Trenggalek- SMKN 2 Trenggalek sukses menggelar Svarga Pawawastra 5 bertema Fashion Batik dan Maskot Carnival, Sabtu (28/12). Acara yang digelar di Alun-Alun Trenggalek itu menjadi momen bersejarah. Sebab, kali pertama berlangsung di luar lingkungan sekolah.
Acara gelar karya itu bertujuan melestarikan batik khas Trenggalek, sekaligus menggali potensi lokal yang dapat diolah menjadi seni dan pameran unik. Seluruh peserta, mulai kelas 10 hingga kelas 11, mengenakan batik khas Trenggalek sebagai bentuk apresiasi terhadap kerajinan batik yang menjadi ciri khas daerah ini.
“Kami ingin acara ini menjadi ajang untuk mengangkat kreativitas siswa sekaligus potensi industri seperti batik yang bisa membantu meningkatkan perekonomian daerah. Selain itu, kami juga mempromosikan budaya lokal seperti kisah Dam Bagong, kuliner nasi gegok, serta seni tradisional jaranan,” ungkap Kepala SMKN 2 Trenggalek, Masrur Hanafi.
Meskipun hujan sempat mengguyur, para peserta tetap tampil memukau. Mereka menampilkan karya terbaik yang mencerminkan perpaduan antara kreativitas dan keunikan budaya lokal. Acara ini terselenggara atas dukungan berbagai pihak, termasuk Pemkab Trenggalek, Cabang Dinas Pendidikan Tulungagung dan Trenggalek, Dinas Ketenagakerjaan, Dinas PUPR, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek.
“Atas nama SMKN 2 Trenggalek, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan dan pihak yang mendukung terlaksananya acara ini. Sebagai sekolah vokasi, kami berkomitmen untuk terus menciptakan siswa yang kreatif dan siap berkembang,” jelas Hanafi.
Gelar karya ini tidak hanya menjadi ajang unjuk bakat siswa, tetapi menjadi sarana promosi bagi budaya dan potensi ekonomi lokal. SMKN 2 Trenggalek, yang kini telah memasuki tahun ke-2 sebagai pemadanan vokasi, berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlangsung untuk mendukung pengembangan siswa sekaligus daerah.
Dengan acara seperti ini, SMKN 2 Trenggalek membuktikan perannya sebagai penggerak utama dalam pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. (bim/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa