JAKARTA - Polygon Monarch M3 kembali diuji untuk bersepeda setelah pemiliknya hampir satu bulan vakum. Sepeda gunung tersebut dibawa menaklukkan Tanjakan 13 sekaligus menjadi bahan ulasan mengenai spesifikasi dan sejumlah komponen yang digunakan.
Pengujian dilakukan setelah aktivitas bersepeda sempat terhenti selama sekitar tiga minggu. Kondisi cuaca menjadi salah satu alasan pengendara tidak rutin bersepeda.
Karena itu, Tanjakan 13 dipilih sebagai lokasi pemanasan. Pengendara ingin mengetahui kemampuan sepeda sekaligus mengembalikan kondisi fisik sebelum kembali melakukan perjalanan yang lebih jauh.
Sebelumnya, ia berencana membawa sepeda tersebut untuk long ride menuju Puncak. Namun, rencana itu tidak terlaksana karena hujan yang berlangsung berulang kali.
Dalam perjalanan menuju tanjakan, pengendara menggunakan gigi rendah agar kayuhan tetap ringan. Polygon Monarch M3 kemudian dibawa hingga mencapai bagian atas Tanjakan 13.
Setelah sampai, pengendara menyebut jarak yang ditempuh sekitar satu kilometer. Waktu yang tercatat sekitar 10 menit dengan kecepatan sekitar 6 kilometer per jam.
Spesifikasi Polygon Monarch M3
Polygon Monarch M3 yang digunakan dalam video memiliki rangka berbahan alloy. Sepeda tersebut masih menggunakan sistem penggerak 3x7 speed.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Tembus P1 di Aragon, Nyaris Crash Sebelum Rebut Kemenangan
Pada bagian drivetrain, terdapat tiga chainring di depan dan tujuh sprocket di belakang. Komponen perpindahan gigi menggunakan Shimano Tourney.
Sprocket belakang masih menggunakan sistem ulir. Ukurannya disebut sekitar 28T. Konfigurasi tersebut menjadi salah satu bagian yang masih dipertahankan dari sepeda.
Bagian pengereman menggunakan rem cakram mekanik. Pengendara membandingkannya dengan rem hidrolik yang menggunakan minyak rem dan memiliki karakter berbeda dalam perawatan maupun penggunaannya.
Di bagian depan terdapat suspensi Zoom. Sementara roda menggunakan ukuran 26 inci dengan ban berukuran 26 x 1.95 dari Deli Tire.
Wheelset sepeda menggunakan jari-jari yang disebut berjumlah 36. Sistem pengikat roda juga masih menggunakan baut, bukan quick release.
Sejumlah komponen telah diubah agar lebih sesuai dengan kebutuhan pengendara. Stem bawaan diganti menggunakan ukuran 110 milimeter. Penggantian dilakukan karena posisi stem sebelumnya dirasa terlalu pendek.
Seat post juga diganti dengan ukuran lebih panjang. Penyesuaian tersebut dilakukan karena pengendara memiliki kaki yang relatif panjang sehingga membutuhkan posisi sadel yang lebih sesuai.
Dipakai untuk Touring dan Aktivitas Harian
Selain menguji kemampuan menanjak, Polygon Monarch M3 direncanakan untuk digunakan dalam perjalanan jarak lebih jauh. Pengendara menyebut sepeda tersebut ingin dimanfaatkan untuk touring ringan, termasuk rencana perjalanan menuju Bandung.
Baca Juga: Feda Ega Pratama Disebut Raih Podium Aragon, Video Ini Ternyata Hoaks
Namun, Polygon Monarch M3 masih memiliki sejumlah komponen yang dapat di-upgrade. Sistem freehub masih menggunakan model ulir. Bottom bracket juga masih menggunakan model kotak.
Pengendara menilai komponen tersebut dapat diganti apabila pemilik memiliki kebutuhan dan anggaran untuk melakukan peningkatan. Dengan upgrade, sepeda diharapkan dapat memberikan pengalaman berkendara yang lebih nyaman.
Rem mekanik menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian ketika sepeda digunakan untuk turunan. Pengendara mengaku memiliki pengalaman kurang menyenangkan saat mengendarai sepeda dengan rem mekanik di jalan menurun.
Karena itu, ia lebih berhati-hati ketika menggunakan Polygon Monarch M3 pada turunan, terlebih ketika kondisi jalan licin. Sistem pengereman diperiksa dan dikencangkan sebelum sepeda kembali digunakan.
Setelah pengujian di Tanjakan 13 selesai, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan car free day. Polygon Monarch M3 kemudian kembali digunakan untuk aktivitas bersepeda sekaligus menikmati perjalanan.
Sepeda tersebut merupakan hadiah dari Om Taufik. Setelah dipakai untuk menguji tanjakan dan perjalanan, Polygon Monarch M3 menjadi sepeda yang digunakan untuk aktivitas bersepeda ringan hingga rencana touring.
Editor : Maylanni Diana Fitri