Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

UMM Ngaji Bareng Gus Baha’

Choirurrozaq • Senin, 20 Juli 2020 | 15:30 WIB
umm-ngaji-bareng-gus-baha
umm-ngaji-bareng-gus-baha


 TRADISI silaturahmi Universitas Mu­hammadiyah Malang (UMM) ke sejum­lah tokoh, cendekiawan, negawaran hingga ulama di Indonesia berlanjut. Kali ini (14/7), rombongan Kampus Putih bertandang ke salah satu ulama kharis­matik, KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha’ yang merupakan pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah.


UMM mengirimkan dosen dan karyawan untuk mengikuti pengajian di pesantren yang diasuh Gus Baha’ di Narukan, Kragan, Rembang ini. Keda­tangan rombongan Kampus Putih ini selain untuk silaturahmi juga untuk mengadakan pengajian dalam jaringan (daring/online) yang dapat disaksikan di akun resmi YouTube UMM, UMM­Tube. Beberapa jam siaran pengajian ini diunggah, sudah ditonton puluhan ribu kali.


Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memim­pin langsung rombongan. “Silaturahmi ini merupakan cara kami untuk tholabul ‘ilmi. Biasanya kami mengundang, tapi juga biasanya bersilaturahmi. Alhamdulillah, pagi ini kita bisa bersilaturahmi. Kehadiran kita bersama dalam rangka untuk menam­bah wawasan keilmuan kita, khususnya adalah memperbaiki cara beragama kita. Mudah-mudahan menjadi kaffah,” ungkap Fauzan. Pengajian Gus Baha’ selama ini sangat digemari. Karena semua materi disampaikan secara jelas dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Selain itu melalui uraian Gus Baha’, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyam­paikan materi Gus Baha’ juga banyak humor-humor cerdasnya. Tak heran Gus Baha’ dikagumi oleh banyak masyarakat Islam dari lintas organisasi.


Selain itu melalui uraian di setiap pengajian Gus Baha’, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ke­tika menyampaikan materi, ulama nusan­tara ini juga banyak diselipkan humor-humor cerdasnya. Kehadiran Gus Baha’ menjawab kebutuhan umat di tengah banyaknya da’i atau pendakwah yang kering dalam menyampaikan ajaran Islam.


Rektor Dr. Fauzan, M.Pd. lantas me­nyebut pentingnya untuk mengkaji Islam dari banyak tokoh. Mengkaji dalam rangka belajar untuk tidak ha­nya memahami satu sisi dari ajaran agama Islam. Satu versi dari ajaran agama. “Akan tetapi agama ini ditu­runkan untuk semua, maka terjadinya perbedaan ijtihad-ijtihad para ulama itu pada dasarnya menjadi rahmat bagi semester alam. Rahmatan lil’alamin,” ungkapnya.


Dalam pengajiannya, Gus Baha’ menyebut belakangan ini banyak dai’ yang mengklaim, dirinya mengajak ke Allah dan Rasul. Te­tapi sesungguhnya hakikatnya mengajak ke kelompoknya sendiri. “Saya ini ter­masuk kiayi yang masih orisinil. Artinya, suatu saat saya tidak laku lagi sebagai kiayi, asal Islam jalan saya senang. Ka­rena nggak penting yang popular saya, itu nggak penting. Yang penting agama Islam jalan,” katanya.


Gus Baha’ dalam inti pengajiannya juga mengajak para jamaah pengajian yang hadir untuk berkaca dari kemah­syuran ulama-ulama Nusantara terda­hulu. Banyak fatwa ulama Nusantara yang dipakai oleh kelompok yang justru diang­gap berseberangan. Sebutlah Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Nawawi Banten, atau Syaikh Bagir Nur Jogja. Me­reka, berhasil menampilkan wajah agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.


Dengan menyitir cerita gurunya KH. Maimun Zubair, yang menafsir Al Quran surat al-Anbiya ayat 107: Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin. Yang artinya, “Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rah­mat bagi semesta alam”. Disebutkan, dalam ajaran Agama Islam, perbedaan manusia berdasarkan agama, suku, etnis dan ras tidak berlaku bagi risalah kerasu­lan Nabi


Gus Baha’ meyakini bahwa Allah SWT tidak mungkin menghasilkan ulama hanya orang Arab saja. Allah SWT pasti akan munculkan ulama dari bangsa lainnya, termasuk Indo­nesia. “Kenapa? Kata Mbah Mun, ka­rena sebenarnya manusia semua ini kena khitobnya (pengajaran atau dak­wah) Islam. Kalau tidak ada ulama yang dari berbagai negara, kesannya agama ini hanya milik orang Arab. Itulah kenapa Allah SWT bikin ulama non-Arab,” jelasnya.


Menurut Gus Baha’, Allah ingin me­maklumatkan bahwa orang yang bukan Arab pun bisa belajar Islam. Bahkan, tingkat kealimannya tidak kalah dengan orang Arab. Hal ini menjadi tugas ber­sama bagaimana agar orang arab juga bisa belajar Islam di Indonesia. “Bahkan saat ini liga umat Islam dunia juga orang Indonesia masuk di dalamnya. Saya berharap ulama ini bisa lahir dari Malang, terkhusus dari UMM,” katanya. (*)


Editor : Choirurrozaq