PENDIDIKAN - “Perpustakaan adalah jantungnya Pendidikan” - Syarif Bando. Minat baca di Kabupaten Tulungagung berdasarkan survei hanya berkisar 67 persen. Angka ini masih terlampau kecil dengan yang ditargetkan yakni 90 persen, mengutip dari Radar Tulungagung.
Sementara Perpustakaan Umum di Tulungagung masih belum optimal dalam meningkatkan pelayanan publik. Mengutip dari jurnal penelitian Lia Selviana dkk (2014) mengungkapkan bahwa perpustakaan umum di Tulungagung kurang menyediakan koleksi buku yang memadai.
Kunjungan perpustakaan pun mengalami naik-turun, di tahun 2022 pengunjung perpustakaan umum Tulungagung berjumlah 16.237,00, jumlah ini mengalami kenaikan dibanding tahun 2021 yang hanya berkisar 3.544,00.
Namun, di tahun 2023 kunjungan perpustakaan kembali mengalami penurunan dengan jumlah 83.426,00. Hal ini membuktikan bahwa perpustakaan belum mampu menghadapi tantangan digital. Lantas bagaimana eksistensi Perpustakaan umum Tulungagung di masa mendatang?
Tantangan terbesar di era modernisasi saat ini adalah orang-orang banyak beralih ke internet untuk mengakses informasi. Dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh Madhusein, dalam tulisan berjudul Menjajakan Citra Perpustakaan Nasional dan Pengembangan Layanan Bagi Khalayak, mengungkapkan bahwa banyak responden yang lebih suka menjelajah situs website di Internet ketika mereka ingin mengetahui informasi terkait bacaan, buku, jurnal dan lain sebagainya. Fakta lainnya menyatakan bahwa keramahan mesin pencari (search engine), seperti Google (www.google.com) dan Yahoo! (www.yahoo.com), serta mesin pencari lainnya (Altavista, Ask Jeeves, dan sebagainya) dipercaya mampu mengalahkan layanan perpustakaan.
Dengan demikian, hanya orang-orang tertentulah yang masih mengakses perpustakaan secara langsung, seperti peneliti, mahasiswa yang tengah mengerjakan skripsi atau tesis, dan siswa yang memperoleh tugas dari sekolah.
Peningkatan daya tarik mengunjungi perpustakaan bisa dimulai dari upaya peningkatan literasi membaca. Mengutip dari Radar Tulungagung, Bupati Tulungagung 2019-2023, Maryoto Birowo, menyatakan bahwa pihaknya terus berusaha meningkatkan minat baca melalui kelembagaan di Dinas Pendidikan terkait, dengan mengadakan sosialisasi struktur pemerintahan desa untuk mewujudkan perpustakaan desa.
“Sekarang pemerintahan desa itu gemar mempunyai perpustakaan desa. Jadi, setiap desa itu wajib memiliki perpustakaan desa,” katanya. Kemudian, pelayanan perpustakaan dapat ditingkatkan melalui penambahan koleksi buku yang lebih memadai, baik di Tingkat SD maupun perguruan tinggi, serta menambah tenaga perpustakaan yang kompeten dalam bidangnya, dan yang tidak kalah penting adalah adanya wifi, serta komputer yang memudahkan pengunjung untuk lebih cepat mencari buku-buku, menyediakan tempat yang aman dan nyaman menjadi poin utama. Dengan demikian, perpustakaan dapat menjadi tempat menyenangkan bagi semua orang.
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra