TULUNGAGUNG– Edukasi ekonomi kini merambah ruang kelas dan kebun sekolah. Tujuh SMP di Kabupaten Tulungagung menjalani penjurian perdana Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI), Rabu (19/6/2025).
Sekolah Peduli Inflasi di Tulungagung ini merupakan sebuah program inovatif yang menggabungkan praktik pertanian sederhana dengan pembelajaran ekonomi aplikatif.
Selain itu, program yang digagas untuk menanamkan nilai kedaulatan pangan dan pengendalian inflasi ini menyasar jenjang SMP/MTs di Tulungagung, dengan melibatkan siswa, guru, hingga seluruh warga sekolah dalam aksi nyata melalui gerakan menanam.
Adapun tujuh sekolah yang mengikuti penjurian hari ketiga ini meliputi:
• SMPN 4 Tulungagung
• SMPN 1 Kauman
• SMP Al Hikmah Melathen
• SMPN 2 Kauman
• SMPN 1 Karangrejo
• SMPN 2 Karangrejo
• SMP Plus Al Irsyad Tulungagung
Lebih dari Lomba: Penjurian Sekaligus Edukasi
Penjurian berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB dengan format kunjungan langsung oleh tim juri ke setiap sekolah. Tim juri terdiri dari lintas profesi, yakni dosen Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri, Tarwa Mustopa dan Titik Irawati, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Tulungagung Roro Dyah Angreni, serta jurnalis Radar Tulungagung Didin Cahya Firmansyah.
Penilaian tak hanya berorientasi pada hasil akhir, namun juga menitikberatkan pada proses dan edukasi yang menyertainya. Program Sekolah Peduli Inflasi menjadi media pembelajaran kolaboratif yang menanamkan nilai-nilai keberlanjutan, inovasi, dan tanggung jawab sosial.
Lima Indikator Penilaian: Kreativitas Jadi Sorotan Utama
Penilaian dalam program ini didasarkan pada lima indikator utama:
1. Proses (15%) – Meliputi dokumentasi awal, jumlah populasi tanaman, tingkat keberhasilan tumbuh, dan variasi komoditas.
2. Progres (20%) – Dimonitor setiap bulan oleh tim UNISKA untuk menilai pertumbuhan, kesehatan tanaman, dan kebersihan lahan.
3. Kreativitas (30%) – Bobot tertinggi, menilai inovasi dalam desain kebun, sistem irigasi, penggunaan pupuk/pestisida alami, dan presentasi melalui video kreatif.
4. Keterlibatan (20%) – Mengukur partisipasi seluruh elemen sekolah, termasuk guru, siswa, kepala sekolah, hingga petugas kebersihan.
5. Output (15%) – Fokus pada hasil panen, mulai dari bobot buah, proses pemasaran, hingga pengelolaan pascapanen.
Menanam Bibit, Menuai Harapan
Sebagai wujud dukungan, setiap sekolah peserta menerima bantuan 150 bibit tanaman berusia 20–24 hari, yang terdiri dari cabai rawit, cabai besar, dan tomat. Bibit tersebut menjadi sarana belajar langsung bagi siswa dalam mengenal siklus pertanian serta memahami nilai ekonomi dari hasil kebun.
“Program ini tidak hanya soal menanam tanaman, tapi juga menanam pemahaman akan pentingnya kemandirian dan kontribusi terhadap stabilitas ekonomi. Melalui kebun sekolah, anak-anak belajar tentang ketahanan pangan dengan cara yang menyenangkan dan nyata,” ujar dosen UNISKA sekaligus anggota tim juri, Tarwa Mustopa.
Gerakan Edukatif untuk Masa Depan Ekonomi Lokal
Program Sekolah Peduli Inflasi hadir bukan sebagai lomba semata, melainkan sebagai gerakan berkelanjutan yang menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap isu strategis seperti inflasi dan ketahanan pangan. Keterlibatan aktif dari sekolah-sekolah menunjukkan bahwa semangat perubahan telah tumbuh di kalangan generasi muda.
Diharapkan, keberhasilan pelaksanaan program ini dapat menjadi contoh inspiratif bagi sekolah-sekolah lain di Tulungagung dan sekitarnya, bahwa pendidikan ekonomi bisa dimulai dari hal sederhana, dari kebun sekolah, menuju pemahaman ekonomi yang lebih luas. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah