RADAR TULUNGAGUNG- Review Polygon Siskiu T7E kembali mencuri perhatian pecinta mountain bike setelah sebuah kanal YouTube mengulas pengalaman menjajal e-mountain bike tersebut di jalur perkebunan hingga medan makadam ekstrem. E-bike Polygon Siskiu T7E bahkan dijuluki sebagai “sepeda sesat” karena dinilai sangat nyaman diajak menjelajah hingga tersesat di jalur off-road.
Julukan itu muncul bukan tanpa alasan. Polygon Siskiu T7E disebut menghadirkan kombinasi desain agresif, motor listrik bertenaga besar, serta geometri trail modern yang membuat pengalaman berkendara terasa stabil sekaligus menyenangkan di berbagai medan.
E-bike premium buatan Polygon tersebut dibanderol sekitar Rp55 jutaan dan disebut-sebut sebagai salah satu e-MTB paling worth it di kelasnya.
Desain Polygon Siskiu T7E Disebut Mirip Kendaraan Militer
Dalam ulasan tersebut, reviewer menyoroti desain Polygon Siskiu T7E yang dianggap berbeda dari kebanyakan e-bike lain. Frame alloy ALX berwarna brown olive dipadukan aksen hitam membuat tampilannya disebut menyerupai kendaraan militer.
Profil frame yang bersudut dengan finishing gelap juga memberi kesan kokoh dan misterius. Menariknya, meski berstatus e-bike, desain motor dan baterai Shimano EP801 dibuat cukup ringkas sehingga sepeda tetap tampak seperti MTB full suspension biasa.
“Praktis kelihatannya kayak MTB normal aja, MTB manual pada umumnya,” ujar reviewer dalam videonya.
Polygon Siskiu T7E menggunakan geometri modern dengan head tube angle 65 derajat dan seat tube angle 77 derajat. Kombinasi tersebut membuat posisi pedaling terasa lebih efisien sekaligus stabil saat menuruni jalur teknikal.
Chainstay sepanjang 440 mm juga dianggap membuat sepeda tetap lincah dan agresif saat bermanuver di tikungan maupun jalur sempit.
Salah satu fitur yang paling diapresiasi adalah flip chip geometry adjustment. Fitur ini memungkinkan pengguna mengganti setup roda dari full 29 inci menjadi mullet setup 27,5 inci belakang dan 29 inci depan.
Dengan pengaturan tersebut, rider bisa menyesuaikan karakter sepeda sesuai kebutuhan, mulai dari setup stabil untuk kecepatan tinggi hingga setup lincah untuk jalur teknikal.
Motor Shimano EP801 Jadi Andalan di Jalur Tanjakan
Polygon Siskiu T7E dibekali motor listrik Shimano EP801 dengan torsi mencapai 85 Nm dan peak power hingga 600 watt. Motor tersebut dipadukan baterai berkapasitas 630 Wh yang diklaim mampu digunakan untuk perjalanan panjang.
Reviewer mengaku sengaja mengetes daya tahan baterai menggunakan mode Boost secara terus-menerus di jalur perkotaan Jakarta. Hasilnya, baterai hanya berkurang empat strip setelah digunakan sejauh 32 kilometer.
“Estimasi total jarak tempuhnya bisa sampai sekitar 80 kilometer di mode power mentok,” ungkapnya.
Shimano EP801 juga disebut memiliki respons tenaga yang spontan tanpa jeda, sehingga bantuan tenaga terasa natural saat rider mulai mengayuh pedal.
Motor ini memiliki tiga mode utama, yakni Eco, Trail, dan Boost. Namun reviewer lebih memilih memakai fitur seven-step power mode karena dinilai lebih fleksibel untuk menyesuaikan tenaga di berbagai karakter tanjakan.
Selain itu, fitur walk assist juga dianggap sangat membantu ketika menghadapi tanjakan ekstrem yang sudah sulit ditaklukkan dengan pedaling biasa.
Di sektor komponen, Polygon Siskiu T7E memakai kombinasi groupset Shimano SLX dan Deore 12-speed. Suspensinya menggunakan SR Suntour Aion 35 150 mm di depan serta rear shock SR Suntour TriAir 3CR.
Untuk pengereman, e-bike ini menggunakan SRAM Code R dengan rotor Shimano 203 mm depan-belakang.
Ada Catatan di Suspensi, Tapi Riding Experience Tetap Dipuji
Meski mendapat banyak pujian, reviewer tetap menemukan satu kekurangan utama pada Polygon Siskiu T7E, yakni karakter suspensi SR Suntour saat melibas jalur makadam panjang.
Menurutnya, suspensi terasa nyaman di awal, tetapi perlahan menjadi lebih keras ketika menerima benturan bertubi-tubi dalam durasi panjang.
“Semakin lama terasa numpuk dan makin keras, bikin badan agak pegal,” katanya.
Meski demikian, stabilitas sepeda disebut tetap terjaga dengan baik. Rider masih merasa percaya diri ketika melibas turunan panjang maupun jalur teknikal berbatu.
Secara keseluruhan, pengalaman berkendara justru menjadi nilai terbesar dari Polygon Siskiu T7E. Reviewer mengaku awalnya hanya berniat melakukan test ride singkat, tetapi malah berujung menjelajah kebun teh seharian hingga tersesat.
Pengalaman itulah yang membuat Polygon Siskiu T7E disebut sebagai “sepeda sesat”, karena dianggap sangat cocok untuk rider yang menyukai petualangan dan eksplorasi jalur baru.
Dengan harga sekitar Rp55 juta, reviewer menilai e-bike ini menawarkan paket lengkap mulai dari desain, geometri, fitur, hingga sensasi riding yang sulit ditemukan di kelas harga serupa.
“Ini sepeda yang nurut aja, mau dibawa ke mana-mana. Sangat mengakomodir rasa adventure,” tutupnya.
Editor : Cholifatun Nisak