RADAR TULUNGAGUNG - Peringatan Hari Guru Nasional selalu hadir dengan kemeriahan seremonial yang nyaris seragam.
Namun, di balik gelora itu terdapat ironi bahwa guru dirayakan, tetapi belum sepenuhnya diperjuangkan.
Menghormati guru harus melampaui retorika kosong dan apresiasi simbolis belaka.
Hari Guru Nasional mestinya mengajak kita merenungkan makna perjuangan substantif yang sesungguhnya.
Profesinya berada pada titik kritis di tengah gelombang perubahan zaman yang sangat cepat.
Mereka dituntut menjadi pendidik karakter, administrator, dan katalisator peradaban digital.
Ironi terbesar adalah, bahwa dalam percakapan publik guru selalu ditempatkan pada posisi terhormat.
Mereka disebut pahlawan tanpa tanda jasa atau pengukir masa depan bangsa.
Terdapat berbagai ketimpangan struktural yang masih sangat membelenggu para guru saat ini.
Ini mencakup kesejahteraan yang tidak merata serta status kepegawaian yang masih kabur.
Beban administratif yang berlebihan juga menjadi tantangan serius bagi mereka di era digital.
Tantangan kurikulum yang terus bergulir sering kali tanpa pendampingan memadai.
Di ranah kebijakan, suara mereka sering kali tidak cukup kuat untuk membentuk arah pendidikan nasional.
Banyak di antara mereka yang berjalan sendirian dengan fasilitas minim dan tuntutan yang menekan.
Guru memikul tanggung jawab pembentukan karakter dan moderasi sosial di era penuh tantangan ini.
Mereka adalah pilar utama peradaban dan penggerak transformasi pendidikan.
Profesi ini bukan hanya menghabiskan energi intelektual, tetapi juga menguras sisi emosional dan moral.
Baca Juga: Cara Daftar PPG Calon Guru 2025 di SIMPKB, Lengkap dengan Tahapan Seleksi dan Syarat Dokumen
Guru berhadapan dengan generasi yang harus dipersiapkan untuk dunia yang sulit diramalkan bentuknya.
Pedagogi modern menempatkan guru sebagai teladan hidup yang menjadi hidden curriculum bagi siswa.
Sentuhan kemanusiaan dari guru tidak dapat digantikan oleh teknologi di tengah derasnya digitalisasi.
Guru dituntut mampu merancang pembelajaran inovatif di era AI dan big data.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Mendadak Jadi Guru SMA, Ungkap Alasan Ajak Siswa Belajar APBN Biar Tak Asal Protes
Mereka kini adalah desainer pengalaman belajar yang mendongkrak kualitas pendidikan Indonesia.
Dalam masyarakat multikultural, guru memiliki tugas strategis sebagai penjaga harmoni dan stabilitas sosial.
Mereka menanamkan nilai toleransi, kebhinekaan, dan moderasi beragama kepada siswa.
Kondisi problematik ini menuntut penguatan kebijakan afirmatif dan ekosistem pendidikan yang lebih kuat.
Peringatan hari guru harus menjadi momen reflektif dari simbolis menuju struktural.
Guru tidak hanya membutuhkan tepuk tangan, mereka memerlukan kebijakan yang adil dan kesejahteraan yang layak.
Mereka juga membutuhkan dukungan profesional yang berkelanjutan serta ruang kerja yang memanusiakan.
Memuliakan guru berarti memperjuangkan mereka dengan memperkuat sistem pendidikan nasional.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang benar-benar berdiri di belakang dan menghargai tulus kontribusi guru.***
Editor : Vidya Sajar Fitri