RADAR TULUNGAGUNG - Polygon kembali meramaikan pasar electric mountain bike dengan merilis Polygon Siskiu T7E dan T6E. Dua e-MTB terbaru ini langsung mencuri perhatian karena membawa geometri agresif khas seri Siskiu T Series serta dibekali motor Shimano bertenaga 85 Nm untuk kebutuhan trail hingga enduro.
Kehadiran Polygon Siskiu T7E dan T6E menandai keseriusan Polygon Bikes dalam menggarap pasar iMTB global. Setelah sebelumnya merilis Polygon Mount Bromo, kini brand asal Indonesia tersebut kembali menghadirkan sepeda listrik gunung dengan spesifikasi yang menyasar rider adventure dan all mountain.
Dalam video ulasan yang beredar di YouTube, kedua model disebut mengusung DNA geometri Polygon Siskiu T Series yang terkenal stabil di turunan namun tetap efisien saat pedaling di tanjakan.
Polygon Siskiu T7E dan T6E Pakai Motor Shimano dengan Torsi 85 Nm
Polygon Siskiu T6E menggunakan motor Shimano EP6, sedangkan Polygon Siskiu T7E dibekali Shimano EP8 yang lebih premium. Meski berbeda tipe, kedua motor tersebut sama-sama menghasilkan torsi 85 Newton meter.
Perbedaan utama terletak pada material dan kapasitas baterai. Shimano EP8 pada Siskiu T7E menggunakan material magnesium sehingga bobotnya lebih ringan dibanding Shimano EP6 di T6E.
Selain itu, Polygon Siskiu T7E menggunakan baterai berkapasitas 630 Wh, sedangkan Siskiu T6E memakai baterai 504 Wh. Kapasitas lebih besar membuat T7E lebih cocok untuk perjalanan panjang dan jalur ekstrem dengan bantuan tenaga maksimal.
Motor listrik tersebut dipadukan dengan sistem drivetrain Shimano. Polygon Siskiu T6E hadir dengan konfigurasi 1x10 speed, sementara Siskiu T7E menggunakan setup 1x12 speed yang lebih modern untuk kebutuhan trail agresif.
Dalam video dijelaskan bahwa penggunaan motor Shimano menunjukkan Polygon memang serius membidik pasar internasional, mengingat Shimano menjadi salah satu sistem penggerak e-bike paling populer di dunia.
Geometri Trail dan Flip Chip Jadi Andalan Polygon Siskiu T7E
Secara desain, Polygon Siskiu T7E dan T6E menggunakan frame alloy dengan konfigurasi suspensi depan 150 mm dan suspensi belakang 140 mm.
Setup ini membuat kedua e-MTB tersebut masuk kategori “do it all” karena dianggap mampu melibas berbagai jenis medan, mulai jalur tanah, tanjakan curam, hingga trek turunan teknikal.
Salah satu fitur yang paling disorot adalah teknologi flip chip. Fitur ini memungkinkan rider mengubah konfigurasi wheelset menjadi mullet, yakni roda depan 29 inci dan roda belakang 27,5 inci.
Konfigurasi mullet biasanya digunakan untuk meningkatkan kelincahan saat melibas jalur turunan atau trek teknikal. Sementara setup full 29 inci lebih cocok untuk stabilitas dan kecepatan di jalur panjang.
Polygon juga membekali kedua e-bike ini dengan rotor 203 mm di depan dan belakang. Ukuran rotor besar dianggap penting karena sepeda membawa motor listrik bertorsi tinggi dan bobot lebih berat dibanding MTB biasa.
Selain itu, posisi baterai ditempatkan di bagian downtube frame dengan desain removable battery. Namun pengguna memerlukan alat khusus untuk melepas baterai tersebut dari frame.
Harga Polygon Siskiu T7E dan T6E Jadi Sorotan
Peluncuran Polygon Siskiu T7E dan T6E dilakukan secara serentak di beberapa negara. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Polygon memang ingin memperluas penetrasi pasar e-MTB global.
Untuk pasar Indonesia, Polygon Siskiu T6E dibanderol sekitar Rp54 juta. Sementara Polygon Siskiu T7E dijual di kisaran Rp65 juta.
Harga tersebut dinilai masih kompetitif untuk kelas electric mountain bike dengan motor Shimano dan geometri trail modern.
Banyak reviewer menyebut Polygon Siskiu T7E berpotensi menjadi salah satu e-MTB paling menarik di kelas menengah karena menawarkan kombinasi tenaga besar, geometri agresif, dan fleksibilitas setup roda.
Dengan tren sepeda listrik gunung yang terus meningkat, kehadiran Polygon Siskiu T7E dan T6E diprediksi bakal memperkuat posisi Polygon sebagai salah satu produsen MTB terbesar asal Asia Tenggara yang mampu bersaing di pasar global.
Baca Juga: Stok E-Bike Rodalink Serpong Diserbu, Polygon Siskiu hingga Colossus Carbon Rp115 Juta Jadi Sorotan
Editor : Cholifatun Nisak