TULUNGAGUNG – Tak banyak yang menyadari, di balik denting gitar dan garis-garis lukisan yang tergores di ruang seni SMPN 2 Tulungagung, ada seorang guru yang tanpa lelah menabur benih kreativitas selama lebih dari dua dekade.
Dia adalah Wiji Widodo, sosok guru seni budaya yang telah mengabdikan hidupnya di Tulungagung untuk membimbing anak-anak menemukan jati diri lewat seni.
“Saya ini sebenarnya tidak berasal dari keluarga seniman. Tapi sejak muda memang sudah senang nyanyi, main gitar, menggambar. Dari situ rasa cinta terhadap seni tumbuh,” tutur warga Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung ini.
Laki-laki kelahiran 58 tahun lalu ini memulai karier mengajarnya di Lampung Utara, tepatnya di SMAN 1 Ketapang. Namun tahun 2002 menjadi titik balik saat ia kembali ke tanah kelahirannya dan mulai mengajar di SMPN 2 Tulungagung. Di sinilah kisah panjangnya sebagai pembina seni dimulai dan belum pernah usai.
Dia mengajar bukan sekadar menyampaikan teori, tapi mendampingi siswa dari titik nol. Melatih mereka memetik gitar, menabuh drum, memainkan keyboard, atau belajar menyanyi dengan percaya diri.
“Ada anak yang awalnya tidak bisa apa-apa, tapi akhirnya bisa tampil dan menang lomba. Di situlah kebahagiaan saya,” ungkapnya.
Salah satu kebanggaan terbesarnya adalah melihat anak-anak bimbingannya berani bermimpi dan melangkah lebih jauh. Namun baginya, bukan ketenaran yang utama melainkan proses dan karakter.
“Anak-anak saya arahkan supaya tidak hanya jago seni, tapi juga tetap punya cita-cita tinggi. Saya selalu bilang, jadilah dokter yang bisa main musik, atau insinyur yang jago nyanyi. Jadi seniman itu boleh, tapi punya pendidikan juga penting,” katanya.
Tak hanya aktif di dalam ruang kelas, Wiji Widodo juga dikenal sebagai Guru Instruktur Seni Tingkat Nasional. Penghargaan ini menjadi bukti pengakuan atas kompetensinya dalam dunia pendidikan seni.
Di bawah bimbingannya, tak sedikit siswa yang berhasil meraih prestasi di berbagai tingkat mulai dari Kabupaten, Provinsi, hingga Nasional. Hal ini semakin menegaskan perannya sebagai figur penting dalam memajukan seni di lingkungan pendidikan.
Meski semua anak memiliki bakat yang berbeda, Wiji percaya bahwa seni bisa dipelajari siapa pun, asal mau dan diberi kesempatan. Ia tekankan bahwa seni bukan hanya soal pertunjukan, tapi juga tentang membentuk empati, estetika, dan nilai-nilai kehidupan.
Kini, di usianya yang ke-58, Wiji Widodo tetap mengajar dengan semangat yang sama seperti dua dekade lalu. Tak ada rasa lelah, karena baginya setiap anak yang tersentuh oleh seni adalah bagian dari perjuangannya yang paling mulia.
“Seni adalah jalan memahami keindahan hidup. Tapi lebih dari itu, seni adalah cara kita mencintai, menghargai, dan membentuk manusia seutuhnya,” tutupnya dengan penuh makna. (meg)
Editor : Didin Cahya Firmansyah