Pantai Pacar di Kecamatan Pucanglaban merupakan salah satu destinasi wisata pantai yang masih alami di Kabupaten Tulungagung. Letak pantai ini berdekatan dengan Pantai Molang dan Pantai Lumbung di Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung. Jalan menuju pantai terbilang cukup sulit karena medan jalanan yang terjal dan berliku-liku serta banyak tanjakan sehingga jarang terjamah oleh wisatawan dalam jumlah besar. Pantai Pacar memiliki pasir putih serta bibir pantai yang dihiasi dengan bebatuan yang sempit. Pantai ini juga memiliki ombak yang cukup besar, surut pada siang hampir sore sekitar pukul 13.00-15.00 tergantung cuaca pada hari tersebut. Ketika surut tiba akan terlihat batu-batuan yang dipenuhi dengan makroalga atau ganggang berukuran makroskopis yang dapat diamati secara langsung berwarna hijau, merah, atau coklat. Makroalga merupakan alga berukuran makroskopis yang hidup di Pantai Pacar, masyarakat lebih mengenalnya secara umum sebagai rumput laut, merupakan makhluk hidup mirip tumbuhan yang tidak berpembuluh dan mempunyai peranan penting dalam ekosistem perairan pantai. Makroalga berperan sebagai penyedia karbonat serta penguat substrat yang ditempelinya sehingga bermanfaat bagi stabilitas keberadaan terumbu karang dalam ekosistem pantai. Peranan lain makroalga di Pantai Pacar adalah sebagai tempat berkembang biak ikan serta makanan bagi ikan-ikan ataupun organisme lain yang hidup dalam habitat tersebut. Makroalga di Pantai Pacar hidup di zona pasang surut dengan cara melekatkan dirinya dengan substratsubstrat dalam habitatnya seperti karang, batu-batuan, dan pasir. Pada akhir tahun 2020, diketahui sebanyak empat jenis makroalga di Pantai Pacar yaitu selada laut (Ulva lactuca L.), Codium edule, makroalga menyerupai Condrus crispus dan makroalga menyerupai Palmaria palmata. Jenis pertama, selada laut (Ulva lactuca L.) merupakan jenis makroalga hijau dengan ciri tipis berbentuk lembaran licin, bagian pangkal sebagai tempat melekat dengan substrat, jenis ini dikenal termasuk dalam golongan makroalga yang cosmopolitan, yaitu dapat hidup di banyak tempat. Jenis kedua, Codium edule, merupakan makroalga berwarna hijau tua dengan diameter 1-2 cm, mudah dikenali karena permukaannya yang lembut dan menyerupai spon. Jenis ketiga, makroalga menyerupai Chondrus crispus yang dikenal sebaga lumut Irlandia yang keberadaannya cukup penting di daerah pesisir dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Jenis keempat, makroalga menyerupai Palmaria palmata dengan ciri berwarna merah tua sedikit kecoklatan, strukturnya pipih licin, pada bagian belakang terdapat bintik-bintik kecil berwarna putih yang tersusun menyebar. Dari keempat jenis makroalga tersebut, jenis selada laut (Ulva lactuca L.) mendominasi makroalga di Pantai Pacar, Pucanglaban. Makroalga merupakan salah satu sumber daya hayati laut yang bernilai ekonomi dan memiliki manfaat baik untuk manusia dan lingkungan sekitarnya, pertumbuhannya dipengaruhi oleh faktor lingkungan, berupa suhu, salinitas, derajat keasaman (pH), kekeruhan, dan oksigen terlarut. Oleh karenanya, terdapat sisi baik yang diperoleh berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Tulungagung yang secara resmi menutup seluruh kawasan wisata termasuk kawasan pantai beberapa waktu yang lalu yakni pada Sabtu, 19 Desember 2020. Pada tanggal tersebut Bupati Tulungagung telah mengeluarkan surat edaran penutupan seluruh tempat wisata. Selanjutnya surat edaran telah ditempel ke sejumlah lokasi dan tempat umum untuk memastikan kebijakan pembatasan berlaku efektif di sektor industri pariwisata. Meskipun demikian, sempat beberapa tempat wisata masih membuka kawasan wisatanya, salah satu di antaranya Pantai Gemah di Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung. Pantai Gemah sebelumnya terpantau masih beroperasi sebelum Pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mendapatkan teguran dari Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Besuki sehingga turut menutup operasional pantai pada hari Senin, 21 Desember 2020 serta mengimbau agar para wisatawan baik dari Tulungagung maupun luar kota tidak berwisata ke Pantai Gemah, meskipun kini telah dibuka kembali untuk umum. Kebutuhan akan kegiatan yang bersifat rekreatif dan dilakukan bersama-sama pantas dimaklumi mengingat semenjak awal tahun 2020 pemerintah menetapkan anjuran untuk bekerja dan belajar dari rumah dan menghindari keramaian. Namun demikian, terdapat hal yang tidak dapat kita abaikan, penutupan tempat wisata dalam hitungan hari setidaknya memberikan sisi baik yang cukup signifikan, terdapat “jeda waktu” ekosistem alami di tempat wisata tersebut untuk tumbuh dan berkembang tanpa “terganggu” oleh aktivitas manusia. Beberapa faktor lingkungan yang keadannya dipengaruhi oleh aktivitas manusia seperti derajat keasaman (pH), kekeruhan, dan oksigen terlarut merupakan faktor penentu pertumbuhan makroalga di Pantai Pacar, Pucanglaban. Demikian, semoga kita semua dapat hidup berdampingan dengan lingkungan dan senantiasa memahami apa yang menjadi kebutuhan lingkungan tempat kita hidup. Semoga pandemi segera berlalu.(*)
Oleh: AINUN NIKMATI LAILY Mahasiswi Program Doktor Biologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Editor : Dharaka Russiandi Perdana