Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Botol Plastik Bisa Berubah Jadi Uang, Universitas Negeri Malang Berupaya Mengelola Sampah Secara Mandiri

Savina Ayu Wardani • Rabu, 24 September 2025 | 18:40 WIB

Setelah membuka tempat pembuangan sementara privat dan bank sampah, Universitas Negeri Malang kini menghadirkan mesin penampung botol plastik yang bisa ditukar uang di kampus.
Setelah membuka tempat pembuangan sementara privat dan bank sampah, Universitas Negeri Malang kini menghadirkan mesin penampung botol plastik yang bisa ditukar uang di kampus.

RADAR TULUNGAGUNG - Setelah membuka tempat pembuangan sementara privat dan bank sampah, Universitas Negeri Malang kini menghadirkan mesin penampung botol plastik yang bisa ditukar uang di kampus. Mereka punya misi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir nantinya nol.

Di tangan Solikan ada empat botol air mineral kemasan 600 mililiter. Setelah menyelesaikan tugasnya di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 19 Universitas Negeri Malang (UM), petugas kebersihan itu pun bergegas turun ke lantai satu.

Kemudian didekatilah sebuah mesin yang sekilas mirip penyedia minuman kemasan otomatis. Itulah reverse vending machine (RVM), wadah pengumpul botol plastik bekas minuman kemasan dengan imbalan cuan. Ke mesin itulah Solikan memasukkan keempat botol yang dibawanya tadi.

Baca Juga: Bukan Monopoli Perkotaan, Sampah Jadi Tantangan Nyata di Pedesaan, Berikut Alasannya

"Meskipun tidak setiap hari, tapi kalau sedang ada botol bekas dan ada tugas di GKB 19, biasanya saya masukkan," katanya kepada Radar Malang Grup Jawa Pos, Jumat (19/9) pekan lalu.

Untuk ditukarkan menjadi uang, setidaknya membutuhkan 178 botol bekas. Dari ratusan botol itu bisa terkumpul sebesar Rp 10.000.

Sebab, satu botol bekas memiliki nilai 56 poin atau Rp 56. Kehadiran RVM itu buah kerja sama UM dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) pada 15 Agustus lalu. Semula mesin itu diletakkan di lobi belakang Graha Rektorat, tapi kemudian dipindah ke GKB 19.

Sejak dipindah pada 1 September lalu, Solikan jadi rajin berburu botol bekas minuman kemasan. Begitu pula rekan-rekannya yang rajin berburu botol bekas lain sesama tenaga kebersihan.

"Lumayan bisa membantu mengurangi sampah botol yang berceceran sekaligus memiliki nilai rupiah," kata Solikan.

UM mengklaim RVM tersebut sebagai yang pertama di semua kampus di Malang yang dikenal sebagai kota pendidikan. Tapi, di luar kampus, mesin serupa bisa ditemukan di RS Lavarlette di kota yang sama.

Baca Juga: Teluk Popoh Sering Dihiasi Sampah Mengambang, Dinas Lingkungan Hidup Tulungagung Ungkap Penyebabnya

Cara Kerja

Cara memasukkan botol plastik ke RVM pun mudah. Pemilik botol tinggal mengunduh dan melakukan registrasi di aplikasi Plasticpay. Jika sudah, pemilik botol bisa menekan ospi "mulai" pada layar mesin.

Botol yang dimiliki lalu dapat dimasukkan kek mesin satu per satu sampai botol tertarik otomatis. Tanda botol masuk bisa terlihat dari lampu di mesin yang berubah warna merah menjadi hijau.

Namun, yang dimasukkan harus dalam kondisi bersih alias tidak mengandung air. Setelah selesai memasukkan botol, tinggal membuka apliksi Plasticpay dan memilih opsi "ambil poin".

Poin secara otomatis tercatat jika pemilik botol udah melakukan can QR Code hingga muncul tulisan "transaksi berhasil".

Meskipun memiliki nilai rupiah, belum banyak mahasiswa yang memanfaatkannya. Hal itu terlihat dari jumlah botol yang tertampung di dalam mesin.

Sejak 1 September sampai 19 September, baru ada 316 botol. Padahal RVM memiliki kapasitas penampungan sebanyak 700 botol.

Baca Juga: Hidup Minim Sampah di Tulungagung, Ada 10 Cara yang Bisa Dimulai dengan Tindakan Sederhana

Seperti tampak pada Jumat pekan lalu, sesekali tampak mahasiswa mendekat, tapi untuk sekadar menonton video edukasi lingkungan pada RVM. Ada pula yang tertarik memasukkan, tapi tidak memiliki sampah botol.

"Untuk saat ini tetap kami taruh di GKB 19 karena biasanya gedung ini ramai oleh para mahasiswa. Kami optimistis bakal semakin banyak warga kampus yang memanfaatkannya," terang Kepala Subdirektorat Sarana dan Prasarana UM, Faul Hidayatunnafiq.

Program Green Campus

Lebih lanjut, keberadaan RVM diharapkan bisa mendukung program "green campus" yang ditetapkan UM selama 6 tahun terakhir. Khusus untuk pengelolaan sampah UM sudah melakukan upaya mulai dua tahun lalu.

Diawali dengan pembangunan sementara (TPS) dan bank sampah. Keduanya diiisiasi Ketua Green Campus UM, Sumarmi.

Baca Juga: Pemkab Tulungagung Akan Realisasikan Tempat Pembuangan Sampah Sementara Terpadu pada 2026, Lokasi Terungkap dan Warga Tidak Keberatan

"Setiap hari, sampah yang masuk ke TPS bisa mencapai 2 ton. Namun, yang terolah baru 1/3 atau sekitar 600 kilogram sampah", ungkap Sumarmi.

UM memiliki misi agar ke depan sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir Supit Urang adalah nol.

Jika berhasil dikelola sendiri, tentunya kampus tidak mengeluarkan biaya retribusi pengiriman sampah.

Karena itu UM membangun TPS privat. Ada pula fasilitas pendukung seperti mesih giling, mesin pelepas kabel botol hingga mesin penghancur sampah.

Sementara untuk mekanisme bank sampah, saat ini keanggotannya baru dari tenaga kebersihan.

Biasanya tenaga kebersihan akan menyetorkan sampah. Untuk sampah seberat 1 kilogram, bisa ditukar dengan uang senilai Rp 2.500.

Selain sampah plastik, UM juga mengelola sampah organik. Sampah tersebut diolah menggunakan composter hingga mejadi pupuk.

"Pupuk kami pakai untuk merawat tanaman-tanaman yang rada di lingkungan kampus," kata Sumarmi. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#universitas negeri malang #Botol plastik #um #sampah