Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kekurangan Polygon Siskiu T7E Mulai Terungkap, Pengguna Keluhkan Handling hingga Rem E-Bike Rp55 Jutaan Ini

Cholifatun Nisak • Kamis, 21 Mei 2026 | 17:33 WIB
Kekurangan Polygon Siskiu T7E mulai terungkap. Pengguna keluhkan handling, rem, suspensi hingga kendala traveling e-bike.
Kekurangan Polygon Siskiu T7E mulai terungkap. Pengguna keluhkan handling, rem, suspensi hingga kendala traveling e-bike.

 

RADAR TULUNGAGUNG- Kekurangan Polygon Siskiu T7E mulai diungkap salah satu pengguna setelah hampir tiga bulan memakai e-bike trail tersebut di berbagai medan. Meski dikenal sebagai sepeda listrik adventure dengan motor Shimano EP801 dan harga sekitar Rp55 jutaan, pengguna menemukan sejumlah masalah mulai dari handling, suspensi depan, rem, hingga kendala saat dibawa traveling menggunakan pesawat.

Pengalaman tersebut dibagikan langsung dalam ulasan pribadi yang menekankan bahwa opini itu murni berdasarkan pemakaian harian, bukan promosi atau kerja sama dengan pihak tertentu.

Keluhan utama yang paling disorot adalah karakter handling Polygon Siskiu T7E yang dianggap kurang meyakinkan saat menikung, terutama ketika menggunakan setup ban bawaan 29 inci.

Baca Juga: 5 HP Gaming 2 Jutaan Terbaik Awal 2026, Ada Layar 144 Hz hingga Fast Charging 70 Watt

Handling Polygon Siskiu T7E Disebut Kurang Stabil Saat Menikung

Pengguna mengaku awalnya memakai Polygon Siskiu T7 dengan setup ban 27,5 inci sebelum beralih ke Polygon Siskiu T7E yang menggunakan ban bawaan 29x2.60 inci.

Menurutnya, perbedaan karakter handling langsung terasa signifikan saat menikung di jalur trail.

“Saat menikung itu seperti lari, kurang bisa dikendalikan,” ungkapnya.

Ia menduga masalah tersebut berasal dari kombinasi suspensi depan SR Suntour Ion berdiameter 160 mm dan penggunaan roda 29 inci. Suspensi depan disebut terasa kurang rigid sehingga muncul efek lentur ketika sepeda diajak menikung agresif.

Karena penasaran, pengguna akhirnya mencoba mengganti roda depan menjadi 27,5 inci sementara roda belakang tetap 29 inci atau yang ia sebut setup “milut”. Hasilnya, handling sepeda justru terasa lebih nyaman dan mudah dikendalikan.

Setelah itu, ia memutuskan mengganti roda depan menjadi 27,5x2.60 inci secara permanen karena dianggap lebih cocok dengan gaya berkendaranya.

Namun proses penggantian roda ternyata tidak mudah. Polygon Siskiu T7E menggunakan hub boost dan sensor bawaan di roda belakang yang membuat pemilik harus memakai rotor tertentu agar sensor motor tetap berfungsi normal.

Jika salah menggunakan rotor, sistem sensor bisa error dan memunculkan indikator merah pada display sepeda listrik.

Baca Juga: Unboxing Sepeda Listrik Polygon Kalosi Viral, Baterai Bisa Dilepas dan Cocok untuk Mobilitas Harian

Sistem Rem dan Suspensi Jadi Sorotan Pengguna

Selain handling, sektor rem juga menjadi perhatian utama pengguna Polygon Siskiu T7E. Ia merasa penggunaan rotor berukuran besar membuat ban belakang mudah bergeser ketika melakukan pengereman mendadak.

Menurut hasil diskusi dengan komunitas sepeda, kondisi itu kemungkinan disebabkan ukuran rotor yang terlalu besar dibanding karakter handling sepeda.

“Kalau direm, ban belakang seperti lari,” katanya.

Beberapa rekannya menyarankan mengganti rotor dengan ukuran lebih kecil agar pengereman terasa lebih stabil. Namun hingga kini penggantian belum dilakukan karena kendala kompatibilitas sensor bawaan motor listrik.

Masalah lain muncul dari bagian headset yang beberapa kali mengeluarkan bunyi “tek tek tek” ketika melewati jalan berlubang.

Pengguna sempat membongkar bagian tersebut dan memberi grease atau gemuk sehingga bunyi hilang sementara. Namun beberapa bulan kemudian suara serupa kembali muncul.

Selain itu, performa suspensi depan SR Suntour Ion juga dianggap kurang nyaman dibanding suspensi RockShox pada Polygon Siskiu T7 generasi sebelumnya.

Meski berbagai pengaturan tekanan udara dan setting suspensi sudah dicoba, karakter bantingan tetap dinilai kurang smooth.

“Belakang masih bisa ditoleransi, tapi depan terasa kurang nyaman,” jelasnya.

Traveling dengan E-Bike Jadi Kendala Baru bagi Pengguna

Kendala lain yang cukup merepotkan adalah saat membawa Polygon Siskiu T7E bepergian menggunakan pesawat.

Pengguna mengaku kesulitan membawa baterai karena kapasitasnya melebihi batas yang diizinkan maskapai penerbangan. Akibatnya, baterai harus dikirim terpisah menggunakan kapal atau jasa pengiriman barang.

Saat perjalanan ke Bromo, ia bahkan harus menitipkan baterai kepada teman yang berangkat lebih dulu menggunakan kapal laut.

Menurutnya, sistem baterai modular dengan kapasitas lebih kecil akan jauh lebih praktis untuk kebutuhan traveling.

Selain masalah teknis, pengguna juga menyoroti posisi remote display yang dianggap terlalu menonjol dan rawan terbentur saat sepeda dibalik atau dimasukkan ke mobil.

Ia juga mengaku sempat kehilangan baut pada bagian mesin dan cockpit ketika digunakan berkendara di jalur trail.

Meski menemukan beberapa kekurangan, pengguna tetap menilai Polygon Siskiu T7E sebagai e-bike yang menyenangkan dipakai. Ia hanya menyarankan calon pengguna menyesuaikan setup roda dan karakter sepeda dengan gaya berkendara masing-masing.

“Kalau saya sudah umur 40-an, lebih pilih yang aman dan nyaman,” tutupnya.

Baca Juga: Sepeda E-Bike Polygon Kalosi Miles Ternyata Super Irit, Dipakai 2 Minggu Baterai Masih 46 Persen, Aman Kena Hujan?

Editor : Cholifatun Nisak
#e-bike Polygon #Shimano EP801 #sepeda listrik trail #review Polygon Siskiu T7E #Kekurangan Polygon Siskiu T7E