TULUNGAGUNG- Penilaian karya inovatif guru SMA/SMK di Cabang Dinas Pendidikan wilayah Tulungagung-Trenggalek untuk event East Java Innovation Education Summit (EJIES) 2025, sudah tuntas.
Ada 86 peserta di Tulungagung dan Trenggalek yang telah mengirimkan karya dalam berbagai topik tentang pendidikan yang sudah ditentukan panitia EJIES 2025.
Untuk proses penilaian karya peserta EJIES 2025 di Tulungagung dan Trenggalek, meliputi kreativitas dan orisinalitas inovasi, dampak atau manfaat atau manfaat inovasi bagi Pendidikan, keberlanjutan program inovasi, serta presentasi dan dokumetasi inovasi.
Event diselenggarakan kerjasama antara Jawa Pos, Dinas Pendidikan Jawa Timur, serta ITS, serta menggandeng Jawa Pos Radar untuk penilain di wilayah cabang dinas masing-masing.
Dari tim Jawa Pos Radar Tulungagung menggandeng akedemisi Universitas Bhinneka (UBHI) PGRI Tulungagung untuk melakukan penilaian.
Hasilnya nanti akan dipilih 10 besar untuk mengkuti ke jenjang berikutnya di tingkat provinsi. “Menurut saya jumlah partisipasi dalam EJIES 2025 ini sangat luar biasa, baik dari guru, pengawas, maupun kepala sekolah,” terang salah satu tim penilai, Wakil Rektor Bidang Akademik UBHI PGRI Tulungagung, Dr Dian Septi Nur Afifah MPd.
Dengan jumlah peserta yang ikut tersebut, merupakan dampak dari program pemeritah Merdeka Belajar dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi.
Nah ketika ada lomba terkait terknologi pembelajaran akan banyak. Sebab memang dituntut untuk memiliki kompetensi itu, agar bisa mengikuti perkembangan zaman.
Di Tulungagung dan Trenggalek sudah pasti semua akan berlomba untuk melakukan inovasi teknologi pembelajaran. “Ada mungkin yang masuk usia purna, belum bisa maksimal dalam penguasaan teknologi pembelajaran,” terang perempuan yang juga dosen tetap itu.
Dari penilaian, lajuit dia, topik-topik disajikan peserta sudah baik. Namun masih ada catatan untuk peserta yang telah mengirimkan karya.
Termasuk terkait persiapan mulai dari pembuatan video, proposal, diskripsi inovasi, serta lain-lain. “Ada yang terlihat copy paste, indikasi hurufnya tidak sama,” ujarnya.
Untuk ranking memang ketat. Sebab darui pedoman penilian ini sudah ada, sehingga selisih nilai sedikit dan tak jarang ada yang sama satu peserta dengan yang lainnya.
Dia menambahkan, event serupa memang diperlukan tidak hanya di tingkat SMA/SMK, namun di Pendidikan dasar maupun menengah perlu dilakukan. Agar perkembangan pendidikan lebih terarah dan siswa mudeah memahi materi pelajaran. (*/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah