Trenggalek – Data terkait jumlah anak di Bumi Menak Sopal yang putus sekolah tampaknya masih minim. Pasalnya, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Trenggalek masih berinisiatif membentuk tim validasi data terkait jumlah anak yang berpotensi tidak sekolah. Eksekusi rencana itu ditargetkan selesai pada tahun ini.
Kepala Disdikpora Trenggalek Agoes Setiyono mengatakan, pembentukan tim validasi itu berkaitan dengan perbedaan data antara Badan Pusat Statistik (BPS) dan disdikpora. Berdasarkan data dari BPS, ada 9 ribu anak yang berpotensi tidak sekolah di Kabupaten Trenggalek. Namun melalui pendataan dari disdikpora, jumlah anak yang berpotensi tidak sekolah itu sekitar 3 ribu orang. Karena terjadi perbedaan data, Agoes menilai perlu adanya validasi data agar jumlah anak yang berpotensi tidak sekolah itu lebih konkret. "Kalau potensi (anak tidak bersekolah, Red) harus disesuaikan dengan data," ungkapnya.
Karena itu, disdikpora berencana akan melibatkan beberapa stakeholder mulai pemerintah desa (pemdes), dinsos, bappeda, dan sebagainya untuk menjadi tim validasi data. Adapun pembentukan tim direncanakan pada tahun ini. "Validasi tahun ini selesai, melibatkan pemdes," ujarnya.
Lain itu, pihaknya belum bisa memastikan faktor-faktor anak tidak bersekolah di Kabupaten Trenggalek. Namun, faktor itu dimungkinkan terjadi karena kondisi lingkungan keluarga, sosial ekonomi yang tidak mendukung untuk sekolah, drop out, hingga anak tidak melanjutkan 12 tahun belajar.
Karena itu, penanganan terhadap jumlah potensi anak tidak sekolah itu menunggu data faktor divalidasi. Semisal ditemukan anak yang tidak bersekolah di lingkungan sekitar, maka penanganannya dapat dengan memberikan penyadaran agar anak bersekolah.
Adapun ketika ada anak yang tidak bersekolah karena faktor ekonomi, maka pemkab tetap akan membantu mereka. "Kalau tidak sekolah nonformal paket a, b, c. Kita siap bekerja sama dengan pusat kegiatan belajar masyarakat di kecamatan," ujarnya.
Diberitakan lalu, ada ribuan anak berpotensi tidak sekolah di Kabupaten Trenggalek. Adapun latar yang memengaruhi kondisi itu, salah satunya adalah faktor ekonomi. "Ada 9 ribu anak (potensi tidak sekolah, Red)," kata Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, usai mengikuti Musrena Keren di Desa Widoro, Kecamatan Gandusari, Selasa, (7/3) siang.
Meninjau fenomena itu, pihaknya mengaku perlu ada program gerakan kembali belajar. Program itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju generasi emas 2045. "Gerakan ini kita canangkan dengan melibatkan UNICEF (United Nations Children’s Fund)," ujar Bupati Arifin di Trenggalek. (tra/c1/jaz) Editor : Aburizal Sulthon Hakim