TULUNGAGUNG – Edukasi pengendalian inflasi kini merambah dunia pendidikan melalui Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) di Tulungagung, sebuah inisiatif kolaboratif antara Bank Indonesia dan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung.
Pada Kamis (24/7/2025), program Sekolah Peduli Inflasi di Tulungagung memasuki hari ketiga penjurian tahap kedua bulan Juli yang dilaksanakan serentak di tujuh sekolah peserta.
Ketujuh sekolah di Tulungagung tersebut meliputi: SMPN 4 Tulungagung, SMPN 1 Kauman, SMP Al Hukmah Melathen, SMPN 2 Kauman, SMPN 1 Karangrejo, SMPN 2 Karangrejo, dan SMP Plus Al Irsyad. Penjurian berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB dengan metode kunjungan langsung tim juri ke masing-masing sekolah.
Proses penilaian dilakukan oleh tim juri lintas sektor yang terdiri dari dua akademisi Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri, Titik Irawati, SP., MP dan Tarwa Mustopa, SP., M.Agr, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Tulungagung Roro Dyah Angreni, serta jurnalis Radar Tulungagung, Didin Cahyo F.
Penjurian ini menjadi langkah evaluatif awal untuk mengukur sejauh mana sekolah-sekolah mengimplementasikan program SPI secara nyata. Ada lima aspek utama yang dinilai, masing-masing dengan bobot tersendiri:
• Proses (15%): Dinilai melalui dokumentasi penanaman, populasi tanaman, keberhasilan tumbuh, serta keberagaman komoditas.
• Progres (20%): Berdasarkan observasi lapangan, mencakup pertumbuhan tanaman, pengendalian hama, dan kebersihan lingkungan.
• Kreativitas (30%): Aspek paling berbobot ini menilai tata kebun, teknik tanam, pemanfaatan pupuk dan pestisida alami, sistem irigasi, hingga inovasi berbasis media digital.
• Keterlibatan (20%): Mengukur partisipasi seluruh elemen sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga petugas kebersihan.
• Output (15%): Melihat hasil akhir berupa bobot panen, strategi pemasaran, hingga pengelolaan pascapanen.
Program Sekolah Peduli Inflasi di Tulungagung bukan sekadar kegiatan bercocok tanam. Ia menjadi ruang belajar yang mengintegrasikan pendidikan, keterampilan hidup, dan kesadaran terhadap isu ekonomi lokal, sekaligus menanamkan nilai kemandirian dan kepedulian sejak dini.
“Sekolah Peduli Inflasi di Tulungagung bukan hanya soal menanam cabai atau tomat, tetapi tentang menanam semangat kemandirian, kreativitas, dan kepedulian terhadap isu ekonomi yang nyata. Ini gerakan kecil dari sekolah yang bisa berdampak besar bagi masyarakat,” ungkap Tarwa Mustopa dari UNISKA.
Dengan semangat tinggi para siswa, dukungan penuh dari sekolah, serta sinergi stakeholder terkait, Sekolah Peduli Inflasi di Tulungagung diharapkan terus tumbuh sebagai gerakan edukatif berkelanjutan.
Tak hanya mencetak generasi yang peduli terhadap ketahanan pangan dan inflasi, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial yang luas bagi masyarakat Tulungagung. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah