KOTA, Radar Trenggalek - Kabupaten Trenggalek belum siap menerapkan sistem kegiatan belajar mengajar (KBM) secara dalam jaringan (daring) sepenuhnya. Padahal, dalam surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri telah menyebutkan, wilayah dengan zona oranye atau tingkat penularan Covid-19 berskala sedang tidak diperkenankan menggelar pembelajaran secara luar jaringan (luring).
Kabid Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Trenggalek Siti Zaenab mengaku, ada beberapa alasan yang membuat Trenggalek belum bisa menerapkan sistem daring sepenuhnya. Menurut dia, kondisi geografis di Trenggalek belum sepenuhnya terjangkau sinyal internet. Adapun sistem daring juga menuntut para anak didik memiliki perangkat yang memadai (semisal android, Red). “Kami juga tidak ingin membebani para wali murid karena pandemi Covid-19 juga berdampak pada penurunan penghasilan mereka,” ungkapnya.
Zaenab menyebut, wilayah-wilayah dengan kondisi geografis pegunungan seperti Kecamatan Munjungan, Watulimo, Bendungan, Pule, adalah wilayah yang mengalami susah sinyal meski tidak merata. Untuk itu, wilayah yang terindikasi kesulitan sinyal, maka perlu menerapkan pembelajaran secara luring. “Wali murid yang berada di wilayah minim sinyal, juga mendukung pembelajaran sistem luring,” kata dia.
Dalam mengantisipasi paparan Covid-19, ungkap dia, pembelajaran luring tetap mengacu dengan protokol kesehatan. Yakni guru dan murid menggunakan masker, face shield, cuci tangan dengan sabun, maupun menggunakan hand sanitizer. Dengan alokasi pembelajaran luring sekitar satu jam, guru juga menyelipkan edukasi mengenai pandemi virus korona, dengan cara senam atau dari tugas menggambar. “Kalau kelas I dan II, guru itu istilahnya tidak tega karena anak kelas-kelas itu perlu pendampingan untuk pengenalan,” jelasnya.
Pembelajaran sistem luring, lanjut Zaenab, digelar di rumah wali-wali murid sesuai dengan kesepakatan. Jumlah peserta didik yang mengikuti daring maksimal lima siswa. Kalau lebih dari lima, maka menerapkan physical distancing. “Semisal satu rombel ada 28 siswa, itu dibagi menjadi beberapa kelompok. Guru secara bergiliran menghampiri tiap rumah wali murid untuk mengajar sistem luring,” ujarnya. Sedangkan untuk wilayah-wilayah yang mudah akses internet, wanita berjilbab itu mengaku pembelajaran dengan sistem daring bisa diterapkan.
Seperti diberitakan lalu, Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Trenggalek menyebut, sekitar 28 desa yang masuk dalam kategori blank spot atau minim sinyal. Desa-desa tersebut tersebar hingga ke delapan kecamatan di Bumi Menak Sopal.
Kepala Diskominfo Trenggalek Edif Hayunan mengungkapkan, kebanyakan desa masuk kategori blank spot karena memiliki kontur di pegunungan. Semisal seperti di Kecamatan Pule dan Munjungan, ada enam desa yang sulit sinyal. Lima desa di Kecamatan Dongko dan Watulimo. Tiga desa di Kecamatan Panggul. Dan masing-masing satu desa, yakni di Kecamatan Tugu, Durenan, dan Bendungan. “Kontur wilayah yang tinggi-rendah membuat jaringan selular susah masuk,” ungkapnya. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana