TULUNGAGUNG- Mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu. Bagi Novi Rahayu, guru kimia SMAN 1 Rejotangan Tulungagung, mengajar adalah seni melayani kebutuhan zaman.
Guru SMAN 1 Rejotangan yang juga lulusan Pendidikan Kimia Universitas Negeri Surabaya ini dikenal dengan pendekatannya yang inovatif.
Sebagai alumni SMAN 1 Rejotangan Tulungagung angkatan 2001, Novi, sapaan akrabnya kembali ke almamaternya dengan membawa semangat baru.
Dia berkomitmen untuk menghadirkan pembelajaran kimia yang relevan, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurut dia, kimia tidak seharusnya hanya dipahami dalam rumus dan tabel periodik, tetapi juga dirasakan manfaatnya dalam kehidupan nyata.
Salah satu inovasi terbesar yang diperkenalkannya adalah penggunaan e-modul interaktif berbasis web yang dirancang sendiri.
Modul tersebut bukan hanya sekadar bahan ajar digital, tapi juga dilengkapi dengan video interaktif, gambar penunjang, serta kuis-kuis berbentuk permainan edukatif, tanpa perlu menginstal aplikasi tambahan.
“Kita tidak bisa memaksakan metode lama kepada generasi yang hidup dengan teknologi sejak lahir. Kalau kita ingin pembelajaran bermakna, ya kita harus masuk ke dunia mereka,” jelas Novi.
Dalam setiap aktivitas mengajarnya, Novi memegang teguh filosofi Ki Hajar Dewantara, bahwa guru harus mendidik sesuai kodrat alam dan kodrat zaman peserta didik.
Artinya, kata dia, selain memahami potensi masing-masing siswa, guru juga wajib peka terhadap perkembangan teknologi dan sosial yang melingkupi kehidupan anak didiknya.
Tak heran, pembelajarannya selalu dimulai dengan pertanyaan sederhana: “Ini gunanya untuk apa di kehidupan?” Dari situlah siswa diajak berpikir, merasa, dan akhirnya menyadari bahwa kimia bukan sekadar mata pelajaran, tapi bagian dari keseharian mereka.
Tak hanya aktif di kelas, dia juga kerap berbagi praktik baik melalui berbagai program Kemendikbudristek.
Konten-konten pembelajaran berbasis teknologi, pembelajaran berdiferensiasi, hingga strategi fun learning dalam kimia didokumentasikannya secara terbuka untuk bisa direplikasi guru-guru lain di Indonesia.
Sebagai bentuk kontribusi nyata, dia juga mengikuti pelatihan dan program profesional yang mewajibkan peserta membagikan implementasi praktik baik mereka dalam bentuk publikasi daring.
“Bukan pamer, tapi berbagi. Biar yang lain bisa amati, tiru, dan modifikasi,” ujar guru yang juga aktif dalam kegiatan seni dan olahraga ini.
Baginya, keberhasilan seorang guru bukan hanya dinilai dari prestasi akademik siswa, tetapi dari semangat belajar dan kesejahteraan batin mereka.
“Anak-anak harus bahagia di kelas. Belajar itu harus menyenangkan dan bermakna,” tegasnya.
Dari Rejotangan Tulungagung, dia membuktikan bahwa inovasi dalam pendidikan bisa dimulai dari ruang kelas, selama ada semangat untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Dia tidak hanya mengajar kimia, tapi juga menyalakan inspirasi bahwa guru harus selalu relevan, adaptif, dan penuh cinta terhadap anak didiknya. (meg)
Editor : Didin Cahya Firmansyah