Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Hari Kedua, Tujuh Sekolah di Tulungagung Jalani Penjurian Tahap Akhir Program Sekolah Peduli Inflasi

Rahmat Nur Yahya • Kamis, 28 Agustus 2025 | 01:00 WIB

 

Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) kembali berlanjut di bulan Agustus. Rabu (27/8/2025), sebanyak tujuh sekolah di Kabupaten Tulungagung menjalani penjurian tahap akhir.
Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) kembali berlanjut di bulan Agustus. Rabu (27/8/2025), sebanyak tujuh sekolah di Kabupaten Tulungagung menjalani penjurian tahap akhir.

 

TULUNGAGUNG – Program Sekolah Peduli Inflasi (SPI) kembali berlanjut di bulan Agustus. Rabu (27/8/2025), sebanyak tujuh sekolah di Kabupaten Tulungagung menjalani penjurian tahap akhir. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menilai sejauh mana sekolah mampu mengimplementasikan edukasi pengendalian inflasi dalam dunia pendidikan.

Adapun sekolah yang mengikuti penjurian kali ini yaitu SMPN 1 Kedungwaru, SMPN 1 Tulungagung, MTsN 1 Tulungagung, SMPN 1 Boyolangu, SMPN 5 Tulungagung, SMPN 2 Gondang, serta SMPN 1 Gondang. Proses penilaian berlangsung sejak pagi hingga selesai dengan metode kunjungan langsung ke masing-masing sekolah.

Penjurian dilakukan oleh tim lintas sektor, melibatkan akademisi Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Titik Irawati, SP., MP. dan Tarwa Mustopa, SP., M.Agr., perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Tulungagung Roro Dyah Angreni, serta jurnalis Radar Tulungagung Didin Cahyo F.

 

Photo
Photo

Ada lima aspek utama yang menjadi tolok ukur penilaian. Mulai dari proses (15%), yang mencakup dokumentasi penanaman dan keberagaman komoditas; progres (20%), berdasarkan pertumbuhan tanaman dan pengendalian hama; kreativitas (30%), yang menilai inovasi dalam tata kebun, teknik tanam, hingga pemanfaatan media digital; keterlibatan (20%), melihat sejauh mana partisipasi guru, siswa, hingga petugas kebersihan; serta output (15%), berupa hasil panen, pemasaran, dan pengelolaan pascapanen.

Menurut Tarwa Mustopa, penjurian bukan sekadar menilai hasil tanam, melainkan juga mengukur nilai yang tertanam.

“SPI bukan hanya soal menanam cabai atau tomat, tetapi tentang menanam semangat kemandirian, kreativitas, dan kepedulian terhadap isu ekonomi yang nyata. Ini gerakan kecil dari sekolah yang bisa berdampak besar bagi masyarakat,” jelasnya.

SPI hadir bukan hanya sebagai program bercocok tanam, melainkan juga sarana pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan hidup, hingga kesadaran terhadap isu ekonomi lokal.

Harapannya, kegiatan ini mampu mencetak generasi yang peduli terhadap ketahanan pangan dan inflasi.

Sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial bagi masyarakat Tulungagung.

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#2025 #tulungagung #Sekolah Peduli Inflasi