Suzuki Ignis Bekas Makin Diburu, Ternyata Ini Alasan Konsumen Memilihnya

Muhamad Ahsanul Wildan • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 17:33 WIB
Suzuki Ignis bekas kembali diburu pada 2026. Ini alasan harga, usia muda, dan konsumsi BBM jadi daya tarik. (Pinterest)
Suzuki Ignis bekas kembali diburu pada 2026. Ini alasan harga, usia muda, dan konsumsi BBM jadi daya tarik. (Pinterest)

JAKARTA - Suzuki Ignis yang dulu kurang mendapat respons kuat di pasar mobil baru justru memiliki cerita berbeda setelah masuk pasar mobil bekas.

Pada 2026, mobil mungil ini kembali menjadi pertimbangan konsumen karena menawarkan tahun produksi relatif muda dengan harga sekitar Rp100 jutaan. Meski memiliki sejumlah kekurangan, kombinasi konsumsi BBM irit dan biaya perawatan membuat Ignis tetap menarik bagi pembeli yang mengejar efisiensi.

Baca Juga: Nissan Livina Bekas Ini Disebut Bisa Jadi Alternatif Xpander, Fiturnya Bikin Kaget

Dari Mobil Baru yang Kurang Diminati

Ignis diperkenalkan Suzuki di Indonesia pada April 2017. Pada dua tahun pertama, performanya sebenarnya cukup menjanjikan.

Data penjualan menunjukkan sebanyak 14.157 unit Ignis terjual pada 2017. Setahun kemudian, angkanya masih berada di level 13.802 unit.

Namun, tren tersebut berubah drastis sejak 2019. Penjualan Ignis turun menjadi 5.138 unit. Pada 2020, jumlahnya kembali merosot menjadi 1.893 unit, kemudian 1.932 unit pada 2021.

Penjualan terus melemah hingga berada di bawah 1.000 unit pada 2022. Pada 2023, jumlahnya bahkan kurang dari 700 unit. Sedangkan pada Januari-Mei 2024, hanya 369 unit yang tercatat sebelum Ignis berhenti dipasarkan.

Salah satu dugaan penyebabnya adalah karakter mobil yang tidak sepenuhnya sesuai dengan selera mayoritas pasar Indonesia.

Desain Bukan Masalah Utama

Ignis sebenarnya memiliki desain yang berbeda dari kebanyakan hatchback. Bentuknya kompak dengan karakter yang cukup unik.

Namun, desain anti-mainstream tidak selalu menjadi keuntungan di pasar otomotif. Konsumen Indonesia cenderung memiliki referensi desain yang lebih familiar sehingga karakter Ignis membutuhkan penerimaan pasar yang berbeda.

Persoalan yang lebih terasa justru muncul dari pengalaman berkendara, terutama pada varian dengan transmisi AGS.

Transmisi tersebut memberikan sensasi yang berbeda dari transmisi otomatis konvensional. Perpindahan gigi memiliki jeda yang dapat terasa ketika mobil digunakan sehari-hari.

Pada kondisi macet atau tanjakan, pengemudi juga perlu beradaptasi dengan karakter transmisi tersebut. Jika komponen AGS mengalami kerusakan, biaya perbaikannya juga dapat menjadi cukup besar.

Tahun Muda Jadi Senjata Utama

Lalu mengapa Suzuki Ignis justru menarik ketika berstatus mobil bekas?

Jawabannya berkaitan dengan usia kendaraan. Dengan anggaran sekitar Rp100 jutaan, konsumen bisa mendapatkan Ignis produksi 2021 atau 2022, tergantung kondisi, tipe, dan harga unit.

Bandingkan dengan sejumlah hatchback lain yang tersedia pada rentang harga serupa. Konsumen mungkin mendapatkan mobil dengan nama yang lebih populer, tetapi usia produksinya bisa jauh lebih tua.

Mobil tua tidak selalu bermasalah. Namun, semakin tinggi usia kendaraan, semakin besar kemungkinan calon pemilik harus menyiapkan anggaran untuk peremajaan komponen.

Dalam konteks tersebut, Ignis menawarkan alternatif bagi konsumen yang lebih mementingkan usia kendaraan daripada gengsi model.

Konsumsi BBM Menjadi Pertimbangan

Selain tahun produksi, efisiensi bahan bakar menjadi daya tarik lain. Ignis menggunakan mesin 1.197 cc empat silinder yang dikenal memiliki konsumsi BBM cukup hemat.

Konsumsi tersebut membuat Ignis menarik untuk penggunaan harian, terutama bagi konsumen yang memiliki mobilitas tinggi dan ingin menekan pengeluaran bahan bakar.

Biaya perawatan sejumlah komponen juga relatif terjangkau. Akan tetapi, calon pembeli tetap perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum transaksi.

Bagian transmisi menjadi perhatian utama pada varian AGS. Sementara itu, kaki-kaki, kondisi kabin, serta kemungkinan masalah pada unit produksi awal juga perlu diperiksa.

Manual Bisa Jadi Pilihan

Bagi konsumen yang mengutamakan kesederhanaan perawatan, varian manual dapat dipertimbangkan. Transmisi manual memiliki konstruksi yang lebih sederhana dibandingkan AGS sehingga potensi biaya perawatannya cenderung lebih mudah dikendalikan.

Di sisi lain, Ignis memang bukan pilihan ideal bagi pembeli yang mengejar kenyamanan, fitur melimpah, atau kabin yang senyap.

Mobil ini memiliki karakter yang lebih fungsional. Dengan kata lain, Suzuki Ignis bekas pada 2026 menarik bukan karena menawarkan pengalaman berkendara mewah, melainkan karena mampu memberikan kombinasi harga, usia kendaraan, efisiensi BBM, dan biaya kepemilikan yang relatif rasional.

Baca Juga: Nissan Livina Bekas Ini Disebut Bisa Jadi Alternatif Xpander, Fiturnya Bikin Kaget

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
Sumber : FUSE BOX
transmisi manual suzuki ignis mobil irit bbm suzuki mobil bekas 2026