TULUNGAGUNG– Pembelajaran ekonomi kini tak melulu soal angka di papan tulis. Lewat Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) di Tulungagung, edukasi ekonomi kini tumbuh dari tanah, secara harfiah.
Empat SMP di Tulungagung menjalani penjurian perdana, pada Jumat (20/6/2025).
Dalam proses penjurian tersebut, siswa dan guru SMP di Tulungagung itu begitu semangat menumbuhkan kesadaran ekonomi sejak dini berkebun di lingkungan sekolah.
Empat sekolah yang dinilai pada Jumat (20/6/2025) adalah:
- SMPN 1 Kedungwaru
- SMPN 1 Tulungagung
- SMP Katolik Santa Maria
- SMPN 3 Tulungagung
Program Sekolah Peduli Inflasi ini merupakan program kolaboratif lintas sektor yang menggabungkan edukasi inflasi, ketahanan pangan, dan praktik pertanian sederhana.
Sasarannya adalah siswa-siswi tingkat SMP/MTs di Tulungagung, yang dilibatkan bersama guru dan warga sekolah dalam membangun kebun produktif di lingkungan belajar mereka.
Lebih dari Sekadar Penjurian: Ini Aksi Pendidikan Nyata
Tim juri yang datang ke sekolah bukan hanya menilai, tapi juga memberi inspirasi. Mereka berasal dari beragam latar belakang: akademisi Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Tarwa Mustopa dan Titik Irawati, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Tulungagung Roro Dyah Angreni, dan jurnalis Radar Tulungagung Didin Cahya Firmansyah.
Penjurian dimulai sejak pagi dan berlangsung hingga selesai, dengan penilaian yang menitikberatkan pada proses edukasi, bukan sekadar hasil akhir.
“Melalui kebun sekolah, anak-anak tidak hanya belajar menanam, tapi juga memahami pentingnya ketahanan pangan dan peran mereka dalam menjaga stabilitas ekonomi,” jelas Tarwa Mustopa.
Lima Aspek Penilaian, Kreativitas Jadi Primadona
Proyek Sekolah Peduli Inflasi dinilai berdasarkan lima indikator utama:
- Proses (15%) – Dokumentasi awal, jumlah tanaman, keberhasilan tumbuh, dan variasi komoditas.
- Progres (20%) – Monitoring berkala dari UNISKA terkait pertumbuhan, kesehatan, dan kebersihan lahan.
- Kreativitas (30%) – Inovasi dalam desain kebun, sistem irigasi, pemanfaatan bahan organik, serta presentasi video kreatif.
- Keterlibatan (20%) – Seberapa aktif siswa, guru, kepala sekolah, dan seluruh warga sekolah terlibat.
- Output (15%) – Hasil panen dan bagaimana sekolah mengelola pascapanen serta potensi pemasaran produk.
Yang menarik, indikator kreativitas mendapat bobot tertinggi. Ini menunjukkan bahwa inovasi dan orisinalitas mendapat tempat utama dalam program ini.
Bibit Harapan: Belajar Ekonomi Lewat Tanaman
Sebagai bagian dari dukungan, setiap sekolah menerima bantuan 150 bibit tanaman, terdiri dari cabai rawit, cabai besar, dan tomat berusia 20–24 hari. Dari bibit inilah proses belajar dimulai, bukan hanya soal bercocok tanam, tapi juga mengenali siklus pertumbuhan, merawat, memanen, hingga memahami nilai ekonomi dari hasil kebun.
Gerakan Jangka Panjang: Dari Sekolah, untuk Ekonomi Lokal
Sekolah Peduli Inflasi bukanlah program satu kali. Yakni dirancang sebagai gerakan jangka panjang yang mendidik generasi muda untuk lebih peduli dan peka terhadap isu strategis seperti inflasi, pangan, dan ekonomi kerakyatan.
Sekolah tak lagi hanya tempat belajar teori, tapi juga ruang praktik membangun masa depan bangsa.
Dari kebun kecil di halaman sekolah, Sekolah Peduli Inflasi menumbuhkan lebih dari sekadar tanaman, yakni akan menumbuhkan kesadaran, kepedulian, dan harapan.
Jika gerakan ini terus dirawat, bukan tidak mungkin kebun-kebun sekolah akan menjadi akar bagi kedaulatan pangan dan stabilitas ekonomi lokal di masa depan.
Untuk diketahui, Sekolah Peduli Inflasi menjadi bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Adapun program SPI juga sejalan dengan semangat Gerakan Indonesia Menanam (Gerina) yang telah diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 23 April 2025.
Sedangkan Sekolah Peduli Inflasi di Tulungagung Kolaborasi antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri bersama Pemkab Tulungagung serta pihak terkait. (yay)
Editor : Didin Cahya Firmansyah