Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Benarkah Suzuki Ertiga Hybrid Cuma Hybrid Palsu ? Ini Fakta Teknologi SHVS yang Bikin Banyak Konsumen Salah Paham

Muhamad Ahsanul Wildan • Kamis, 21 Mei 2026 | 21:09 WIB
Suzuki Ertiga Hybrid disebut hybrid palsu karena pakai teknologi SHVS mild hybrid. Benarkah menyesatkan? Ini faktanya. (Pinterest)
Suzuki Ertiga Hybrid disebut hybrid palsu karena pakai teknologi SHVS mild hybrid. Benarkah menyesatkan? Ini faktanya. (Pinterest)

RADAR TULUNGAGUNG - Suzuki Ertiga Hybrid kembali jadi perbincangan setelah banyak pengguna media sosial menyebut mobil ini sebagai “hybrid palsu”.

Label tersebut muncul karena teknologi hybrid yang dipakai Suzuki berbeda jauh dibanding mobil hybrid lain seperti Toyota Innova Zenix atau Yaris Cross yang memakai sistem full hybrid.

Baca Juga: Polytron Fox 350 Diklaim Lebih Baik dari Fox R, Benarkah? Ini Hasil Tes Konsumsi Daya dan Fitur Motor Listrik Rp15 Jutaan

Apa Sebenarnya Teknologi Hybrid di Suzuki Ertiga?

Suzuki Ertiga Hybrid menggunakan teknologi Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS). Sistem ini masuk kategori mild hybrid atau hybrid ringan. Berbeda dengan full hybrid, mobil ini tidak bisa berjalan hanya menggunakan tenaga listrik.

Dalam sistem SHVS, Suzuki memakai dua komponen utama, yakni Integrated Starter Generator (ISG) dan baterai tambahan lithium-ion. ISG bertugas membantu akselerasi awal, mendukung fitur engine start-stop, sekaligus menyimpan energi saat deselerasi.

Menariknya, Suzuki Ertiga Hybrid memakai dua baterai sekaligus. Pertama baterai konvensional lead acid 55 Ah 12 volt, dan kedua baterai lithium-ion 6 Ah 12 volt yang diletakkan di bawah kursi penumpang.

Karena kapasitas baterainya kecil, sistem hybrid ini memang jauh lebih sederhana dibanding full hybrid. Bahkan mobil tetap sepenuhnya bergantung pada mesin bensin untuk bergerak.

Hal inilah yang membuat banyak orang kecewa karena ekspektasi mereka terhadap mobil hybrid identik dengan kendaraan yang bisa berjalan memakai motor listrik.

“Secara teknis Suzuki tidak berbohong karena SHVS memang termasuk sistem hybrid,” sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan video tersebut.

Kenapa Harga Suzuki Ertiga Hybrid Bisa di Bawah Rp300 Juta?

Salah satu alasan Suzuki Ertiga Hybrid ramai dibahas adalah harga jualnya yang jauh lebih murah dibanding mobil hybrid lain di Indonesia.

Saat banyak mobil hybrid dijual mulai Rp400 jutaan, Suzuki Ertiga Hybrid masih berada di bawah Rp300 juta. Perbedaan teknologi menjadi faktor utama.

Mobil full hybrid membutuhkan motor listrik besar, inverter, hingga baterai berkapasitas tinggi yang harganya sangat mahal. Sebagai gambaran, baterai Toyota Innova Zenix disebut berada di kisaran Rp40 jutaan.

Sementara Suzuki mengklaim harga baterai Ertiga Hybrid hanya sekitar Rp14 jutaan karena kapasitas dan fungsi penggunaannya jauh lebih ringan.

Strategi ini membuat Suzuki bisa menawarkan mobil berlabel hybrid dengan harga lebih terjangkau. Di sisi lain, label hybrid juga memberi kesan modern, canggih, dan ramah lingkungan bagi konsumen.

Tidak sedikit pengguna yang tertarik membeli karena adanya emblem hybrid pada kendaraan tersebut. Bahkan dalam pasar otomotif, label hybrid dinilai punya nilai jual tersendiri untuk meningkatkan citra kendaraan.

Namun, sebagian konsumen merasa konsumsi BBM Ertiga Hybrid tidak berbeda signifikan dibanding mobil bensin biasa. Suzuki sendiri mengklaim efisiensi bahan bakar meningkat sekitar 5 sampai 10 persen.

Kenapa Banyak Konsumen Menyebut Ertiga Hybrid Menyesatkan?

Permasalahan utama bukan terletak pada teknologi, melainkan pada cara pemasaran. Banyak konsumen awam memahami istilah hybrid sebagai mobil yang mampu berjalan menggunakan tenaga listrik.

Padahal Suzuki sejak awal memakai sistem mild hybrid yang teknologinya jauh lebih sederhana.

Di situs resminya, Suzuki memang lebih sering menonjolkan kata “Hybrid” dibanding menjelaskan detail bahwa teknologi SHVS termasuk kategori mild hybrid.

Akibatnya muncul miskomunikasi di masyarakat. Banyak pengguna forum otomotif menganggap Ertiga Hybrid hanyalah gimmick pemasaran karena manfaat hybrid yang dirasakan tidak terlalu besar.

Padahal secara regulasi dan teknis, Suzuki tetap memenuhi definisi kendaraan hybrid karena menggunakan kombinasi mesin pembakaran dan sistem elektrifikasi tambahan.

Pengamat otomotif juga menilai penggunaan istilah hybrid tanpa edukasi yang jelas dapat memicu ekspektasi berlebihan dari konsumen.

Meski begitu, keberadaan mild hybrid tetap punya manfaat seperti membuat start-stop engine lebih halus, membantu akselerasi awal, dan sedikit meningkatkan efisiensi BBM.

Pada akhirnya, anggapan “hybrid palsu” bergantung pada sudut pandang masing-masing konsumen. Jika memahami sejak awal bahwa Ertiga memakai mild hybrid, maka ekspektasi terhadap mobil ini tentu akan berbeda dibanding full hybrid premium.

Suzuki pun dinilai berhasil menghadirkan opsi elektrifikasi yang lebih murah untuk pasar Indonesia, meski harus menghadapi kritik soal komunikasi pemasaran yang dianggap kurang transparan.

Baca Juga: Polytron Fox 350 Diklaim Lebih Baik dari Fox R, Benarkah? Ini Hasil Tes Konsumsi Daya dan Fitur Motor Listrik Rp15 Jutaan

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#suzuki ertiga hybrid #hybrid palsu #SHVS Suzuki #mild hybrid Indonesia #konsumsi BBM Ertiga Hybrid