RADAR TULUNGAGUNG – Pernyataan Menkeu Purbaya kembali menyita perhatian publik, khususnya generasi muda yang saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi.
Dalam sebuah kuliah umum di Institut Pertanian Bogor (IPB), Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menegaskan bahwa Gen Z tidak boleh malas-malasan jika ingin Indonesia mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen di masa mendatang.
Menurutnya, kebutuhan Indonesia terhadap sumber daya manusia (SDM) berkualitas semakin mendesak karena kompetisi global semakin ketat dan tantangan ekonomi kian kompleks.
Pada kesempatan itu, Menkeu Purbaya menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak orang pintar yang mampu menguasai keilmuan modern, memiliki etos kerja kuat, serta siap menghadapi dinamika ekonomi global.
Pesannya ditujukan langsung kepada para mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut, khususnya mereka yang termasuk generasi Z dan saat ini sedang berada pada fase menentukan masa depan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan Smartboard di SMPN 4 Bekasi, Awal Transformasi Digital di 330 Ribu Sekolah
Gen Z Diminta Kuliah Sungguh-sungguh
Dalam pidatonya, Menkeu Purbaya tidak ragu untuk mengingatkan bahwa kebiasaan malas belajar bisa berdampak pada lambatnya kemajuan negara.
Ia menegaskan, “Teman-teman Gen Z yang sedang kuliah, kuliahlah sungguh-sungguh. Jangan malas-malasan. Kita perlu Anda untuk mendukung target 8 persen ke depan.”
Pernyataan ini langsung disambut tepuk tangan ribuan peserta yang hadir. Pesan tegas itu bukan tanpa alasan.
Indonesia membutuhkan dorongan ekonomi baru yang sebagian besar akan bertumpu pada peran generasi muda.
Dengan komposisi demografi yang didominasi penduduk usia produktif, generasi inilah yang akan menentukan kecepatan transformasi ekonomi nasional.
Menurut Purbaya, jika generasi muda tidak memaksimalkan potensi yang mereka miliki, peluang emas menuju Indonesia Maju bisa terlewat begitu saja.
Disampaikan di Kuliah Umum Himpunan Alumni IPB
Pernyataan Menkeu Purbaya tersebut disampaikan saat ia menjadi pembicara pada kuliah umum bertajuk Arah Baru Kebijakan Tata Kelola Keuangan Negara untuk Kesejahteraan Masyarakat Indonesia.
Acara itu diselenggarakan Himpunan Alumni IPB dan dihadiri ribuan peserta, mulai dari dosen, akademisi, hingga mahasiswa dari berbagai fakultas.
Dalam paparannya, Purbaya menekankan pentingnya tata kelola keuangan negara yang adaptif, transparan, dan berorientasi kesejahteraan.
Namun, menurutnya kebijakan sehebat apa pun tidak akan optimal tanpa SDM yang mumpuni untuk mengimplementasikannya.
Inilah sebabnya, ia kembali menekankan pentingnya kualitas pendidikan dan kedisiplinan mahasiswa.
Kenangan Masa Kecil yang Membentuk Karakter
Selain membahas ekonomi dan pendidikan, Menkeu Purbaya juga berbagi cerita masa kecilnya di lingkungan kampus IPB University Dramaga, Kabupaten Bogor.
Ia mengenang bagaimana kedua orang tuanya, Prof. Dr. dr. Hewana Sugiri dan Prof. Sugiri, yang merupakan dosen di IPB, membesarkannya dalam lingkungan akademik yang disiplin.
Purbaya menceritakan masa ketika ia berjalan kaki selepas subuh untuk pergi ke sekolah.
Rutinitas itu, menurutnya, menjadi tempaan mental yang membentuk kedisiplinan, ketangguhan, dan karakter kepemimpinan yang ia pegang hingga kini.
Cerita tersebut disampaikan sebagai motivasi bagi mahasiswa agar tidak mudah menyerah dan tetap memegang prinsip kerja keras.
Indonesia Butuh SDM Pintar untuk Ekonomi 8 Persen
Target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen menjadi salah satu fokus yang ditekankan Menkeu Purbaya.
Ia menilai angka tersebut bukan sekadar ambisi, tetapi kebutuhan agar Indonesia mampu keluar dari perangkap negara berkembang.
Namun, untuk mencapai target itu, pembangunan sumber daya manusia menjadi kunci utama.
Menurut Purbaya, transformasi ekonomi berbasis inovasi, teknologi, dan peningkatan produktivitas tidak akan bisa tercapai tanpa peran aktif generasi muda.
Karena itu, ia meminta mahasiswa khususnya Gen Z untuk memanfaatkan kesempatan kuliah sebagai modal masa depan dan tidak terjebak pada gaya hidup malas atau tidak produktif.
Dalam penutup kuliahnya, Purbaya kembali mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan generasi yang cerdas, tangguh, dan berdaya saing tinggi. “Kita perlu orang-orang pintar lebih banyak lagi,” tegasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana