Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

25 SMP/MTs di Tulungagung Adu Gagasan dan Aksi dari Kebun Sekolah Lewat Program SPI Bank Indonesia

Rahmat Nur Yahya • Minggu, 27 Juli 2025 | 21:45 WIB

 

Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI)  di Tulungagung bukan sekadar lomba kebun. Ini ladang pembuktian bahwa edukasi ekonomi bisa ditanam, dirawat, dan dipanen langsung dari halaman sekolah.
Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) di Tulungagung bukan sekadar lomba kebun. Ini ladang pembuktian bahwa edukasi ekonomi bisa ditanam, dirawat, dan dipanen langsung dari halaman sekolah.

TULUNGAGUNG – Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI)  di Tulungagung bukan sekadar lomba kebun. Ini ladang pembuktian bahwa edukasi ekonomi bisa ditanam, dirawat, dan dipanen langsung dari halaman sekolah.

Program SPI di Tulungagung ini resmi menggelar penjurian tahap dua selama empat hari pada 22–25 Juli 2025. Sebanyak 25 sekolah tingkat SMP/MTs di Tulungagung ambil bagian. Hasilnya? Banyak catatan, tapi lebih banyak harapan.

Dari cabai yang menyala merah, hingga tomat yang montok menggiurkan, SPI di Tulunggagung bukan cuma tentang hasil tani.

Program SPI di Tulungagung menyulap kebun sekolah menjadi ruang kelas hidup tempat siswa belajar soal inflasi, ketahanan pangan, hingga rantai ekonomi, semuanya dengan tangan penuh tanah, bukan sekadar teori di papan tulis.

“Anak-anak tidak hanya belajar menanam, tapi menyelami peran penting mereka dalam stabilitas ekonomi lokal. Ini pendidikan ekonomi paling membumi,” ujar akademisi dari Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri, Tarwa Mustopa, yang juga menjadi juri, pada Jumat (25/7/2025). 

Tim juri yang terdiri dari akademisi, praktisi pangan, dan media tak hanya menilai dari sisi teknis, tapi juga memantik semangat. Mereka membawa pesan besar: SPI harus tumbuh jadi gerakan, bukan sekadar kompetisi.

Setiap sekolah diberi 150 bibit tanaman: cabai rawit, cabai besar, dan tomat. Tapi yang tumbuh bukan sekadar tanaman, melainkan juga kesadaran, gotong royong, dan keberanian mencoba. Kreativitas jadi indikator paling bergengsi, karena ekonomi masa depan butuh inovator, bukan sekadar pelaksana.

5 Pilar Penilaian SPI:

  1. Proses (15%) – Dokumentasi, jenis tanaman, dan keberhasilan tumbuh.
  2. Progres (20%) – Hasil monitoring pertumbuhan oleh UNISKA.
  3. Kreativitas (30%) – Desain kebun, irigasi, hingga cara presentasi.
  4. Keterlibatan (20%) – Kolaborasi lintas elemen sekolah.
  5. Output (15%) – Hasil panen dan pengelolaan.

Daftar 25 Sekolah Peserta SPI:

  1. SMP ISLAM AL AZHAAR TULUNGAGUNG
  2. SMPN 3 KEDUNGAWARU
  3. SMPN 2 KEDUNGWARU
  4. SMP ISLAM AL BADAR
  5. SMPN 2 NGANTRU
  6. MTsN 7 TULUNGAGUNG
  7. SMPN 1 NGANTRU
  8. SMPN 6 TULUNGAGUNG
  9. SMPN 2 TULUNGAGUNG
  10. MTsN 1 TULUNGAGUNG
  11. SMPN 1 BOYOLANGU
  12. SMPN 5 TULUNGAGUNG
  13. SMPN 2 GONDANG
  14. SMPN 1 GONDANG
  15. SMP PLUS AL IRSYAD TULUNGAGUNG
  16. SMPN 2 KARANGREJO
  17. SMPN 1 KARANGREJO
  18. SMP AL HIKMAH MELATHEN
  19. SMPN 2 KAUMAN
  20. SMPN 1 KAUMAN
  21. SMPN 4 TULUNGAGUNG
  22. SMPN 1 KEDUNGWARU
  23. SMPN 1 TULUNGAGUNG
  24. SMP KATOLIK SANTA MARIA TULUNGAGUNG
  25. SMPN 3 TULUNGAGUNG

SPI di Tulungagung telah membuka mata bahwa pendidikan ekonomi bisa dimulai dari tanah yang dipijak. Ketika teori tentang inflasi tak hanya dibaca, tapi dirasakan dari naik-turunnya hasil panen, siswa belajar lebih dalam dan lebih nyata.

Dari kebun kecil di pojok sekolah, ide besar ditanam. SPI membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari pot kecil, dari semangat kolektif siswa dan guru, dan dari kesadaran bahwa menjaga ketahanan pangan adalah tanggung jawab semua, termasuk generasi muda.

Masih banyak ruang perbaikan manajemen kebun, strategi distribusi hasil panen, dan kesinambungan program.

Tapi semangat dan kreativitas yang membuncah jadi modal kuat. Penjurian SPI bukan garis finis, melainkan garis start untuk membangun masa depan ekonomi lokal yang lebih tangguh.

Kalau perubahan besar itu dimulai dari sekolah, maka SPI adalah benih yang tak boleh dibiarkan layu. Dari sekolah, untuk Indonesia. Dari tanah, untuk masa depan. (yay/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#2025 #tulungagung #bank indonesia #SMP MTs #SPI