JAKARTA - Touring motor listrik kini mulai membuktikan diri bukan sekadar kendaraan harian perkotaan. YouTuber otomotif Jodi Motovlog HD bersama rider senior Mario Iroth nekat menjajal perjalanan ekstrem Jakarta-Bali menggunakan motor listrik Polytron Fox Air dengan total jarak mencapai sekitar 1.333 kilometer.
Perjalanan touring motor listrik tersebut menjadi pengalaman perdana bagi Jodi. Tidak tanggung-tanggung, perjalanan ini juga digadang-gadang bakal masuk rekor MURI karena menempuh rute lintas pulau menggunakan motor listrik.
Dalam vlog yang diunggah di kanal YouTube Jodi Motovlog HD, perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Cirebon sebagai checkpoint pertama. Meski terdengar nekat, mereka ingin membuktikan bahwa motor listrik ternyata tetap bisa dipakai touring jarak jauh.
Baca Juga: Oppo Reno 15F 5G Bocor Sebelum Rilis! Kamera Selfie 50 MP dan Baterai 7000 mAh Jadi Senjata Utama
“Ini touring perdana gue pakai motor listrik dan langsung Jakarta-Bali,” ujar Jodi dalam videonya.
Sebelum berangkat, Jodi melakukan sejumlah persiapan pada Polytron Fox Air miliknya. Salah satu yang paling disorot adalah penggantian ban menggunakan Michelin Pilot Street 2 demi menunjang kenyamanan dan handling selama perjalanan jauh.
Menurutnya, penggantian ban belakang motor listrik ternyata jauh lebih rumit dibanding motor konvensional. Sebab, roda belakang Polytron Fox Air sudah menyatu dengan dinamo penggerak sehingga mekanik harus membuka beberapa bagian bodi serta kabel kelistrikan.
Baca Juga: Ola Electric S Plus Bikin Heboh, Motor Listrik Rp23 Jutaan Ini Diklaim Bisa Tempuh 320 KM Sekali Cas
“Kalau ban depan gampang, tapi ban belakangnya harus bongkar kabel-kabel karena nyatu sama dinamo,” jelasnya.
Setelah semua persiapan selesai, perjalanan dimulai dari kawasan Slipi, Jakarta Barat. Dengan penuh rasa penasaran, Jodi dan Mario Iroth memulai touring menuju Pantura menggunakan motor listrik.
Tantangan Touring Motor Listrik di Jalur Pantura
Dalam perjalanan menuju Cirebon, tantangan utama bukan hanya soal cuaca atau kondisi jalan, melainkan manajemen baterai dan titik pengisian daya.
Mereka menargetkan berhenti di beberapa SPKLU seperti Karawang, Cikampek, dan Jatibarang untuk melakukan pengisian baterai. Namun perjalanan tidak berjalan mulus.
Motor milik Mario Iroth mengalami masalah setelah penggantian ban belakang. Roda terasa seret seperti tertahan rem sehingga konsumsi baterai menjadi jauh lebih boros dibanding motor Jodi.
Akibatnya, saat memasuki wilayah Karawang, baterai motor Mario hanya tersisa sekitar 14 persen, sedangkan motor Jodi masih berada di atas 30 persen.
“Kita baru hari pertama tapi challengenya sudah mulai terasa,” kata Jodi.
Mereka sempat berhenti di bengkel pinggir jalan untuk mengecek kondisi roda sekaligus mengisi daya darurat menggunakan listrik bengkel. Namun pengisian hanya dilakukan sementara agar cukup menuju SPKLU berikutnya di Cikampek.
Cara Cas Motor Listrik di SPKLU
Dalam vlog tersebut, Jodi juga membagikan pengalaman pertama menggunakan SPKLU PLN Mobile untuk mengisi daya motor listrik.
Pengguna harus mengunduh aplikasi PLN Mobile, memilih menu electric vehicle, lalu menentukan lokasi SPKLU terdekat. Setelah itu pengguna memilih jenis charger dan melakukan pembayaran digital.
Menariknya, biaya pengisian daya motor listrik dinilai sangat murah. Untuk perjalanan puluhan kilometer, biaya charging hanya sekitar Rp10 ribuan.
“Murah banget sih, enggak nyampe kayak isi bensin satu liter Pertalite,” ujarnya.
Baca Juga: Review ADO A26 Plus, Sepeda Listrik Keliling Kota dengan Jarak Tempuh 100 KM dan Harga Rp12 Jutaan
Jodi juga menggunakan adapter fast charging prototype dari Polytron sehingga proses pengisian daya dari 50 persen ke 100 persen hanya memakan waktu sekitar 30 menit.
Drama Baterai Tinggal 2 Persen
Puncak drama terjadi saat perjalanan menuju PLN Jatibarang, Indramayu. Saat itu baterai motor Mario tersisa hanya 5 persen dengan jarak menuju lokasi charging sekitar 16 kilometer.
Mereka akhirnya memutuskan bertukar motor. Jodi yang dikenal lebih irit dalam gaya berkendara mengambil motor Mario demi memastikan motor bisa sampai ke lokasi charging.
Strategi tersebut berhasil. Dengan kecepatan konstan sekitar 20-25 km/jam dan meminimalkan pengereman, motor akhirnya tiba di SPKLU Jatibarang dengan sisa baterai hanya 2 persen.
“Perasaannya kayak roller coaster, tapi ternyata nyampe juga,” ucap Jodi.
Setelah mengisi daya penuh sambil makan malam dan beristirahat, perjalanan kembali dilanjutkan menuju penginapan di Cirebon.
Meski penuh drama, touring motor listrik Jakarta-Bali menggunakan Polytron Fox Air ini membuktikan kendaraan listrik ternyata tetap mampu dipakai perjalanan jauh asalkan rider memahami karakter motor, manajemen baterai, serta lokasi charging.
Pengalaman tersebut juga memberi gambaran baru bahwa touring motor listrik bukan lagi hal mustahil di Indonesia.
Editor : Dyah Wulandari