Radar Tulungagung - Sepeda listrik kini tidak lagi identik dengan desain berat dan kaku. Teknologi terbaru membuat e-bike semakin nyaman digunakan untuk kebutuhan harian maupun touring jarak jauh. Salah satu yang cukup menarik perhatian di 2025 adalah Polygon Gili Meno E-Bike, sepeda urban hybrid yang menawarkan kombinasi tenaga listrik, kenyamanan, dan efisiensi.
Secara tampilan, Polygon Gili Meno memang terlihat seperti sepeda hybrid biasa. Namun di balik desainnya, sepeda ini membawa motor listrik 250 watt dan baterai berkapasitas besar yang mampu membantu pengendara saat melintasi jalan menanjak maupun perjalanan jauh.
Baca Juga: Banyak Tempat Sampah Rusak di Jalan Protokol Tulungagung, Peremajaan Disiapkan Tahun Ini
Suspensi Depan dan Pedal Assist Jadi Andalan Polygon Gili Meno
Salah satu hal yang paling terasa saat mencoba Polygon Gili Meno adalah kenyamanan suspensinya. Polygon membekali sepeda ini dengan fork suspensi travel 80 mm yang membuat perjalanan di jalan berbatu, kerikil, hingga polisi tidur terasa lebih halus.
Karakter riding-nya juga masih terasa seperti sepeda hybrid konvensional. Posisi duduk santai dan handling ringan membuat pengguna tidak membutuhkan adaptasi lama saat pertama kali mengendarainya.
Polygon menggunakan ban 700x38C yang cukup ideal untuk kebutuhan urban riding dan touring ringan. Meski tidak sebesar ban MTB, ukuran tersebut masih nyaman dipakai di berbagai kondisi jalan.
Motor listrik 250 watt yang digunakan juga terasa responsif. Polygon menyediakan beberapa mode pedal assist yang dapat dipilih sesuai kebutuhan pengguna.
Mode pertama sudah cukup nyaman untuk penggunaan santai. Sedangkan mode tertinggi mampu membawa sepeda melaju hingga sekitar 32 kilometer per jam hanya dalam waktu singkat.
Bahkan saat melewati tanjakan, bantuan motor listrik terasa sangat membantu sehingga pengguna tidak cepat lelah saat gowes jarak jauh.
Baterai Bisa Tempuh Hingga 95 Kilometer Sekali Pengisian
Keunggulan lain dari Polygon Gili Meno ada pada kapasitas baterainya. Sepeda listrik ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 95 kilometer dalam sekali pengisian penuh.
Jarak tersebut cukup impresif untuk ukuran sepeda listrik urban hybrid dan sangat cocok digunakan untuk touring maupun commuting harian.
Untuk proses pengisian daya, baterai membutuhkan waktu sekitar enam hingga delapan jam hingga penuh. Pengguna juga bisa melepas baterai secara praktis menggunakan kunci tanpa harus membawa seluruh sepeda saat charging.
Sistem removable battery ini dinilai lebih fleksibel dibanding model baterai tanam permanen.
Polygon juga membekali baterainya dengan Battery Management System untuk menjaga keamanan selama penggunaan maupun pengisian daya.
Selain itu, Polygon memberikan garansi spare part dan baterai hingga dua tahun. Ketersediaan baterai pengganti juga dikabarkan akan disediakan secara resmi sehingga pengguna tidak perlu khawatir soal perawatan jangka panjang.
Bobot Berat dan Quick Release Jadi Catatan Kekurangan
Meski menawarkan banyak kelebihan, Polygon Gili Meno tetap memiliki beberapa kekurangan yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli.
Salah satu yang paling terasa adalah bobotnya yang cukup berat. Ketika motor listrik aktif, sepeda memang terasa ringan dikendarai. Namun saat harus didorong manual, bobotnya cukup melelahkan.
Kekurangan lain ada pada roda belakang yang belum menggunakan quick release. Hal ini membuat proses membuka roda belakang menjadi lebih rumit ketika terjadi ban bocor di jalan.
Pengguna harus membawa kunci tambahan untuk membuka roda belakang sebelum mengganti ban dalam.
Selain itu, groupset Shimano Altus yang digunakan masih tergolong entry level. Untuk penggunaan aspal harian sebenarnya sudah cukup, tetapi pada jalur berbatu performanya dianggap kurang maksimal dan lebih mudah mengalami chain skip.
Meski begitu, dengan harga di kisaran Rp15 hingga Rp16 jutaan, Polygon Gili Meno tetap menjadi salah satu sepeda listrik hybrid paling menarik di kelasnya.
Sepeda ini cocok bagi pengguna yang ingin menjelajah lebih jauh dengan tenaga lebih ringan tanpa kehilangan sensasi gowes seperti sepeda konvensional.
Editor : M. Helmi Nurhisam