TRENGGALEK NJENGGELEK- Depresiasi mobil listrik dan hybrid menjadi perhatian konsumen Indonesia seiring perubahan pasar otomotif yang semakin ramai oleh kendaraan elektrifikasi. Data riset yang dibahas menunjukkan perbedaan cukup besar antara nilai jual kembali mobil listrik murni atau BEV, hybrid atau HV, dan plug-in hybrid atau PHV setelah digunakan selama satu hingga dua tahun.
Perubahan tersebut terjadi ketika penjualan mobil listrik terus meningkat, sementara pasar mobil konvensional menghadapi tekanan. Kondisi ini membuat konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga beli, tetapi juga nilai jual kembali atau resale value sebelum membeli kendaraan.
Pasar Mobil Listrik Indonesia Terus Berkembang
Berdasarkan data yang dipaparkan, penjualan mobil listrik BEV meningkat dari sekitar 43.000 unit pada 2024 menjadi sekitar 104.000 unit pada 2025. Pada enam bulan pertama 2026, angka tersebut jika disetahunkan diperkirakan mencapai sekitar 140.000 unit.
Sementara itu, kendaraan hybrid atau HV juga mengalami peningkatan penjualan. Dari sekitar 60.000 unit pada 2024 menjadi sekitar 66.000 unit pada 2025. Jika penjualan semester pertama 2026 disetahunkan, angkanya diperkirakan mencapai sekitar 85.000 unit.
Pertumbuhan paling drastis terjadi pada PHV. Penjualannya meningkat dari hanya 136 unit pada 2024 menjadi sekitar 5.270 unit pada 2025. Pada semester pertama 2026 saja, penjualan PHV disebut sudah berada di kisaran 5.000 unit.
Baca Juga: Sertifikat Elektronik Tanah: Syarat, Cara Urus, hingga Kisaran Biayanya
Depresiasi Mobil Listrik Rilisan 2024
Riset tersebut menggunakan tiga kelompok data, yaitu mobil listrik pionir keluaran 2022, BEV keluaran 2024, serta kendaraan elektrifikasi keluaran 2025.
Untuk BEV keluaran 2024, Cherry iCar 6 AWD mencatat resale value sekitar 81,54 persen setelah dua tahun. BYD M6 Superior berada di angka 74,98 persen, sedangkan BYD Seal Performance mencapai 71,26 persen.
Di sisi lain, beberapa model mengalami penurunan lebih besar. Wuling Cloud EV Pro tersisa sekitar 58,07 persen, Wuling Bingo EV Premium 48,35 persen, sedangkan Wuling Air EV Long Range berada di angka 43,09 persen.
Jika dikelompokkan berdasarkan merek, tiga model Wuling dalam sampel tersebut memiliki rata-rata resale value sekitar 49,84 persen setelah dua tahun. BYD berada di sekitar 71,87 persen, sedangkan Cherry sekitar 72,34 persen.
Menariknya, berdasarkan tipe kendaraan, city car menjadi kelompok dengan resale value paling rendah, sekitar 45,72 persen. Sementara MPV berada di sekitar 74,98 persen, meskipun sampelnya hanya diwakili satu model.
PHV Mulai Menunjukkan Nilai Jual Kembali
Untuk kendaraan PHV keluaran 2025, tiga model yang diteliti adalah Cherry Tiggo 9 CSH AWD, Jaecoo J7 SHS, dan Cherry Tiggo 8 CSH Premium.
Resale value setelah satu tahun masing-masing berada di sekitar 90,9 persen, 89 persen, dan 82,3 persen. Rata-rata ketiganya mencapai sekitar 87,4 persen.
Sebagai pembanding, rata-rata enam BEV keluaran 2025 dalam penelitian tersebut berada di sekitar 75,93 persen.
Namun, ketika hanya tiga BEV dengan nilai jual kembali paling tinggi yang dibandingkan, rata-ratanya mencapai sekitar 87,04 persen. Artinya, dalam sampel tersebut, PHV berada pada kisaran yang hampir sama dengan BEV yang resale value-nya paling terjaga.
Hybrid HV Tunjukkan Resale Value Lebih Tinggi
Perbandingan menarik muncul pada kendaraan hybrid atau HV. Karena keterbatasan data mobil hybrid keluaran 2025 yang sudah dijual kembali setelah satu tahun, penelitian menggunakan empat model keluaran 2024 dengan usia dua tahun.
Suzuki Ertiga Hybrid GX memiliki resale value sekitar 87,81 persen. Hyundai Santa Fe Calligraphy Hybrid berada di 84,38 persen, Toyota Yaris Cross Hybrid 82,23 persen, sedangkan Honda Accord RS Hybrid sekitar 79,94 persen.
Rata-rata resale value empat mobil HV tersebut mencapai 83,59 persen setelah dua tahun.
Sebagai pembanding, 10 mobil BEV keluaran 2024 dalam sampel yang sama memiliki rata-rata resale value sekitar 64,56 persen setelah dua tahun. Bahkan ketika dibandingkan dengan empat BEV dengan nilai jual kembali paling terjaga, rata-ratanya sekitar 74,75 persen.
Perbandingan dalam merek dan kelas harga yang relatif mirip juga menunjukkan perbedaan. Hyundai Santa Fe Hybrid memiliki resale value sekitar 84,38 persen setelah dua tahun, sedangkan Hyundai Ioniq 5 sekitar 63,93 persen.
Data Depresiasi Bukan Jaminan Masa Depan
Meski data tersebut menunjukkan perbedaan resale value, hasil historis tidak otomatis menjamin kondisi pasar di masa depan. Perubahan insentif, perang harga, model baru, teknologi baterai, hingga perubahan permintaan konsumen dapat memengaruhi harga mobil bekas.
Karena itu, depresiasi mobil listrik dan hybrid dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika membeli kendaraan, tetapi bukan satu-satunya faktor. Keamanan, kenyamanan, fitur, kebutuhan penggunaan, serta preferensi terhadap merek juga tetap menjadi pertimbangan konsumen.
Baca Juga: Cek Berkas Sentuh Tanahku, Begini Cara Lacak Sertifikat dan Scan QR Code
Editor : Cholifatun NisakSumber : Pinterest