RADARTULUNGAGUNG- Review Yadea G8S Pro setelah dipakai selama dua tahun mengungkap pengalaman penggunaan motor listrik untuk aktivitas harian, mulai dari performa, jarak tempuh, biaya pengisian daya hingga perawatan. Pengguna juga menyoroti baterai SLA yang akhirnya diganti dan di-upgrade menjadi baterai lithium.
Yadea G8S Pro Dipilih untuk Kebutuhan Harian
Yadea G8S Pro awalnya dipilih karena pengguna tertarik setelah melihat produk Yadea di jaringan Indomobil. Setelah mencoba beberapa model, Yadea G8S Pro dinilai lebih nyaman dan memiliki bagasi yang luas.
Bagasi menjadi salah satu keunggulan yang dirasakan selama penggunaan. Ruang tersebut dapat digunakan untuk membawa charger, jas hujan, kabel extension hingga sandal.
Baca Juga: Pagelaran Seni Arena Gembira 5626 Sukses, Jadi Kebanggaan Pondok Modern Darul Hikmah
Bahkan, pengguna menyebut laptop berukuran 13 inci masih dapat dimasukkan ke dalam bagasi. Fitur tersebut dianggap membantu karena motor digunakan untuk perjalanan menuju kantor.
Saat pertama dibeli, harga motor disebut sekitar Rp23,9 juta. Setelah mendapatkan subsidi Rp7 juta dan tambahan promo dealer sekitar Rp1 juta, harga yang dibayarkan menjadi sekitar Rp15,9 juta.
Namun, saat itu pengguna belum memahami perbedaan karakter baterai SLA dan lithium. Pilihan lebih banyak didasarkan pada harga, jarak tempuh, serta pertimbangan jaringan servis.
Performa dan Jarak Tempuh Berubah Setelah Ganti Baterai
Selama menggunakan baterai SLA standar, performa Yadea G8S Pro disebut menurun ketika kapasitas baterai berada di bawah 50 persen. Setelah digunakan sekitar 15 bulan, baterai juga mengalami pembengkakan dan kemudian diganti pada bulan ke-16 melalui garansi.
Baca Juga: Poco C81 Pro Punya Baterai 6.000 mAh, Layar 120 Hz dan Fitur AI
Pengguna kemudian memutuskan melakukan upgrade baterai menjadi LFP berkapasitas 72 volt 45 Ah. Perubahan tersebut membuat jarak tempuh dan performa motor meningkat dibandingkan kondisi standar.
Dengan baterai LFP, perjalanan rumah-kantor sejauh sekitar 38 kilometer menggunakan mode berkendara pertama menyisakan sekitar 68 persen baterai. Sementara pada mode kedua, sisa baterai setelah jarak yang sama disebut sekitar 59–60 persen.
Pengguna juga mengungkapkan charger standar yang digunakan memiliki kapasitas 6 ampere. Pengisian dari sekitar 60 persen hingga penuh membutuhkan waktu sekitar 200 menit.
Dari sisi biaya, penggunaan listrik untuk aktivitas kantor selama sebulan tercatat sekitar 50–60 kWh. Karena pengisian juga dilakukan di kantor, biaya listrik yang ditanggung di rumah disebut hanya sekitar Rp50 ribu per bulan.
Perawatan Yadea G8S Pro dan Masalah Selama 2 Tahun
Baca Juga: 1.461 Perkara Perceraian Masuk PA Tulungagung hingga Juni 2026, Cerai Gugat dari Istri Masih Dominan
Selama dua tahun, perawatan Yadea G8S Pro dinilai relatif sederhana. Servis enam bulan pertama disebut gratis, sedangkan servis pada usia satu tahun menghabiskan sekitar Rp27 ribu.
Masalah paling besar terjadi pada baterai SLA yang mengalami pembengkakan. Baterai tersebut kemudian diganti secara gratis karena masih berada dalam masa garansi.
Selain baterai, pengguna telah mengganti kampas rem sebanyak dua kali dan mengganti ban depan-belakang dengan ukuran sekitar 110/70. Ia juga mengganti spion, klakson, serta menambahkan indikator baterai dan jam pada motor.
Masalah lain muncul pada komstir dan shockbreaker yang menimbulkan bunyi ketika melewati jalan rusak. Komponen tersebut sempat diklaim dan diganti, tetapi pengguna masih menilai bagian kaki-kaki belum memberikan kenyamanan optimal.
Dinamo juga pernah mengalami penyok setelah motor melewati lubang dengan kondisi ban yang kemungkinan kurang angin. Perbaikannya dilakukan dengan cara diketok dan disebut hanya menghabiskan sekitar Rp20 ribu.
Meski memiliki sejumlah catatan, pengguna masih menilai motor listrik memberikan kenyamanan untuk perjalanan harian. Motor terasa lebih senyap dan minim getaran dibandingkan motor konvensional.
Setelah dua tahun penggunaan, pengguna menyimpulkan Yadea G8S Pro masih nyaman untuk kebutuhan pergi-pulang kantor, terutama bagi pengguna yang dapat melakukan pengisian daya di rumah maupun tempat kerja.
Namun, untuk calon pembeli baru, ia menyarankan mempertimbangkan motor listrik yang sudah menggunakan baterai lithium. Menurut pengalamannya, baterai SLA memberikan karakter performa yang berbeda dan akhirnya membutuhkan penggantian.
“Kalau misalnya kalian baru mau membeli motor listrik, cari baterai yang sudah lithium,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemilihan jenis baterai menjadi salah satu faktor penting sebelum membeli motor listrik, selain harga, jarak tempuh, jaringan servis, dan kebutuhan pengisian daya.
Editor : Mohammad Ibnu SyafiSumber : Dari berbagai sumber