TULUNGAGUNG - Perekrutan guru tidak tetap (GTT) masih berpedoman atas dasar kebutuhan dari lembaga pendidikan di Tulungagung. Namun, perekrutan GTT ini akan dibebankan kepada masing-masing sekolah.
Mengingat, hal ini juga dapat menjadi solusi untuk mengatasi kebutuhan guru.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Syaifudin Juhri mengatakan, proses rekrutmen guru tidak tetap (GTT) masih berpedoman atas dasar kebutuhan di masing-masing lembaga pendidikan tersebut.
Apalagi, proses rekrutmen tersebut telah dilakukan sejak dulu kala. “Dulu sampai hari ini, proses rekrutmen guru itu masih sama, yakni berbasis kebutuhan. Ketika sekolah itu butuh, ya dipersilakan untuk merekrut GTT,” jelasnya Kamis (28/9/2023).
Adapun dalam hal ini, menurutnya, pihak sekolah perlu mengukur kemampuannya dalam merekrut tenaga GTT tersebut.
Seperti yang diketahui, belanja tenaga GTT akan dibebankan kepada sekolah. Di sinilah peranan penting kepala sekolah dalam mengelola keuangan sekolah demi peningkatan mutu kualitas pendidikan.
“Tentu semuanya bergantung pada sekolah. Jika memang membutuhkan tenaga guru, ya silakan merekrut GTT. Tapi juga diukur tata kelolanya,” ucapnya.
Diketahui, kebutuhan guru di lembaga pendidikan di Tulungagung ini akan tetap bergantung pada tenaga GTT.
Pasalnya, baik guru pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) maupun guru pegawai negeri sipil (PNS) yang telah dilantik, belum meng-cover kebutuhan guru secara keseluruhan.
“Ya pasti masih akan bergantung pada GTT. Sebab, guru baik PPPK maupun PNS yang telah dilantik itu belum menutup total kebutuhan guru,” paparnya.
Tak hanya itu, dengan merekrut GTT dapat menjadi jalan keluar ketika secara mendadak terdapat guru yang tidak dapat mengajar.
Fleksibelnya perekrutan GTT ini juga berperan penting untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat Tulungagung.
“Kalau ada guru yang mendadak meninggal, apa ya harus menunggu ada perekrutan PPPK atau PNS atau mutasi. Kan terlalu panjang prosesnya. Sehingga merekrut GTT bisa menjadi solusi atas kebutuhan guru itu,” pungkasnya. (ziz/c1/rka)
Editor : Dharaka R. Perdana