BLITAR - Beberapa siswa SLB-B (Sekolah Luar Biasa untuk Tuna Rungu) YPLB (Yayasan Pendidikan Luar Biasa), di Jalan Imam Bonjol, Kota Blitar, itu tampak serius. Tangannya sibuk mengutak-atik sebuah manik-manik. Rupanya mereka sedang membuat sebuah kerajinan tangan dari benda berukuran mini tersebut. Mereka merupakan anak disabilitas pendengaran atau penyandang tunarungu.
“Ya, saya memberikan bimbingan kepada penyandang tuna rungu di Kota Blitar karena ingin para siswa memiliki keahlian dalam membuat aksesori dari manik-manik,” kata Norista Meilza Wardani, salah satu guru pendamping, kepada Jawa Pos Radar Blitar, Rabu (15/11/2023).
Aksesori yang dihasilkan penyandang tuna rungu di Kota Blitar seperti cincin, kalung, gelang, gantungan kunci, dan gantungan HP. Sejumlah hasil karya anak-anak tersebut akan dijual. Harga yang dipatok sangatlah terjangkau, mulai dari Rp 3 ribu hingga Rp 30 ribu. Kerajinan yang sangat banyak diminati adalah kalung dengan harga Rp 30–35 ribu.
Kalung memiliki harga paling mahal karena bahan baku yang digunakan tidaklah sedikit. Selain itu, cara pembuatannya cukup rumit. Berbeda dengan cincin dan gelang yang memiliki harga jual lebih murah, yakni dari Rp 3 ribu hingga Rp 15 ribu.
Sebelumnya, para guru yang mendidik siswa luar biasa tersebut telah memberikan bimbingan untuk membuat aksesori selama kurang lebih satu bulan. Aksesori yang terbuat dari manik-manik tersebut diperjualbelikan secara online dan offline.
Norista menggunakan media sosial WhatsApp dan Instagram untuk mempromosikan hasil buatan para siswa. Selain itu, tidak sedikit juga wali murid dan guru yang membeli secara langsung di sekolah tersebut.
Meski begitu, tidak sepenuhnya proses pembuatan kerajinan berjalan lancar. Sebab, keterbatasan yang dimiliki anak menjadi salah satu hambatan. “Ya terutama komunikasi yang dilakukan antara para siswa tunarungu dan guru,” kata guru 31 tahun tersebut.
Akibat hambatan tersebut, hasil kerajinan siswa ada yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Seperti ketika membuat aksesori dari manik-manik, warna yang diinginkan pembeli berbeda dengan yang dibuat. Kemudian, nama yang terbalik dan lupa memberikan manik-manik huruf.
Sementara itu, model aksesori biasanya terinspirasi dari Google. Terkadang juga menyesuaikan permintaan dari konsumen. Selama ini, pembeli gelang banyak yang request nama atau inisial untuk dijadikan hadiah dan dikenakan sendiri. “Di sini, siswa diajarkan 60 persen praktik dan 40 persen teori. Untuk praktiknya, saya mengajarkan siswa keahlian yang bisa dimanfaatkan setelah lulus,” katanya.
Praktik yang diberikan dapat berupa bimbingan membuat kerajinan tangan dan makanan. Harapannya, setelah lulus, para siswa bisa menggunakan keahlian yang sudah didapat tersebut untuk menghasilkan uang. ”Intinya, keterampilan membuat aksesori itu menjadi bekal anak-anak kelak. Mungkin bisa jadi usaha yang menghasilkan keuntungan,” tandasnya. (*/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan