BOGOR – Budaya berkendara di hari Minggu pagi atau yang akrab dikenal dengan istilah Sunday Morning Ride (Sunmori), kini mulai mengalami transformasi yang cukup signifikan. Jika biasanya deretan motor gede (moge) atau skuter matik bermesin bensin 250 cc mendominasi jalur perbukitan, pemandangan berbeda justru terlihat di kawasan dataran tinggi Bogor baru-baru ini. Tren anyar menunjukkan bahwa kendaraan listrik murni mulai diandalkan untuk menaklukkan rute-rute antarkota yang menantang dan sarat tanjakan curam.
Sebuah pembuktian ketangguhan armada bertenaga setrum dilakukan oleh sekelompok pencinta otomotif urban dengan menunggangi produk flagship Polytron Fox 500. Mengambil rute perjalanan dari Kota Bogor menuju kawasan Puncak 1 hingga tembus ke jalur Puncak 2, perjalanan komuter rekreasi sejauh 120 kilometer ini dirancang untuk menguji keandalan performa sekaligus menghitung efisiensi riil biaya operasional motor listrik kasta tertinggi buatan lokal tersebut jika dibandingkan dengan skutik konvensional.
Sebelum roda berputar membelah aspal pegunungan, rombongan melakukan titik kumpul (tikum) di area Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN UP3 Pajaran, Kota Bogor. Lokasi ini dipilih secara taktis untuk memberikan kesempatan bagi pengendara yang datang dari area Jakarta melakukan pengisian daya tambahan (top-up) agar kapasitas baterai berada di kondisi optimal sebelum mulai menanjak ke arah pegunungan.
Menakar Efisiensi Biaya Melawan Skutik Konvensional
Salah satu fokus utama dalam agenda perjalanan akhir pekan ini adalah melakukan kalkulasi pengeluaran KWH listrik yang dihabiskan sepanjang perjalanan. Sebagai komparasi, jika menempuh rute memutar Puncak 1 dan Puncak 2 menggunakan motor matik bensin kelas 250 cc seperti Yamaha XMAX atau R25, biaya bahan bakar minyak (BBM) yang wajib dikeluarkan berkisar antara Rp60.000 hingga Rp70.000 untuk satu kali putaran penuh.
Ketangguhan manajemen daya Polytron Fox 500 mulai diuji saat melesat menuju pos pemberhentian pertama di kawasan Cimacan untuk sarapan. Setibanya di SPKLU PLN Cimacan setelah menempuh jarak sejauh 49,7 kilometer dengan kontur jalan menanjak, indikator sisa baterai pada panel instrumen digital kendaraan tercatat masih menyisakan daya sebesar 25 persen.
Proses pengisian daya ulang dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas pengisian cepat (fast charging) yang tersedia di lokasi. Sembari para pengendara beristirahat dan menikmati sarapan, pengisian daya baterai litium berkapasitas 3,89 kWh milik Fox 500 berjalan dengan sangat ringkas. Dalam kurun waktu kurang dari 1 jam saja, pasokan daya listrik pada kendaraan sudah kembali menyentuh angka 100 persen dan siap untuk kembali digunakan menerjang tantangan jalur Puncak 2 yang dikenal memiliki tanjakan lebih terjal.
Performa Tangguh Tanpa Gejala Overheat di Jalur Pegunungan
Memasuki koridor Puncak 2 hingga berakhir di kawasan Sirkuit Sentul, performa motor penggerak tengah (mid drive) berdaya 5.000 watt milik skuter maksi ini menyajikan impresi berkendara yang sangat positif. Torsi melimpah yang disalurkan melalui sistem belt membuat kendaraan dengan mudah melibas setiap tikungan menanjak tanpa gejala kehilangan tenaga, sekaligus membuktikan bahwa manajemen suhu pada modul kelistrikan flagship ini bekerja dengan sangat baik tanpa kendala overheat.
Saat perjalanan berakhir di kawasan Sentul, indikator daya menunjukkan sisa baterai masih bertengger aman di angka 53 persen. Dengan estimasi sisa daya hingga tiba di rumah berada di kisaran 40 persen, total pengeluaran biaya listrik untuk menempuh jarak 120 kilometer terbukti jauh lebih murah dan ekonomis jika dibandingkan dengan motor bensin. Ditunjang kenyamanan suspensi monoshock yang empuk, motor listrik seharga Rp43 jutaan ini sukses membuktikan diri sebagai moda transportasi jarak jauh yang sangat andal, efisien, dan bebas polusi.
Editor : Natasha Eka Safrina