Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

SD Negeri di Tulungagung Kurang Siswa, Perlu Evaluasi Terbuka, Pengamat Pendidikan: Penting Sekolah Lakukan Refleksi

Sandy Sri Yuwana • Minggu, 20 Juli 2025 | 17:00 WIB

 

Anggota Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Tulungagung Ahmad Syifa menyayangkan sikap oknum di SDN 2 Kedungwaru usir wartawan terkait perolehan siswa baru dua orang tahun ajaran 2025/2026.
Anggota Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Tulungagung Ahmad Syifa menyayangkan sikap oknum di SDN 2 Kedungwaru usir wartawan terkait perolehan siswa baru dua orang tahun ajaran 2025/2026.

TULUNGAGUNG – Fenomena minimnya siswa baru di sejumlah SD negeri di Tulungagung kembali menjadi perhatian setelah SDN 2 Kedungwaru hanya mendapat dua peserta didik pada tahun ajaran 2025.

Menariknya, sekolah tersebut secara geografis berada di dekat kota Tulungagung dan memiliki fasilitas yang dinilai cukup memadai. Namun tetap saja tidak menjadi pilihan utama masyarakat.

Pengamat pendidikan dasar dan seorang magister pendidikan dari Universitas Negeri Malang,  Hadi Wijayanto menyebut, situasi di SDN 2 Kedungwaru Tulungagung patut dicermati lebih dalam.

Dia menilai bahwa fenomena tersebut bukan hanya persoalan mutu atau promosi, melainkan juga mencerminkan tantangan sistemik yang perlu dievaluasi menyeluruh.

“Sangat menarik untuk diamati lebih lanjut, ya. Karena secara kasatmata, sekolah ini tampaknya tidak bermasalah. Lokasinya strategis di tengah kota, bersih, dan memiliki fasilitas yang cukup,” ujar Hadi saat dikonfirmasi, Jumat (18/7/2025).

Namun, pria yang berdomisili di Desa Kalidawir, Kecamatan Kalidawir, ini juga mengingatkan bahwa penilaian dari luar belum tentu mewakili persepsi masyarakat sekitar.

“Itu juga bisa jadi salah satu faktor penyebab, namun perlu dikonfirmasi lebih lanjut ke warga sekolah dan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Hadi menjelaskan, ada banyak faktor yang dapat memengaruhi sepinya peminat di sekolah negeri, mulai dari sistem zonasi, kedekatan antarsekolah yang saling bersaing, hingga angka kelahiran yang terus menurun.

“Tidak melulu soal sekolah kurang diminati. Bisa jadi karena dampak zonasi, banyak sekolah berdekatan, atau memang karena jumlah anak usia sekolah di wilayah itu menurun,” jelasnya.

Dia menekankan pentingnya sekolah melakukan refleksi dan evaluasi secara terbuka. Yakni, sekolah tidak defensif dan berani menerima kritik maupun masukan dari berbagai pihak. Tentunya berkomitmen untuk memperbaiki.

“Sekolah perlu analisis mendalam dulu faktor-faktor penyebabnya dan bersama-sama mencari solusi. Bahkan, jika memang pernah ada kekeliruan di sekolahnya, tidak ada salahnya meminta maaf secara terbuka dan berkomitmen memperbaiki diri,” ujarnya.

Terkait dugaan pengusiran wartawan yang hendak meliput kegiatan MPLS di SDN 2 Kedungwaru, Hadi menilai tindakan itu tidak bijak dan justru kontraproduktif.

“Menurut saya itu tidak perlu. Justru ini kesempatan bagi sekolah untuk bekerja sama dengan media dan masyarakat, agar bersama-sama mencari solusi. Jika sekolah terlalu menutup diri, masyarakat akan menjadi curiga dan muncul dugaan-dugaan negatif. Atau jangan-jangan pihak sekolah memang sering melakukan hal seperti itu,” sindirnya.

“Keterbukaan adalah kunci. Komunikasi yang sehat antara sekolah, masyarakat, dan media akan membantu menciptakan kepercayaan dan dukungan bersama,” tutupnya. (sri/c1/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #pendidikan #SDN 2 Kedungwaru