TULUNGAGUNG - Honda Icon E menjadi motor listrik Honda dengan harga paling terjangkau, yakni sekitar Rp28 jutaan. Dalam pengujian beberapa hari, motor ini diuji dari posisi berkendara, performa, konsumsi baterai, jarak tempuh, hingga biaya dan durasi pengisian daya. Hasilnya, Honda Icon E cukup nyaman untuk mobilitas perkotaan, tetapi jarak tempuh dan performanya perlu menjadi pertimbangan sebelum membeli.
Dari sisi desain, Honda Icon E memiliki tampilan yang masih mengingatkan pada Honda EM1 e:, meski terdapat sejumlah perbedaan pada bagian cover setang dan lampu sein. Salah satu pembeda utama berada pada penempatan baterai.
Honda Icon E tidak menggunakan baterai Mobile Power Pack (MPP) seperti model Honda lainnya. Baterainya ditempatkan tepat di bawah dek sehingga bagian bagasi menjadi lebih luas. Bagasi tersebut bahkan masih bisa digunakan untuk menyimpan helm dengan ukuran cangkang kecil.
Baterai Honda Icon E dapat dilepas sehingga pengguna bisa membawanya ke dalam rumah atau kantor untuk melakukan pengisian daya. Namun, baterai tersebut tidak dapat ditukar melalui swap station seperti baterai MPP.
Baca Juga: Honda Icon E Jadi Motor Listrik Termurah Honda di Indonesia, Segini Spesifikasinya
Penempatan baterai di bawah dek membuat posisi dek terasa cukup tinggi. Penguji dengan tinggi sekitar 170 sentimeter masih dapat menapak dengan kedua kaki, tetapi posisi duduk terasa seperti sedikit jongkok karena jok lebih rendah dibandingkan lutut.
Di sisi lain, dek yang luas menjadi keuntungan tersendiri. Area tersebut dapat digunakan untuk membawa barang seperti galon dan masih menyisakan ruang untuk posisi kaki.
Dengan bobot sekitar 89 kilogram, Honda Icon E terasa ringan ketika dikendarai. Bobot tersebut membuat motor relatif mudah dikendalikan, terutama ketika digunakan bermanuver di tengah kemacetan.
Motor listriknya menghasilkan tenaga maksimal 1,81 kW pada 618 rpm dan torsi 85 Nm pada 110 rpm. Pada mode Standard, tarikan bawah terasa cukup kuat. Bahkan, akselerasinya disebut mampu mendekati sensasi tarikan motor bensin.
Namun, karakter tersebut berubah ketika masuk putaran atas. Tenaga tidak lagi terasa terlalu istimewa, meski motor masih mampu mencapai sekitar 59 km/jam berdasarkan speedometer.
Mode berkendara Icon juga memiliki respons lebih lambat. Mode tersebut dinilai lebih cocok digunakan di kawasan permukiman karena membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai 30 km/jam. Jika digunakan di jalan raya, respons yang lambat berpotensi membuat laju kendaraan tertahan.
Honda mengklaim Icon E mampu menempuh jarak hingga 53 kilometer. Namun, dalam penggunaan sehari-hari, jarak tempuh aktual yang dirasakan penguji tidak mencapai angka tersebut.
Dalam perjalanan sekitar 15 kilometer dari rumah menuju kantor, baterai berkurang sekitar 37 persen dengan kondisi jalan yang bervariasi, mulai lancar hingga macet. Dengan kondisi tersebut, perjalanan pulang-pergi membutuhkan konsumsi baterai yang cukup besar sehingga pengguna disarankan melakukan pengisian daya setiap hari jika jarak perjalanan relatif jauh.
Penggunaan Honda Icon E juga menunjukkan penurunan kecepatan dan akselerasi ketika baterai berada di bawah 40 persen. Saat kapasitas turun di bawah 10 persen, motor tetap mengalami penurunan tenaga, tetapi tidak langsung dibatasi kecepatannya seperti mode turtle pada Honda EM1 e:.
Baca Juga: Motor Listrik Honda Terbaru 2025: Icon e dan CUV e Punya Jarak Tempuh hingga 80,7 Km
Honda Icon E dapat diisi langsung melalui motor maupun dengan melepas baterainya. Pengisian 0 hingga 100 persen membutuhkan waktu sekitar 7 jam 20 menit. Sementara pengisian dari 25 hingga 75 persen hanya membutuhkan sekitar 3,5 jam.
Dengan kapasitas baterai sekitar 1,8 kWh, biaya pengisian menggunakan asumsi tarif listrik Rp2.000 per kWh diperkirakan sekitar Rp4.000 untuk sekali pengisian penuh.
Jika digunakan untuk bekerja lima hari dalam sepekan dan setiap hari melakukan pengisian penuh, biaya listriknya sekitar Rp20.000 per minggu.
Meski murah dari sisi biaya energi, Honda Icon E memiliki keterbatasan jarak tempuh. Karena itu, motor listrik seharga Rp28 jutaan ini lebih sesuai untuk mobilitas perkotaan dengan jarak perjalanan yang tidak terlalu jauh.
Editor : Syarifatul InsaniyahSumber : Diolah dari berbagai sumber