Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nilai TKA Matematika SMA Jeblok, Kemendikdasmen Tegas: Materi Tak Bisa Diubah, Ini Solusi Pemerintah

Savina Ayu Wardani • Selasa, 23 Desember 2025 | 20:15 WIB

Nilai TKA Matematika SMA jeblok menjadi sorotan publik setelah hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menunjukkan rendahnya capaian numerasi siswa SMA dan sederajat di berbagai daerah.
Nilai TKA Matematika SMA jeblok menjadi sorotan publik setelah hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menunjukkan rendahnya capaian numerasi siswa SMA dan sederajat di berbagai daerah.

RADAR TULUNGAGUNG - Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika SMA jeblok menjadi sorotan publik setelah hasil TKA 2025 menunjukkan rendahnya capaian numerasi siswa SMA dan sederajat di berbagai daerah.

Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa materi pembelajaran matematika tidak akan diubah, meski hasil evaluasi menunjukkan capaian yang belum memuaskan.

Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Dirjen GTKPG) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani.

Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada konten materi, melainkan pada pendekatan pembelajaran yang selama ini diterapkan di sekolah.

Menurutnya, rendahnya nilai TKA Matematika SMA harus menjadi momentum evaluasi metode pengajaran, bukan alasan untuk mengubah kurikulum secara instan.

Materi Matematika SMA Dinilai Sudah Tepat

Nunuk menyampaikan bahwa materi matematika di tingkat SMA dan sederajat telah disusun berdasarkan standar kompetensi yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Oleh karena itu, Kemendikdasmen memastikan tidak akan melakukan perubahan pada substansi materi pembelajaran matematika.

Baca Juga: Update SNBP Terbaru: Peserta Diwajibkan Punya Nilai TKA, Apa Dampaknya?

“Materinya tidak salah dan tidak bisa diubah. Yang perlu ditransformasi adalah cara menyampaikan dan pendekatan pembelajarannya,” ujar Nunuk merespons hasil nilai TKA Matematika SMA jeblok pada 2025.

Ia menambahkan, selama ini matematika sering diajarkan secara langsung pada konsep abstrak, sehingga menyulitkan siswa memahami relevansinya dalam kehidupan nyata. Padahal, pendekatan kontekstual dinilai lebih efektif dalam membangun pemahaman numerasi.

Pendekatan Kehidupan Sehari-hari Jadi Kunci

Kemendikdasmen mendorong guru untuk memulai pembelajaran matematika dari konteks kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini diharapkan mampu membantu siswa melihat manfaat praktis matematika sebelum masuk ke konsep-konsep teoritis.

Menurut Nunuk, transformasi pendekatan ini menjadi kunci untuk memperbaiki capaian numerasi siswa SMA dan sederajat.

Dengan mengaitkan materi matematika pada pengalaman nyata, siswa diharapkan tidak lagi menganggap matematika sebagai pelajaran yang menakutkan.

“Matematika seharusnya dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa, baru kemudian berkembang ke konsep dan rumus,” jelasnya.

Baca Juga: Simulasi TKA SMA Sedang Berlangsung: Pahami Sistem Penilaian 0-100 dan 4 Kategori Capaian Syarat Wajib SNBP 2026

Bimtek Nasional untuk Tingkatkan Numerasi

Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen telah melaksanakan berbagai program peningkatan kompetensi guru.

Salah satunya melalui bimbingan teknis (bimtek) numerasi matematika gembira yang melibatkan ratusan fasilitator nasional dan ribuan fasilitator daerah.

Program ini diikuti oleh sekitar 300 fasilitator nasional dan 2.840 fasilitator daerah. Para fasilitator tersebut kemudian bertugas melakukan diseminasi kepada guru-guru matematika di sekolah masing-masing.

Upaya ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas pembelajaran di ruang kelas dan berdampak langsung pada peningkatan hasil TKA di masa mendatang.

Pemerintah menilai peningkatan kapasitas guru menjadi kunci dalam mengatasi persoalan nilai TKA Matematika SMA jeblok.

Stigma Matematika Sulit Masih Mengakar

Selain faktor metode pembelajaran, rendahnya numerasi siswa juga dipengaruhi oleh stigma bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit.

Hal ini turut disinggung oleh pejabat Kemendikdasmen lainnya, Mukti, yang menilai persepsi negatif terhadap matematika sudah terbentuk sejak dini.

Baca Juga: UPDATE PENTING! Kemendikdasmen Rilis Lengkap Jadwal TKA 2025 SMA/SMK dan Susulan untuk Peserta Berprestasi

Akibat stigma tersebut, banyak siswa cenderung menghindari pelajaran matematika dan sains. Untuk itu, pemerintah kini tengah menyiapkan strategi agar siswa dapat menumbuhkan minat terhadap bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Dengan pendekatan pembelajaran yang lebih menyenangkan dan relevan, Kemendikdasmen berharap siswa tidak hanya mampu meningkatkan nilai akademik, tetapi juga memiliki ketertarikan jangka panjang pada bidang sains dan teknologi.

Ke depan, pemerintah menargetkan transformasi pembelajaran matematika dapat memperbaiki capaian numerasi nasional, sekaligus menjawab tantangan rendahnya nilai TKA Matematika SMA yang menjadi perhatian publik saat ini. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tka #Nilai #Jeblok