Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Terungkap Setelah Dipakai 3 Minggu, Ini 3 Kelemahan Sepeda Listrik United Dresden 2.0 yang Jarang Dibahas Pengguna

Gita Dwi Nuraini • Kamis, 11 Juni 2026 | 15:30 WIB
United Dresden 2.0 ternyata punya tiga kelemahan utama, mulai dari suara sein yang keras hingga ground clearance rendah.(Gemini AI)
United Dresden 2.0 ternyata punya tiga kelemahan utama, mulai dari suara sein yang keras hingga ground clearance rendah.(Gemini AI)

 

RADAR TULUNGAGUNG – Sepeda listrik United Dresden 2.0 menjadi salah satu model yang cukup menarik perhatian di pasar kendaraan listrik Indonesia. Desainnya yang unik dan tampilan klasik modern membuat model ini banyak diminati masyarakat untuk kebutuhan mobilitas harian.

Namun, di balik berbagai keunggulan yang ditawarkan, ternyata terdapat beberapa kekurangan yang dirasakan langsung oleh pengguna setelah pemakaian selama dua hingga tiga minggu. Pengalaman tersebut dibagikan dalam sebuah video ulasan yang membahas sejumlah aspek yang dianggap kurang memuaskan dari sepeda listrik United Dresden 2.0.

Meski tidak sampai mengurangi fungsi utama kendaraan, beberapa catatan ini dinilai penting untuk diketahui calon pembeli sebelum memutuskan membawa pulang sepeda listrik United Dresden 2.0.

Baca Juga: Polygon Syncline DR6 2026 Resmi Meluncur, MTB Carbon Rp40 Jutaan dengan Bobot 10 Kg dan Suspensi Fox Jadi Sorotan

Suara Lampu Sein Terlalu Keras dan Cempreng

Kekurangan pertama yang paling mengganggu menurut pengguna adalah suara lampu sein. Saat fitur sein diaktifkan, suara indikator belok yang dihasilkan terdengar sangat keras dan cenderung cempreng.

Menurut pengulas, bunyi tersebut bahkan cukup menarik perhatian orang-orang di sekitar karena volumenya yang tinggi. Setiap kali hendak berbelok, suara sein menjadi sangat mencolok dibandingkan suara kendaraan itu sendiri.

Menariknya, pengguna justru lebih menyukai suara klakson bawaan kendaraan dibandingkan suara sein tersebut. Klakson dinilai memiliki karakter suara yang lebih nyaman didengar.

Hingga saat video dibuat, pengguna mengaku belum mengetahui apakah tersedia pengaturan khusus untuk mengurangi volume suara sein maupun klakson. Karena itu, ia berharap ada informasi dari pengguna lain yang mengetahui cara melakukan pengaturan tersebut.

Baca Juga: Cari Sepeda Urban untuk Ngantor? Ini Daftar Sepeda Polygon Terbaik 2026, Harga Mulai Rp4 Jutaan hingga Rp9 Jutaan

Sistem Rem Dinilai Kurang Pakem

Kekurangan kedua yang menjadi sorotan adalah sektor pengereman. Berdasarkan informasi yang dibaca pengguna pada buku manual, United Dresden 2.0 menggunakan sistem pengereman drum brake di bagian depan dan band brake di bagian belakang.

Menurut pengalamannya, performa pengereman tersebut terasa kurang meyakinkan, terutama saat kendaraan digunakan pada kecepatan yang lebih tinggi. Pengguna merasa rem masih kurang pakem dan terkadang memberikan sensasi sedikit menggelosor ketika digunakan untuk memperlambat laju kendaraan.

Kondisi ini semakin terasa bagi pengguna yang sehari-hari terbiasa mengendarai sepeda motor dengan rem cakram. Perbedaan karakter pengereman membuat adaptasi menjadi diperlukan saat menggunakan sepeda listrik ini.

Meski demikian, pengulas menilai kondisi tersebut bukan hanya terjadi pada United Dresden 2.0. Sebagian besar sepeda listrik yang beredar di pasaran juga masih menggunakan sistem pengereman serupa.

Dalam ulasannya, ia bahkan menyinggung model lain dari United, yakni Salvador SE, yang telah menggunakan rem cakram pada roda depan dan belakang. Menurutnya, jika Dresden 2.0 dibekali sistem pengereman serupa, faktor keselamatan dan kenyamanan berkendara tentu akan meningkat secara signifikan.

Baca Juga: Rekomendasi Sepeda Polygon Urban Terbaik 2026, Harga Mulai Rp4 Jutaan untuk Komuter Harian hingga Touring Kota

Ground Clearance Rendah, Mudah Mentok Polisi Tidur

Kekurangan ketiga yang cukup mengganggu adalah ground clearance atau jarak terendah bodi kendaraan ke permukaan jalan yang dinilai terlalu rendah.

Pengalaman ini terjadi ketika pengguna mencoba berkendara berboncengan bersama suaminya dengan total berat lebih dari 150 kilogram. Saat melewati polisi tidur, bagian bawah kendaraan langsung bergesekan dengan permukaan jalan.

Awalnya, kondisi tersebut diduga terjadi karena beban kendaraan yang terlalu berat. Namun setelah dicoba kembali dengan beban yang jauh lebih ringan, yakni kurang dari 90 kilogram bersama anak-anak, masalah yang sama ternyata masih terjadi.

Karena penasaran, pengguna kemudian melakukan pengukuran sederhana terhadap ground clearance kendaraan. Hasilnya menunjukkan jarak ke tanah hanya sekitar 10 sentimeter.

Angka tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan rata-rata motor matik yang umumnya memiliki ground clearance sekitar 14 hingga 15 sentimeter. Akibatnya, pengguna harus lebih berhati-hati saat melewati polisi tidur, jalan berlubang, atau permukaan jalan yang tidak rata.

Tetap Menarik, Tetapi Perlu Jadi Pertimbangan

Meskipun memiliki beberapa kekurangan, United Dresden 2.0 tetap menawarkan sejumlah keunggulan dari sisi desain dan kepraktisan penggunaan. Namun, tiga catatan utama berupa suara sein yang terlalu keras, sistem pengereman yang dianggap kurang maksimal, serta ground clearance rendah menjadi hal yang perlu diperhatikan calon pembeli.

Bagi pengguna yang sering melintasi jalan dengan banyak polisi tidur atau mengutamakan performa pengereman yang kuat, aspek-aspek tersebut layak dijadikan bahan pertimbangan sebelum memilih sepeda listrik United Dresden 2.0 sebagai kendaraan harian.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#sepeda listrik United #United Dresden 2.0 #kelemahan United Dresden 2.0 #ground clearance #sistem pengereman sepeda listrik