Harga Wuling Air EV Bekas Jeblok hingga Rp85 Juta, Garansi Baterai Jadi Sorotan, Benarkah EV Bisa Jadi “Bom Waktu” Biaya?

Gita Dwi Nuraini • Dipublikasikan Senin, 15 Juni 2026 | 17:16 WIB
Harga Wuling Air EV bekas turun hingga Rp85 juta. Garansi baterai dan risiko EV jadi sorotan di tengah ledakan pasar kendaraan listrik.(Gemini AI)
Harga Wuling Air EV bekas turun hingga Rp85 juta. Garansi baterai dan risiko EV jadi sorotan di tengah ledakan pasar kendaraan listrik.(Gemini AI)

 

RADAR TULUNGAGUNG - Harga Wuling Air EV kembali menjadi perbincangan hangat di pasar otomotif Indonesia. Mobil listrik mungil yang sebelumnya digadang-gadang sebagai pionir EV terjangkau kini menghadapi tekanan besar di pasar mobil bekas, dengan harga yang disebut sudah turun hingga di bawah Rp100 juta untuk unit tertentu.

Fenomena ini tidak lepas dari meningkatnya penetrasi kendaraan listrik di Indonesia, terutama setelah tahun 2025 yang disebut sebagai masa “ledakan EV”. Banyak produsen global dan lokal masuk ke pasar dengan berbagai model baru, sehingga membuat nilai jual kembali Wuling Air EV ikut tertekan.

Harga Wuling Air EV bekas yang terus merosot memunculkan pertanyaan besar di kalangan konsumen: apakah mobil listrik benar-benar ekonomis dalam jangka panjang, atau justru menyimpan risiko biaya tersembunyi yang besar?

Baca Juga: Rekonstruksi Total Jembatan Junjung Senilai Rp 7 Miliar Molor, PUPR Tulungagung Masih Tunggu Izin Kementerian PU

Ledakan EV 2025 dan Dampaknya ke Pasar Mobil Bekas

Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan signifikan dalam adopsi kendaraan listrik. Meski awalnya pertumbuhannya sangat lambat dengan penetrasi di bawah 2 persen per tahun, kondisi tersebut berubah drastis menjelang 2025.

Kebijakan pemerintah yang mendukung industri kendaraan listrik membuat banyak produsen berlomba masuk ke pasar Indonesia. Akibatnya, pilihan EV menjadi jauh lebih beragam dengan harga yang semakin kompetitif.

Namun, masuknya banyak model baru justru memberikan tekanan pada mobil listrik generasi awal seperti Wuling Air EV. Dalam waktu kurang dari tiga tahun sejak peluncurannya pada 2022, harga bekasnya mengalami penurunan tajam.

Di pasar daring, beberapa unit Wuling Air EV Long Range tahun 2022 bahkan disebut bisa ditemukan di kisaran Rp85 juta, jauh di bawah harga saat baru yang mencapai Rp295 juta.

Baca Juga: Yamaha Launching MX King 150 Prima Pramac Livery di Jakarta Fair, Penuhi Passion Penikmat Balap

Baterai Jadi Penentu Nilai Jual EV

Berbeda dengan mobil konvensional, nilai kendaraan listrik sangat ditentukan oleh kondisi baterai atau State of Health (SOH). Semakin rendah kesehatan baterai, semakin besar penurunan nilai kendaraan.

Secara teori, baterai EV memiliki umur pakai sekitar 8 hingga 10 tahun, bahkan beberapa produsen menawarkan garansi hingga 8 tahun atau lebih. Namun, garansi tersebut umumnya memiliki syarat ketat, termasuk kewajiban servis rutin di bengkel resmi.

Jika pemilik melewatkan jadwal servis, maka garansi bisa hangus meskipun masalah tidak berkaitan langsung dengan baterai.

Baca Juga: Tak Lagi Ditilang, Truk Bertonase Besar yang Nekat Lewat Jalur Alternatif Jembatan Gondang 1 Tulungagung Kini Dipaksa Putar Balik

Kasus Garansi Baterai yang Ditolak

Salah satu kasus yang ramai dibahas adalah pemilik Wuling Air EV yang mengalami kerusakan baterai hingga mobil tidak dapat digunakan. Saat mengajukan klaim garansi, permohonan tersebut ditolak karena pemilik tercatat melewatkan jadwal servis di kilometer 20.000.

Akibatnya, pemilik harus menanggung biaya penggantian baterai yang dikabarkan mencapai sekitar Rp145 juta, sementara harga mobil bekasnya saat itu hanya sekitar Rp85 juta.

Kondisi ini memunculkan dilema baru di pasar EV: biaya penggantian komponen utama bisa lebih mahal dibanding nilai kendaraan itu sendiri.

Risiko Teknis dan Faktor Charging

Secara teknis, baterai Wuling Air EV menggunakan jenis Lithium Iron Phosphate (LFP) yang dikenal lebih stabil dan tahan panas dibanding baterai berbasis nikel. Dalam kondisi ideal, baterai jenis ini mampu bertahan hingga ribuan siklus pengisian.

Namun dalam praktiknya, banyak faktor yang memengaruhi umur baterai, seperti kebiasaan fast charging, overcharging, hingga suhu lingkungan.

Kesalahan penggunaan adaptor atau sistem pengisian yang tidak sesuai juga dapat menyebabkan panas berlebih, yang berpotensi mempercepat degradasi atau kerusakan baterai.

EV Masih Ekonomis, Tapi Tidak untuk Semua Orang

Secara umum, kendaraan listrik tetap dianggap lebih hemat dalam biaya operasional dibanding mobil berbahan bakar bensin. Namun, efisiensi tersebut sangat bergantung pada kedisiplinan pemilik dalam mengikuti aturan servis dan penggunaan yang benar.

Jika pengguna patuh terhadap ketentuan garansi dan perawatan, EV bisa menjadi kendaraan yang sangat ekonomis, terutama untuk penggunaan jangka pendek hingga menengah.

Namun sebaliknya, jika pemilik mengabaikan servis resmi atau tidak memahami cara perawatan baterai dengan benar, risiko kerugian finansial bisa sangat besar.

Wuling Air EV di Tengah Tekanan Pasar

Wuling Air EV saat ini berada di posisi yang cukup sulit. Sebagai salah satu EV generasi awal dengan desain sederhana dan segmentasi perkotaan, mobil ini kini harus bersaing dengan model-model baru yang lebih modern dan lebih jauh jarak tempuhnya.

Kondisi tersebut membuat nilai jual kembali Air EV terus tertekan, sementara minat terhadap unit baru ikut melemah karena selisih harga dengan unit bekas sangat jauh.

Meski demikian, Air EV masih memiliki keunggulan sebagai mobil perkotaan yang praktis, hemat energi, dan mudah digunakan di jalan sempit.

Fenomena ini sekaligus menjadi pelajaran penting bahwa dalam ekosistem kendaraan listrik, harga jual kembali dan kesehatan baterai menjadi faktor krusial yang tidak bisa diabaikan oleh calon pembeli.

Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : Pinterest
Depresiasi Mobil Listrik garansi baterai EV Harga Bekas Wuling Air EV Mobil listrik Indonesia Wuling Air EV