RADAR TULUNGAGUNG - Memilih jurusan kuliah merupakan langkah krusial bagi calon mahasiswa, terutama yang ingin menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Salah satu strategi cerdas untuk meningkatkan peluang diterima adalah dengan memilih jurusan atau program studi (prodi) yang jarang diminati oleh pendaftar lain. Semakin sedikit peminatnya, maka peluang kita untuk diterima pun semakin besar.
Berdasarkan data daya tampung Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2024 dan peminat 2023, ditemukan banyak prodi yang termasuk dalam kategori 14 jurusan sepi diminati namun menawarkan prospek karir yang sangat menjanjikan, baik di rumpun Sains dan Teknologi (Saintek) maupun Sosial dan Humaniora (Soshum).
Sejak 2023, sistem Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) memang tidak lagi menggunakan klasifikasi klaster saintek dan soshum, namun prodi tetap terbagi ke dalam dua rumpun besar yakni Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Saintek, dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau Soshum.
Bagi siswa yang memiliki minat pada bidang non-populer, kini saatnya memanfaatkan keunggulan kompetitif ini.
Memilih jurusan kuliah yang jarang diminati umumnya disebabkan karena prospek kerjanya yang dianggap kurang jelas atau nama program studi yang masih asing di telinga masyarakat luas.
Padahal, di balik namanya yang kurang tenar, deretan 14 jurusan sepi diminati ini justru menghadirkan prospek yang sangat bagus bagi para lulusannya karena dibutuhkan di berbagai sektor industri.
Meskipun jurusan-jurusan favorit, seperti Ilmu Komunikasi atau Manajemen, memiliki tingkat keketatan yang sangat tinggi (rasio di UGM bisa mencapai 1,49 persen dan 1,73 persen), memilih jurusan dengan rasio yang lebih rendah dapat menjadi langkah strategis.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai 14 jurusan sepi diminati, tujuh dari Saintek dan tujuh dari Soshum, menjanjikan peluang kerja tinggi:
Baca Juga: Fenomena Job Hugging dalam Dunia Kerja Modern, Apakah Kamu di Posisi Ini Sekarang?
7 Jurusan Saintek Sepi Peminat dengan Prospek Menjanjikan
1. Terapi Okupasi
Terapi Okupasi di UI, misalnya, hanya memiliki 80 peminat untuk 25 daya tampung pada 2023. Meskipun peminatnya sedikit, profesi ini menawarkan peluang kerja yang sangat besar di bidang rehabilitasi medis dan psikologis.
Lulusannya membantu individu dengan gangguan fisik atau mental dalam memulihkan keterampilan sehari-hari.
2. Fisika
Jurusan Fisika di UI dan UGM menunjukkan peminat yang rendah (128 dan 152 pendaftar untuk daya tampung 28 dan 21 di 2023).
Lulusan fisika memiliki kesempatan kerja yang sangat luas, termasuk di sektor energi, teknologi, dan penelitian ilmiah, seperti energi terbarukan dan riset material baru.
3. Biologi Di UGM dan UI
Biologi dilamar oleh 420 dan 179 pendaftar untuk daya tampung 69 dan 28 pada 2023. Peluangnya sangat besar di sektor riset dan pengembangan bioteknologi.
Ahli biologi dibutuhkan di perusahaan farmasi, lembaga riset, dan bidang konservasi lingkungan untuk keberlanjutan.
4. Akuakultur
Akuakultur di UGM, UNAIR, dan UB terbilang kurang diminati (peminat 208, 140, dan 115). Lulusan Akuakultur memiliki prospek yang menjanjikan di budidaya ikan, riset kelautan, dan pengelolaan sumber daya laut.
5. Geofisika
Jurusan Geofisika di UB, UGM, dan UI memiliki peminat yang jauh lebih sedikit (143, 285, dan 124 pada 2023).
Jurusan ini mempelajari fenomena geologi menggunakan metode fisika. Prospek kariernya besar di industri energi, eksplorasi minyak, gas, mineral, serta mitigasi bencana alam.
6. Teknik Bioproses Dengan jumlah peminat yang rendah (133 pada 2023 di UB dan UI), prodi ini berfokus pada penerapan bioteknologi untuk mengubah bahan alam menjadi produk bernilai. Lulusan memiliki peluang di sektor farmasi, energi terbarukan, dan pengolahan makanan.
7. Kimia Meskipun memiliki daya tampung besar, peminat Kimia di UGM, UI, UNAIR, dan IPB relatif rendah (antara 129 hingga 336 pendaftar di 2023). Lulusan Kimia memiliki peluang kerja yang sangat luas di farmasi, energi terbarukan, dan teknologi material.
7 Jurusan Soshum Sepi Peminat dengan Prospek Menjanjikan
1. Sastra Jawa
Jurusan ini memiliki peluang tembus masuk yang besar; di UI, keketatannya 'hanyalah' 25,40 persen (SNBP) dan 17,52 persen (SNBT).
Lulusan Sastra Jawa berpeluang menjadi pengajar, penulis, peneliti pelestarian budaya/bahasa Jawa, atau staf di instansi pemerintahan dan pariwisata yang mempromosikan kearifan lokal.
2. Ekonomi Islam
Di rumpun Soshum, Ekonomi Islam menjadi yang paling rendah tingkat persaingannya di Universitas Airlangga (UNAIR), yakni 14,47 persen. Jurusan ini mempelajari teori ekonomi, ekonomi pembangunan, hingga audit berbasis syariah.
3. Filsafat
Peminat Filsafat di UGM terus menurun, dengan rasio kelulusan 1:6 pada 2024. Lulusan jurusan ini bisa bekerja sebagai dosen, akademisi, analis kebijakan, konsultan pendidikan, hingga advokat.
4. Ilmu Perpustakaan
Di Universitas Diponegoro (Undip), rasio kelulusan Ilmu Perpustakaan adalah 1:8. Lulusannya dibutuhkan sebagai pustakawan, data manager, arsiparis, digital librarian, hingga document controller.
5. Arkeologi
Jurusan Arkeologi cocok untuk yang suka terjun di lapangan. Tingkat keketatan Arkeologi di UI hanya 15,38 persen (jalur SNBP).
Peluang kerjanya meliputi instansi pemerintah seperti LIPI atau Arkenas, jurnalis, pemandu wisata, atau pegawai museum.
6. Sastra Indonesia
Meskipun memiliki prospek kerja yang luas dan fleksibel (penulis, editor, jurnalis, copywriter, pengajar, ahli bahasa), rasio kelulusan pendaftar Sastra Indonesia terbilang rendah, seperti 1:7 di Undip.
7. Antropologi
Antropologi mempelajari manusia dan kebudayaannya secara menyeluruh. Rasio tembus masuk di UGM adalah 1:11.
Lulusan memiliki prospek karier sebagai peneliti sosial, konsultan budaya, atau staf di organisasi internasional.
Meskipun jurusan-jurusan di atas tergolong sepi peminat dibandingkan prodi populer lainnya, memilih jalur non-populer ini dapat menjadi strategi yang efektif untuk diterima di PTN idaman.
Selain itu, peluang kerja yang menjanjikan, terutama di sektor-sektor yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan, riset bioteknologi, hingga pelestarian budaya dan teknologi pengukuran presisi, memastikan lulusan dari prodi ini tetap relevan dan dibutuhkan di masa depan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana