RADARTULUNGAGUNG,JAWAPOS.COM - Depresiasi mobil listrik 2026 menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat sebelum membeli kendaraan baru. Perubahan pasar otomotif Indonesia, termasuk persaingan harga dan semakin banyaknya merek asal China, turut memengaruhi harga jual kembali atau resale value mobil listrik. Berdasarkan riset The Overpost, sejumlah mobil listrik mengalami penurunan harga cukup besar setelah dua tahun pemakaian, sementara beberapa model masih mampu mempertahankan nilai jualnya.
Riset tersebut membandingkan harga mobil baru dengan harga penawaran mobil bekas berdasarkan sejumlah sampel. Data yang dikumpulkan mencakup mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) keluaran 2022 dan 2024, serta mobil hybrid (HV) dan plug-in hybrid vehicle (PHV).
Hasilnya memperlihatkan perbedaan depresiasi yang cukup lebar, bahkan pada kendaraan dari merek yang sama. Perbedaan tersebut menjadi pertimbangan bagi calon pembeli yang tidak hanya memperhatikan harga beli, tetapi juga potensi nilai jual kembali kendaraan.
Baca Juga: Mitra Megah Bangunan Gandeng Andalus Hadirkan Layanan Haji dan Umrah di Megah Galeri Tulungagung
Depresiasi Mobil Listrik 2024, Chery dan BYD Pertahankan Nilai Jual
Berdasarkan riset tersebut, mobil listrik keluaran 2024 menunjukkan variasi nilai jual kembali setelah dua tahun pemakaian. Chery iCar J6 AWD mencatatkan resale value sebesar 81,54 persen. Angka tersebut menjadikannya salah satu model dengan nilai jual kembali tertinggi dalam kelompok yang diteliti.
BYD M6 Superior menyusul dengan nilai jual kembali 74,98 persen. Sementara itu, BYD Seal Performance mencatatkan 71,26 persen setelah dua tahun pemakaian.
Sebaliknya, sejumlah model Wuling mengalami penurunan nilai jual yang lebih besar. Wuling Cloud EV Pro hanya mempertahankan 58,07 persen dari harga barunya. Wuling Binguo EV Premium berada di angka 48,35 persen, sedangkan Wuling Air EV Long Range tercatat 43,09 persen.
Jika dikelompokkan berdasarkan merek, rata-rata nilai jual kembali mobil listrik Wuling setelah dua tahun berada di angka 49,84 persen. Hyundai tercatat 63,93 persen, sedangkan BYD mencapai 71,87 persen. Chery mencatatkan rata-rata 72,34 persen berdasarkan model yang masuk dalam sampel penelitian.
Perbedaan juga terlihat berdasarkan jenis kendaraan. Mobil listrik tipe city car memiliki rata-rata nilai jual kembali 45,72 persen setelah dua tahun. Hatchback berada di angka 64,06 persen, SUV 69,96 persen, sedan 71,2 persen, dan MPV 74,98 persen. Namun, kategori sedan dan MPV masing-masing hanya diwakili satu model sehingga hasilnya perlu dicermati.
Penurunan Harga Terbesar Terjadi pada Tahun Pertama
Riset tersebut juga menemukan pola penurunan harga yang cukup konsisten pada mobil listrik keluaran 2024. Rata-rata dari 10 model yang diteliti kehilangan sekitar 31,2 persen dari harga baru setelah satu tahun pemakaian.
Pada tahun kedua, penurunannya jauh lebih kecil, yakni sekitar 4,3 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan nilai jual mobil listrik dalam sampel penelitian lebih besar terjadi pada tahun pertama.
Sebagai gambaran, Wuling Air EV Long Range yang memiliki harga baru Rp295 juta mencatatkan nilai jual kembali 54,69 persen setelah satu tahun. Sementara itu, BYD Atto 1 Premium dengan harga baru Rp235 juta mempertahankan 91,28 persen dari harga awalnya setelah satu tahun.
Meski demikian, angka tersebut merupakan harga penawaran mobil bekas, bukan harga transaksi setelah negosiasi. Karena itu, nilai jual sebenarnya ketika kendaraan berpindah tangan dapat berbeda dari hasil riset.
Baca Juga: 19.886 Siswa SD di Tulungagung Bakal Dapat Bapem Rp 91 Ribu, Ini Isi Paketnya
Mobil Hybrid Memiliki Pola Depresiasi Berbeda
Perbandingan juga dilakukan terhadap mobil hybrid (HV) dan plug-in hybrid (PHV). Kedua jenis kendaraan ini memiliki karakteristik berbeda dari mobil listrik murni. Hybrid menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik, sedangkan plug-in hybrid memiliki baterai yang dapat diisi melalui sumber listrik eksternal.
Untuk PHV keluaran 2025, Chery Tiggo 9 CSH AWD mencatatkan nilai jual kembali 90,9 persen setelah satu tahun. Jaecoo J7 SHS berada di angka 89 persen, sedangkan Chery Tiggo 8 CSH Premium mencapai 82,3 persen.
Rata-rata nilai jual kembali ketiga model PHV tersebut mencapai 87,4 persen. Angka ini relatif dekat dengan rata-rata tiga mobil listrik yang nilai jualnya paling terjaga, yakni sekitar 87,04 persen.
Sementara itu, empat mobil hybrid keluaran 2024 yang diteliti memiliki rata-rata nilai jual kembali 83,59 persen setelah dua tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata 10 mobil listrik keluaran 2024 yang berada di kisaran 64,56 persen.
Salah satu perbandingan yang menarik terlihat pada Hyundai Santa Fe Hybrid dan Hyundai Ioniq 5. Setelah dua tahun, Santa Fe Hybrid mempertahankan 84,38 persen dari harga barunya, sedangkan Ioniq 5 berada di angka 63,93 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa jenis elektrifikasi dapat berkaitan dengan perubahan nilai jual kendaraan. Namun, kondisi pasar, insentif, persaingan harga, dan jumlah unit yang tersedia juga dapat memengaruhi hasilnya.
Perang Harga Memengaruhi Nilai Jual Mobil Bekas
Perkembangan pasar kendaraan listrik turut menjadi latar belakang perubahan harga mobil bekas. Dalam riset tersebut, penjualan mobil listrik murni di Indonesia meningkat dari sekitar 43 ribu unit pada 2024 menjadi sekitar 104 ribu unit pada 2025. Sementara itu, pasar mobil secara keseluruhan justru mengalami penurunan dari sekitar 860 ribu unit menjadi 804 ribu unit pada periode yang sama.
Banyaknya model baru dan persaingan harga berpotensi memengaruhi nilai jual kendaraan yang lebih dahulu beredar. Berbeda dengan pasar mobil listrik, segmen hybrid relatif belum mengalami perang harga dengan skala serupa berdasarkan analisis dalam video tersebut.
Meski begitu, nilai jual kembali bukan satu-satunya pertimbangan ketika membeli mobil. Faktor keselamatan, kenyamanan, fitur, biaya perawatan, dan kebutuhan penggunaan sehari-hari juga perlu diperhitungkan.
Data depresiasi historis dapat menjadi referensi untuk memahami perubahan harga kendaraan. Namun, nilai jual kembali pada masa mendatang belum tentu sama dengan hasil penelitian saat ini, terutama jika terjadi perubahan besar dalam persaingan pasar otomotif.
Baca Juga: 5 Derbi Warnai Hari Pertama Bahlil Mini Soccer Zona 9, Tim Siapkan Strategi dan Peta Kekuatan Lawan
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : Pinterest