsung di jalanan, tarikan awal mobil ini memang terasa agak tertahan alias lemot, bahkan ketika transmisi sudah dipindahkan ke mode berkendara Sport (S).

Baca Juga: Kupas Tuntas 3 Varian Wuling Alves: SUV Mewah Fitur Melimpah, Kok Harganya Setara Mobil LCGC?

Karakter mesin ini tampaknya sengaja dikembangkan oleh pihak pabrikan untuk lebih mengejar efisiensi bahan bakar ketimbang performa yang agresif. Sebagai solusi instan untuk mendongkrak performa, pemilik kendaraan disarankan menggunakan bahan bakar dengan oktan yang lebih tinggi. Bagi konsumen, karakter ini mungkin lebih tepat disebut sebagai mesin yang ekonomis daripada sekadar dicap lemot.

Minus Telescopic Steering dan Paddle Shift, Masihkah Nyaman?

Kekurangan kedua yang kerap disorot dari sisi ergonomi adalah belum adanya fitur telescopic steering (pengaturan setir maju-mundur). Wuling Alves sejauh ini hanya dibekali fitur tilt steering (naik-turun). Bagi sebagian pengendara, absennya fitur ini dinilai mengurangi kesempurnaan posisi berkendara (driving posisi). Namun, problem ini sejatinya bisa disiasati karena kursi pengemudi sudah dilengkapi pengaturan ketinggian (seat height adjuster) yang cukup fleksibel.

Selain itu, Alves juga absen dari fitur paddle shift di balik lingkar kemudi, fitur yang sudah jamak ditemui pada kompetitor seperti Honda HR-V atau Toyota Raize yang menggunakan transmisi CVT. Meski begitu, Wuling memberikan alternatif berupa transmisi CVT dengan mode Tiptronic manual. Pengemudi cukup menggeser tuas transmisi ke posisi M, lalu mendorongnya ke atas atau ke bawah untuk menaik-turunkan gigi secara manual.

Baca Juga: Indomobil E-Motor CTI Resmi Mengaspal, Motor Listrik Canggih dengan NFC dan Biaya Cas Cuma Rp5 Ribu

Bayang-Bayang Resale Value dan Sentimen Produk Tiongkok

Poin kelemahan keempat yang paling krusial bagi konsumen Indonesia adalah masalah brand image dan nilai jual kembali (resale value). Harus diakui, wuling hingga saat ini masih ikut terkena dampak negatif dari sentimen buruk masyarakat terhadap motor Tiongkok zaman dulu yang dinilai cepat rusak. Akibat stigma masa lalu tersebut, harga jual kembali mobil Tiongkok rata-rata merosot lebih tajam dibandingkan dengan mobil pabrikan Jepang yang cenderung bertahan kokoh.

Kendati demikian, persoalan reputasi ini diprediksi hanya tinggal menunggu waktu. Wuling terbukti sangat serius melakukan investasi besar-besaran di Indonesia, salah satunya dengan membangun pabrik raksasa di kawasan Cikarang. Transformasi identitas juga terlihat jelas dari perubahan logo wuling dari warna merah menjadi warna silver yang lebih global dan modern. Jika jaringan layanan purnajual (after sales) serta ketersediaan suku cadang terus dijaga dengan baik, kepercayaan pasar otomotif nasional otomatis akan terkerek naik secara bertahap.

Kenyamanan Kabin Luar Biasa dan Value yang Sulit Ditandingi

Di luar beberapa catatan minor tersebut, Wuling Alves Tipe EX justru menyuguhkan kenyamanan berkendara yang luar biasa mewah. Kekedapan kabin mobil ini patut diacungi jempol dan karakter setirnya terasa sangat responsif saat dikendalikan. Rem cakram di keempat roda juga memberikan daya cengkeram yang sangat pakem.

Daya tarik utama tipe tertinggi ini ada pada paket teknologi keselamatan aktif ADAS (Advanced Driver Assistance System) yang sangat lengkap di kelasnya. Mulai dari Adaptive Cruise Control hingga Lane Keep Assist yang memungkinkan mobil melaju semi-otonom saat melintasi rute luar kota. Fitur perintah suara legendaris WIND (Wuling Indonesian Command) juga tetap hadir, meskipun untuk beberapa fungsi praktis seperti membuka kaca jendela atau menyalakan AC, menekan tombol fisik secara langsung terkadang dirasa lebih cepat oleh pengemudi.

Secara keseluruhan, dari ketiga varian yang ditawarkan (SE, CE, dan EX), tipe EX menjadi opsi paling direkomendasikan jika konsumen ingin merasakan pengalaman berkendara modern seutuhnya. Di tengah gempuran ketat dari penguasa pasar seperti Honda HR-V, serta penantang baru seperti Omoda 5, Wuling Alves tetap berdiri kokoh sebagai opsi SUV paling bernilai tinggi (value for money) berkat desain eksteriornya yang sangat keren, gagah, dan modern.

Editor : Natasha Eka Safrina
#Harga Wuling Alves #Wuling Alves EX #Kekurangan Wuling Alves