RADAR TULUNGAGUNG — Di SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung, ada seorang guru atau dwija dalam Bahasa Jawa Kuna yang keberadaannya telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sekolah ini.
Bambang Sunaryadi, yang telah mengajar selama 24 tahun, dikenal sebagai sosok pendidik yang sabar, hangat, dan memiliki komitmen kuat dalam membentuk karakter anak didik.
Baginya, menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menemani proses tumbuhnya generasi masa depan.
Bambang mengatakan bahwa pengalaman paling berkesan selama menjadi guru adalah ketika ia mampu membentuk karakter siswa dan menyesuaikan pendekatan sesuai kemampuan akademik masing-masing anak.
Ia percaya bahwa setiap siswa memiliki potensi unik, dan tugas guru adalah membantu mereka menemukannya.
“Saat mereka berubah menjadi pribadi yang lebih baik, itu adalah kebahagiaan tersendiri,” tuturnya.
Di lingkungan sekolah, Bambang memegang teguh budaya Sapa, Salam, Senyum sebagai wujud menciptakan suasana positif antara guru dan siswa.
Baginya, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga rekan belajar sekaligus orang tua kedua bagi murid.
Ia percaya bahwa keteladanan di depan lebih efektif daripada instruksi tanpa contoh.
“Jika guru memberi contoh yang baik, anak-anak akan menyesuaikan dengan sendirinya,” ujarnya.
Meski demikian, menjadi guru di era modern tidaklah mudah. Tantangan baru muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi.
Dia menilai bahwa guru tidak boleh terpaku pada pola lama.
“Anak-anak tidak bisa ditarik mundur ke zaman dulu. Kita harus mengikuti perkembangan teknologi,” katanya.
Namun ia juga menyadari bahwa kemudahan teknologi sering menimbulkan salah paham terutama ketika guru mencoba menertibkan siswa tetapi justru dianggap berlebihan.
Tetap saja, semangatnya untuk mendampingi murid tidak pernah hilang. Ia selalu berpesan kepada siswa untuk tetap berusaha dan tidak mudah menyerah.
“Harus semangat untuk masa depan. Kalau malas dan tidak belajar, kita akan tertinggal,” tuturnya.
Di momen Hari Guru Nasional 2025, Bambang menyampaikan harapan agar hubungan harmonis antara guru dan siswa terus terjaga.
Semangat belajar yang tinggi, pendampingan yang tulus, dan suasana sekolah yang positif menjadi kunci agar pendidikan berjalan baik.
Ia percaya, jika semua pihak bergerak bersama, maka cita-cita Indonesia Emas bukanlah hal yang jauh untuk dicapai.(meg/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri