Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengakuan Pemilik Wuling Air EV Bekas, Beli Rp170 Jutaan dan Hemat Rp1,7 Juta per Bulan, Tapi Ada Satu Hal yang Bikin Takut Jual

Gita Dwi Nuraini • Senin, 15 Juni 2026 | 17:04 WIB
Pemilik Wuling Air EV bekas mengaku hemat hingga Rp1,7 juta per bulan. Simak pengalaman, biaya cas, dan pajaknya.(Gemini AI)
Pemilik Wuling Air EV bekas mengaku hemat hingga Rp1,7 juta per bulan. Simak pengalaman, biaya cas, dan pajaknya.(Gemini AI)

 

RADAR TULUNGAGUNG - Wuling Air EV bekas semakin banyak diminati masyarakat yang ingin beralih ke kendaraan listrik dengan biaya lebih terjangkau. Selain harga yang kini lebih murah dibanding saat baru, mobil listrik mungil ini juga menawarkan biaya operasional yang sangat rendah untuk penggunaan harian di perkotaan.

Hal itu diungkapkan langsung oleh seorang pemilik Wuling Air EV tahun 2023 yang membagikan pengalaman penggunaan mobil listrik tersebut dalam aktivitas sehari-hari. Menurutnya, alasan utama beralih ke mobil listrik adalah untuk menghindari aturan ganjil genap sekaligus mendapatkan kendaraan yang lebih praktis digunakan di kawasan perkotaan.

Pemilik Wuling Air EV tersebut sebelumnya menggunakan Honda Jazz generasi terakhir. Namun setelah mempertimbangkan kebutuhan mobilitas harian menuju kawasan Jakarta Pusat yang melewati Jalan Sudirman, ia memutuskan menjual mobil lamanya dan beralih ke kendaraan listrik.

Menariknya, unit yang dibeli bukanlah mobil baru. Wuling Air EV tersebut merupakan kendaraan bekas yang dibeli pada tahun 2024 dengan harga sekitar Rp170 jutaan. Saat dibeli, odometer mobil baru menunjukkan angka sekitar 4.000 kilometer sehingga kondisinya masih tergolong sangat baik.

Baca Juga: Rekonstruksi Total Jembatan Junjung Senilai Rp 7 Miliar Molor, PUPR Tulungagung Masih Tunggu Izin Kementerian PU

Garansi Baterai Jadi Pertimbangan Utama

Salah satu fakta menarik dari pasar mobil listrik bekas adalah banyak pemilik memilih tidak melakukan balik nama kendaraan.

Alasannya bukan semata-mata soal administrasi, melainkan untuk menjaga status garansi baterai yang masih melekat pada pemilik pertama.

Menurut pemilik kendaraan tersebut, biaya penggantian baterai utama mobil listrik sangat mahal. Bahkan nilainya bisa mendekati harga sebuah mobil bekas. Karena itu, banyak pemilik kendaraan listrik bekas lebih memilih mempertahankan identitas kepemilikan pertama agar proses klaim garansi tetap berjalan lancar jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Fenomena ini juga menjadi salah satu alasan mengapa pasar mobil listrik bekas memiliki karakter berbeda dibanding kendaraan berbahan bakar minyak (BBM).

Baca Juga: Yamaha Launching MX King 150 Prima Pramac Livery di Jakarta Fair, Penuhi Passion Penikmat Balap

Pajak Tahunan Sangat Murah

Selain biaya operasional yang rendah, pajak tahunan Wuling Air EV juga menjadi daya tarik tersendiri.

Pemilik mengaku hanya membayar pajak kendaraan sekitar Rp143 ribu per tahun. Angka tersebut bahkan disebut-sebut hampir setara dengan pajak sepeda motor.

Kebijakan insentif pemerintah terhadap kendaraan listrik dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat biaya kepemilikan mobil listrik jauh lebih ringan dibanding kendaraan konvensional.

Meski demikian, masih banyak pertanyaan terkait status pajak progresif bagi kendaraan listrik yang menjadi mobil kedua dalam satu keluarga. Hingga kini, sebagian pemilik kendaraan masih mencari kepastian terkait aturan tersebut.

Baca Juga: Tak Lagi Ditilang, Truk Bertonase Besar yang Nekat Lewat Jalur Alternatif Jembatan Gondang 1 Tulungagung Kini Dipaksa Putar Balik

Sekali Cas Bisa Tempuh Hingga 300 Kilometer

Untuk kebutuhan harian, Wuling Air EV tipe Long Range yang digunakan pemilik ini memiliki jarak tempuh maksimal sekitar 300 kilometer dalam kondisi baterai penuh.

Pengisian daya biasanya dilakukan di rumah menggunakan charger bawaan pabrik. Dalam kondisi baterai sekitar 60 persen, proses pengisian dari malam hingga pagi hari sudah cukup untuk mencapai kapasitas penuh.

Pemilik juga menjelaskan bahwa sistem pengisian daya memiliki fitur keamanan tambahan. Saat kendaraan dalam kondisi terkunci dan sedang mengisi daya, kabel charger tidak dapat dilepas sembarangan sehingga lebih aman ketika digunakan di lokasi umum.

Hemat Hingga Rp1,7 Juta per Bulan

Keunggulan terbesar Wuling Air EV terletak pada efisiensi biaya operasional.

Untuk perjalanan harian dari kawasan Cakung menuju Jakarta Pusat dan kembali pulang, konsumsi baterai hanya berkisar 12 hingga 14 persen. Dengan pola penggunaan tersebut, kendaraan hanya perlu diisi daya sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Jika dihitung menggunakan tarif pengisian daya sekitar Rp25 ribu per sekali cas penuh, biaya energi yang dikeluarkan hanya sekitar Rp300 ribu per bulan.

Angka tersebut jauh lebih murah dibanding mobil berbahan bakar bensin yang sebelumnya digunakan pemilik. Saat masih menggunakan kendaraan BBM, biaya bahan bakar bisa mencapai sekitar Rp2 juta per bulan.

Artinya, terdapat potensi penghematan hingga Rp1,7 juta setiap bulan hanya dari sisi biaya energi.

Meski menawarkan banyak keuntungan, pemilik menilai mobil listrik seperti Wuling Air EV lebih cocok dijadikan kendaraan kedua atau ketiga dalam keluarga. Untuk perjalanan jarak jauh seperti mudik antarkota, kendaraan berbahan bakar minyak masih dianggap lebih fleksibel dan praktis digunakan.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#Mobil Listrik Wuling #Wuling Air EV Bekas #Biaya Cas Mobil Listrik #Pengalaman Pemilik Air EV #Wuling Air EV