TULUNGAGUNG – Edukasi ekonomi kini keluar dari tembok ruang kelas dan berakar langsung ke tanah. Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) gagasan Bank Indonesia kembali menggeliat di Tulungagung dengan semangat baru.
Sebanyak 25 SMP/MTs dari berbagai penjuru kabupaten Tulungagung ambil bagian dalam program edukatif ini membawa serta inovasi, kolaborasi, dan semangat gotong royong yang membanggakan.
Program yang berlangsung selama tiga bulan ini bukan sekadar ajang tanam-menanam. Para siswa dan guru di Tulungagung ditantang untuk mengintegrasikan ilmu ekonomi dengan praktik nyata di lapangan, menanam tiga jenis bibit unggulan: cabai besar Bostavi, cabai rawit Asmoro, dan tomat Comodor.
Bibit tersebut didistribusikan langsung oleh Bank Indonesia sebagai bagian dari upaya edukasi inflasi yang aplikatif dan menyenangkan.
Penjurian tahap pertama telah dimulai sejak Juni, dan kini penjurian tahap kedua yang berlangsung sepanjang Juli juga telah rampung.
Tim juri yang terdiri dari akademisi dan praktisi pertanian menyambangi sekolah-sekolah peserta untuk menilai perkembangan tanaman, inovasi, serta kekompakan dalam perawatan kebun sekolah.
Akademisi dari Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri, Titik Irawati, yang turut menjadi juri, menegaskan bahwa program ini menyimpan nilai pendidikan yang sangat penting.
“Merawat tanaman bukan sekadar tugas praktikum. Itu soal komitmen, kerja sama, dan tanggung jawab. Inilah inti pendidikan sejati bukan hanya teori, tapi pengalaman langsung yang membentuk karakter dan kesadaran ekonomi sejak dini,” ujarnya saat proses penilaian, Jumat (25/7/2025).
Yang menarik, sekolah-sekolah peserta menampilkan berbagai inovasi kreatif: mulai dari sistem tanam hidroponik sederhana, pemanfaatan pot gantung di lorong kelas, hingga kebun vertikal di dinding sekolah. Kreativitas tak terbendung, bahkan di tengah keterbatasan lahan.
Namun di balik semangat tersebut, masih ada tantangan yang jadi PR bersama. Beberapa sekolah mengalami kendala teknis seperti serangan hama, sistem irigasi manual yang belum optimal, hingga kekurangan sarana pendukung.
Semua ini menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan program di masa depan.
Meski demikian, semangat para siswa dan guru tak surut. Mereka tidak hanya menanam bibit cabai dan tomat, mereka sedang menanam kesadaran, karakter, dan masa depan.
SPI bukan hanya program temporer, melainkan cikal bakal budaya sekolah yang lebih mandiri, adaptif, dan peduli pada isu-isu ekonomi sejak dini.
Dengan dua tahap penjurian yang kini telah rampung, seluruh pihak berharap Program SPI tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut sebagai gerakan yang menumbuhkan generasi muda yang tangguh, melek ekonomi, dan mandiri pangan. (yay/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah