JAKARTA - Pasar kendaraan listrik di tanah air kembali diramaikan oleh kehadiran mobil petualang baru yang sangat memikat mata, yaitu ICAR V23. Mobil bertenaga setrum ini hadir sebagai sebuah urban offroader kompak yang masuk ke dalam kategori Boys Toys atau mobil mainan pria dewasa. Berbeda dengan kendaraan harian biasa, SUV listrik ICAR V23 menyuguhkan tampilan yang sangat atraktif dan berkarakter kuat, menjadikannya magnet perhatian saat melaju di jalanan perkotaan.
Secara silsilah, kendaraan ini merupakan adik dari Cherry J6 (atau dikenal sebagai ICAR 05 di pasar global). Meski dimensinya kompak dengan panjang hanya sekitar 4,2 meter, rancang bangunnya dibuat sangat kekar. Jarak sumbu roda (wheelbase) yang menyentuh angka 2,73 meter membuat rodanya berada tepat di ujung-ujung bodi dengan overhang depan dan belakang yang sangat pendek. Desain "bogel" khas mobil jip murni ini didukung oleh approach angle sebesar 41-42 derajat, departure angle 40 derajat, serta ground clearance jangkung di atas 200 mm.
Modularitas Unik Berlimpah Tombol Manual
Menelisik eksteriornya, kelebihan utama dari SUV listrik ICAR V23 adalah bahasa desainnya yang menggabungkan elemen retro dan futuristik. Wajah depannya sekilas mengingatkan kita pada Toyota FJ Cruiser dengan sepasang lampu bulat yang ikonik, sementara guratan bodi belakangnya tampil kokoh menyerupai Mercedes-Benz G-Class. Bagian pilar C ditutup dengan panel plastik solid berlogo V23, serta dilengkapi kotak penyimpanan unik di pintu bagasi.
Daya tarik paling istimewa dari mobil ini terletak pada sektor modularitasnya. Dirancang oleh tim yang sempat terlibat dalam proyek mobil Xiaomi pertama, ICAR V23 dibekali banyak slot aksesoris plug-and-play tanpa harus merusak kerangka asli bodi. Di dalam kabin, tersedia dua tombol AUX manual terintegrasi yang bisa langsung mengoperasikan lampu tembak tambahan di bumper tanpa perlu membongkar atau menambah jalur kabel baru.
Masuk ke area interior, suasananya terasa sangat bersih dan minimalis berkat hilangnya panel instrumen di balik setir. Kabin ini juga sangat ramah bagi pengguna senior (boomers friendly) karena tetap mempertahankan deretan tombol fisik untuk kontrol AC, mode berkendara, kaca spion, hingga volume audio. Sektor hiburannya ditopang oleh layar sentuh masif 15,4 inci yang sudah ditenagai oleh chipset canggih Snapdragon 8155 untuk menjamin pergerakan antarmuka yang super mulus.
Catatan Minus Sisi Kepraktisan dan Rasa Berkendara
Meskipun tangguh di atas kertas, pengujian harian mengungkap beberapa kekurangan dari SUV listrik ICAR V23 yang perlu dipertimbangkan konsumen. Sektor kepraktisan di baris kedua dirasa sangat minim tempat penyimpanan. Akses keluar masuk penumpang belakang juga agak sulit karena sudut bukaan pintu yang kurang lebar, ditambah absennya sandaran tangan (armrest) akibat pelipatan jok yang mengusung konfigurasi 55:50.
Kelemahan lain bersumber dari tata letak layar utamanya. Gara-gara absennya panel instrumen pengemudi, sepertiga porsi layar 15,4 inci tersebut harus rela dikorbankan secara permanen untuk menampilkan informasi kecepatan dan baterai. Efeknya, sisa ruang visual untuk mengoperasikan fitur navigasi Android Auto menjadi terasa sempit dan kecil.
Dari sisi impresi berkendara, posisi duduk pengemudi terasa sangat tinggi dan tegak layaknya mengemudikan truk. Karakter wheelbase yang panjang di dalam bodi yang pendek juga memicu fenomena unik; mobil kompak ini justru terasa lebar dan memiliki radius putar (U-turn) yang cukup besar, sehingga pengendara harus ekstra waspada terhadap posisi overfender samping saat melintasi gang sempit.
Varian All-Wheel Drive (AWD) yang menggendong baterai besar 80-an kW ini sejatinya memiliki rasa berkendara yang mantap (planted) dan kaku di kecepatan tinggi. Didukung kemampuan menerjang banjir (water wading) hingga kedalaman 600 mm, mobil ini sangat siap diajak berpetualang ringan. Namun, karena basisnya menggunakan sasis monokok (monocoque), bantingannya terasa cenderung kaku dan tidak sehalus mobil-mobil offroad sejati yang masih mengandalkan sasis tangga (ladder frame).
Editor : Natasha Eka Safrina